Ahli Bongkar Misteri Kematian Massal Paus Abu-abu, Manusia Aktor Utama
CNN Indonesia
Sabtu, 21 Okt 2023 10:16 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Pakar mengungkap alasan paus abu-abu terdampar. (AFP/GUILLERMO ARIAS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pakar akhirnya berhasil mengungkap penyebab serangkaian kematian massal paus abu-abu di Samudera Pasifik. Menurut para ilmuwan, fenomena ini berkaitan dengan perubahan kondisi es laut Arktika.
Tiga peristiwa kematian telah menimpa paus abu-abu (Eschrichtius Robustus) yang hidup di lepas pantai Amerika Utara sejak tahun 1980-an. Setiap peristiwa itu menurunkan populasi paus abu-abu sebesar 15 hingga 25 persen.
Secara keseluruhan, lebih dari 2.000 paus abu-abu telah mati. Kematian massal pertama terjadi antara tahun 1987 dan 1989, yang merupakan terbesar, menewaskan sedikitnya 700 paus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, menurut penelitian tersebut, struktur pencatatan dan upaya survei yang baru berkembang pada tahun 1990-an, berarti jumlah paus terdampar terkait dengan peristiwa kematian ini mungkin terlalu rendah.
Peristiwa kedua terjadi antara tahun 1999 dan 2000, menewaskan 651 paus. Kemudian, kematian massal ketiga terjadi pada tahun 2019 dan menyebabkan lebih dari 70 paus abu-abu mati terdampar hanya dalam waktu enam bulan.
Kematian paus abu-abu masih berlangsung terhitung pada pada 26 September 2023 sudah ada 688 paus telah mati. Apa yang menyebabkan masing-masing peristiwa tersebut masih tidak jelas.
"Ini adalah perubahan populasi ekstrem yang tidak kami duga akan terjadi pada spesies besar dan berumur panjang seperti paus abu-abu," ujar penulis utama studi ini, Joshua Stewart, asisten profesor di Institut Mamalia Laut Oregon State University, mengutip Live Science.
Perburuan paus komersial hingga pertengahan abad ke-20 menyebabkan populasi paus abu-abu di Pasifik Utara hampir punah, namun sejak itu populasinya kembali pulih dan saat ini berjumlah sekitar 14.500 ekor.
Para ilmuwan sebelumnya mengira keberhasilan pemulihan ini berarti paus-paus tersebut mati secara berkala karena jumlah mereka melebihi jumlah yang dapat disediakan oleh habitat dan mangsanya.
Namun perubahan kondisi dan fluktuasi permukaan es laut di Arktik mungkin bisa menjelaskan dengan lebih baik apa yang disebut oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sebagai "peristiwa kematian yang tidak biasa," menurut studi baru yang diterbitkan pada 12 Oktober di jurnal Science.
Selain itu, lapisan es laut dan jumlah makanan yang tersedia bagi paus abu-abu dapat menentukan bagaimana keadaan populasinya.
Lapisan es yang lebih tinggi dari biasanya dalam beberapa tahun mungkin menghalangi perjalanan ke laut Bering dan Chukchi, tempat paus menghabiskan bulan-bulan musim panas dengan memakan krustasea berlemak sebelum bermigrasi lagi ke selatan.
Foto: CNN Indonesia/Agder Maulana 9 Bukti Pemanasan Global itu Nyata
Gara-gara Laut Arktika Menghilang di halaman selanjutnya...
Stewart menyebut, "Ketika ketersediaan mangsanya di Arktik rendah dan paus tidak dapat mencapai daerah mencari makan karena es laut, populasi paus abu-abu mengalami guncangan yang cepat dan besar."
Paus abu-abu dengan cepat pulih dari dua kejadian kematian pertama. Namun kematian terbaru sedang berlangsung sejak 2019 telah membawa kita ke "wilayah yang belum dipetakan," kata Stewart.
Berbeda dengan dua peristiwa sebelumnya, hilangnya es laut Arktika dalam sejarah bisa menjadi penyebab kematian paus abu-abu terbaru.
Hal ini terjadi karena es laut menampung hamparan ganggang di bagian bawahnya, yang membusuk dan menghujani dasar laut dengan makanan bagi penghuni dasar laut, termasuk krustasea yang disukai paus.
"Dengan lebih sedikit es, Anda akan mendapatkan lebih sedikit ganggang, yang berdampak buruk bagi mangsa paus abu-abu," kata Stewart.
Mencairnya es laut juga membuka jalan bagi arus kuat yang menyapu sedimen dan membuat krustasea yang hidup di dasar laut serta makhluk lainnya kehilangan tempat tinggal.
"Semua faktor ini bersatu untuk mengurangi kualitas dan ketersediaan makanan yang diandalkan oleh [paus abu-abu]," katanya.
Stewart mengungkap perubahan iklim, yang merupakan ulah aktivitas manusia seperti penggunaan BBM, bisa jadi salah satu faktor di balik angka kematian paus abu-abu ini berlangsung lebih lama dibanding dua kejadian sebelumnya.
"Apa yang kami lihat adalah perjalanan yang bergelombang sebagai respons terhadap kondisi laut yang sangat bervariasi dan berubah dengan cepat," lanjutnya.
Meskipun perubahan iklim dapat mengakibatkan berkurangnya makanan bagi paus abu-abu, namun hal ini mungkin tidak akan membuat populasi paus abu-abu di wilayah timur laut Pasifik berada dalam risiko kepunahan.
Namun "Samudra Arktik yang telah menghangat secara signifikan mungkin tidak mampu menampung 25.000 paus abu-abu seperti yang terjadi di masa lalu," ungkap Stewart.
Pakar akhirnya berhasil mengungkap penyebab serangkaian kematian massal paus abu-abu di Samudera Pasifik. Menurut para ilmuwan, fenomena ini berkaitan dengan perubahan kondisi es laut Arktika.
Tiga peristiwa kematian telah menimpa paus abu-abu (Eschrichtius Robustus) yang hidup di lepas pantai Amerika Utara sejak tahun 1980-an. Setiap peristiwa itu menurunkan populasi paus abu-abu sebesar 15 hingga 25 persen.
Secara keseluruhan, lebih dari 2.000 paus abu-abu telah mati. Kematian massal pertama terjadi antara tahun 1987 dan 1989, yang merupakan terbesar, menewaskan sedikitnya 700 paus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, menurut penelitian tersebut, struktur pencatatan dan upaya survei yang baru berkembang pada tahun 1990-an, berarti jumlah paus terdampar terkait dengan peristiwa kematian ini mungkin terlalu rendah.
Peristiwa kedua terjadi antara tahun 1999 dan 2000, menewaskan 651 paus. Kemudian, kematian massal ketiga terjadi pada tahun 2019 dan menyebabkan lebih dari 70 paus abu-abu mati terdampar hanya dalam waktu enam bulan.
Kematian paus abu-abu masih berlangsung terhitung pada pada 26 September 2023 sudah ada 688 paus telah mati. Apa yang menyebabkan masing-masing peristiwa tersebut masih tidak jelas.
"Ini adalah perubahan populasi ekstrem yang tidak kami duga akan terjadi pada spesies besar dan berumur panjang seperti paus abu-abu," ujar penulis utama studi ini, Joshua Stewart, asisten profesor di Institut Mamalia Laut Oregon State University, mengutip Live Science.
Perburuan paus komersial hingga pertengahan abad ke-20 menyebabkan populasi paus abu-abu di Pasifik Utara hampir punah, namun sejak itu populasinya kembali pulih dan saat ini berjumlah sekitar 14.500 ekor.
Para ilmuwan sebelumnya mengira keberhasilan pemulihan ini berarti paus-paus tersebut mati secara berkala karena jumlah mereka melebihi jumlah yang dapat disediakan oleh habitat dan mangsanya.
Namun perubahan kondisi dan fluktuasi permukaan es laut di Arktik mungkin bisa menjelaskan dengan lebih baik apa yang disebut oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sebagai "peristiwa kematian yang tidak biasa," menurut studi baru yang diterbitkan pada 12 Oktober di jurnal Science.
Selain itu, lapisan es laut dan jumlah makanan yang tersedia bagi paus abu-abu dapat menentukan bagaimana keadaan populasinya.
Lapisan es yang lebih tinggi dari biasanya dalam beberapa tahun mungkin menghalangi perjalanan ke laut Bering dan Chukchi, tempat paus menghabiskan bulan-bulan musim panas dengan memakan krustasea berlemak sebelum bermigrasi lagi ke selatan.
Foto: CNN Indonesia/Agder Maulana 9 Bukti Pemanasan Global itu Nyata
Gara-gara Laut Arktika Menghilang di halaman selanjutnya...
Diduga Gara-gara Laut Arktika Menghilang
Paus terdampar di Inggris, Juli. Fenomena ini masih jadi misteri. (Cristina McAvoy via REUTERS/CRISTINA MCAVOY)
Stewart menyebut, "Ketika ketersediaan mangsanya di Arktik rendah dan paus tidak dapat mencapai daerah mencari makan karena es laut, populasi paus abu-abu mengalami guncangan yang cepat dan besar."
Paus abu-abu dengan cepat pulih dari dua kejadian kematian pertama. Namun kematian terbaru sedang berlangsung sejak 2019 telah membawa kita ke "wilayah yang belum dipetakan," kata Stewart.
Berbeda dengan dua peristiwa sebelumnya, hilangnya es laut Arktika dalam sejarah bisa menjadi penyebab kematian paus abu-abu terbaru.
Hal ini terjadi karena es laut menampung hamparan ganggang di bagian bawahnya, yang membusuk dan menghujani dasar laut dengan makanan bagi penghuni dasar laut, termasuk krustasea yang disukai paus.
"Dengan lebih sedikit es, Anda akan mendapatkan lebih sedikit ganggang, yang berdampak buruk bagi mangsa paus abu-abu," kata Stewart.
Mencairnya es laut juga membuka jalan bagi arus kuat yang menyapu sedimen dan membuat krustasea yang hidup di dasar laut serta makhluk lainnya kehilangan tempat tinggal.
"Semua faktor ini bersatu untuk mengurangi kualitas dan ketersediaan makanan yang diandalkan oleh [paus abu-abu]," katanya.
Stewart mengungkap perubahan iklim, yang merupakan ulah aktivitas manusia seperti penggunaan BBM, bisa jadi salah satu faktor di balik angka kematian paus abu-abu ini berlangsung lebih lama dibanding dua kejadian sebelumnya.
"Apa yang kami lihat adalah perjalanan yang bergelombang sebagai respons terhadap kondisi laut yang sangat bervariasi dan berubah dengan cepat," lanjutnya.
Meskipun perubahan iklim dapat mengakibatkan berkurangnya makanan bagi paus abu-abu, namun hal ini mungkin tidak akan membuat populasi paus abu-abu di wilayah timur laut Pasifik berada dalam risiko kepunahan.
Namun "Samudra Arktik yang telah menghangat secara signifikan mungkin tidak mampu menampung 25.000 paus abu-abu seperti yang terjadi di masa lalu," ungkap Stewart.