Pakta Iklim Sharm el-Sheikh Disorot Jelang COP28, Apa Pentingnya?
CNN Indonesia
Kamis, 30 Nov 2023 14:14 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Kerja sama Sharm el-Sheikh mendapat sorotan khusus pada COP28 tahun ini. (Foto: AP/Matthias Schrader)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kerja sama terkait iklim, Sharm el-Sheikh mendapat sorotan khusus pada COP28 yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab tahun ini. Lalu, apa saja isi kesepakatan perjanjian tersebut?
Kerja sana Sharm el-Sheikh merupakan perjanjian iklim global baru yang disepakati pada COP27 tahun lalu. Perjanjian ini mencakup komitmen bersejarah dari negara-negara kaya untuk memberikan dana kepada negara-negara berkembang guna membantu mereka pulih dari kerusakan dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung.
Namun, ada juga kekecewaan yang diungkapkan oleh beberapa pemimpin dunia karena tidak ada kesepakatan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana tersebut, meskipun tidak mengikat secara hukum, telah memberikan ambisi baru bagi negara-negara di dunia dalam hal perubahan iklim, mengutip BBC.
Untuk kali pertama, negara-negara sepakat membentuk dana "kerugian dan kerusakan". Ini akan menjadi dana untuk membantu negara-negara miskin pulih dari dampak perubahan iklim.
Sebelumnya, negara-negara ini hanya menerima dana untuk mitigasi, upaya untuk beralih dari bahan bakar fosil dan adaptasi. Ini adalah dana untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim di masa depan.
Masalah kerugian dan kerusakan telah menjadi sangat kontroversial. Negara-negara kaya sebelumnya tidak ingin menyetujui dana baru karena mereka berpikir bahwa dana tersebut akan membuat mereka bertanggung jawab untuk menanggung semua kerugian ekonomi akibat perubahan iklim.
Setelah lima kali negosiasi, negara-negara sepakat bahwa dana tersebut akan dikelola oleh Bank Dunia, namun nilai total dana dan jumlah yang akan dikontribusikan oleh negara-negara maju masih belum final. Diharapkan rincian ini akan disepakati di COP28.
Penggunaan bahan bakar fosil
Dua tahun lalu di COP26, di Glasgow, negara-negara sepakat untuk "mengurangi penggunaan batu bara". Langkah selanjutnya adalah negara-negara menyetujui komitmen untuk mengurangi penggunaan minyak dan gas, namun hal ini tidak terwujud pada COP27.
Sebaliknya, negara-negara berkomitmen untuk "meningkatkan bauran energi bersih, termasuk energi rendah emisi dan energi terbarukan".
Namun, frasa "energi rendah emisi" telah menimbulkan kekhawatiran. Frasa ini belum didefinisikan secara formal, dan ada kekhawatiran bahwa frasa ini dapat membuka pintu bagi pengembangan gas, karena pembakaran gas menghasilkan emisi yang lebih sedikit dibandingkan bahan bakar fosil lainnya seperti batu bara.
Badan perubahan iklim independen Inggris, UKCCC, menyimpulkan bahwa telah terjadi "kemajuan yang terbatas dalam ambisi untuk mengurangi emisi".
Presiden COP tahun ini, Sultan Al Jaber mengatakan pengurangan bahan bakar fosil "tidak dapat dihindari" dan bahwa pertemuan tahun ini akan mempercepat perluasan energi terbarukan dan penangkapan karbon untuk mencapainya.
Solusi berbasis alam
Untuk pertama kalinya, perjanjian utama memiliki bagian khusus tentang hutan dan "solusi berbasis alam". Ini adalah langkah-langkah yang bertujuan melindungi atau meningkatkan lingkungan yang juga memiliki manfaat bagi iklim, misalnya merestorasi hutan bakau.
Dengan memasukkan bagian baru ini, para pemimpin negara sepakat bahwa perubahan iklim dan upaya untuk melindungi tanaman dan hewan harus saling melengkapi dan tidak bertentangan.
Kerja sama Sharm el-Sheikh juga sangat relevan tahun ini karena pangan dan pertanian jadi tema utama dalam COP28.
9 Bukti Pemanasan Global itu Nyata (Foto: CNN Indonesia/Agder Maulana)
Soal perdagangan karbon di halaman berikutnya...
"Mentransformasi sistem pangan untuk merespons dampak iklim dan menjaga agar 1,5C tetap berada dalam jangkauan adalah landasan dari agenda COP28 dan fokusnya pada pertumbuhan, mata pencaharian, dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Kepresidenan COP28 telah meminta pemerintah untuk memastikan sistem pangan dan pertanian menjadi pusat dari aksi iklim," ujar Imelda Bacudo, Penasihat Senior untuk Sistem Pangan, Kepresidenan COP 28 UEA.
"Keputusan positif mengenai kerja bersama Sharm el-Sheikh di COP28 akan mengirimkan sinyal penting kepada dunia mengenai peran penting yang dapat dimainkan oleh sistem pertanian dalam memberikan mitigasi dan adaptasi yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan planet ini," tambahnya, mengutip laman resmi FAO.
Membeli lebih sedikit barang
Saat ini, negara-negara menghitung total emisi mereka dan menetapkan target berdasarkan apa yang mereka hasilkan di dalam wilayah mereka, seperti dari produksi listrik atau pembakaran bahan bakar.
Ini berarti mereka tidak menghitung emisi dari barang dan jasa yang diproduksi oleh negara lain untuk mereka. Hal ini terlepas dari fakta bahwa negara-negara maju mengimpor produk manufaktur dalam jumlah besar.
Jika emisi "berbasis konsumsi" ini dihitung, maka jejak karbon Inggris akan meningkat dua kali lipat. Untuk pertama kalinya dalam perjanjian iklim global, negara-negara mengakui "pentingnya transisi ke pola konsumsi yang berkelanjutan".
Perdagangan karbon
Pada tahun 2021 di COP6 di Glasgow, negara-negara sepakat untuk membentuk pasar global untuk perdagangan karbon. Sederhananya, ini berarti bahwa negara atau perusahaan yang menghasilkan emisi lebih sedikit daripada target mereka dapat "menjual" karbon sebagai kredit kepada negara atau perusahaan lain yang telah menghasilkan terlalu banyak emisi.
Meskipun aturan dasar untuk pasar ini telah disepakati sebelum Mesir, masih ada banyak masalah yang belum terselesaikan.
Yang paling utama adalah apa yang dapat dihitung sebagai kredit karbon. Sebagai contoh, jika sebuah negara menanam banyak pohon yang menyerap karbon dioksida, apakah mereka dapat menjualnya?
Sekelompok kecil negara telah membahas masalah ini selama setahun terakhir dan mempresentasikan rekomendasi mereka di Sharm el-Sheikh.
Namun, banyak pengamat dan pemerintah yang tidak senang.
Teresa Anderson, Pemimpin Keadilan Iklim di Action Aid International, mengatakan kepada BBC bahwa ada kekhawatiran bahwa hak-hak masyarakat adat tidak akan terlindungi.
"Anda dapat membuat klaim yang sangat lemah tentang produk Anda - bahwa produk tersebut akan menghilangkan karbon dari atmosfer dengan cara tertentu, namun hal tersebut dapat berupa perkebunan pohon yang mengambil lahan dari masyarakat," kata Teresa.
Kerja sama terkait iklim, Sharm el-Sheikh mendapat sorotan khusus pada COP28 yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab tahun ini. Lalu, apa saja isi kesepakatan perjanjian tersebut?
Kerja sana Sharm el-Sheikh merupakan perjanjian iklim global baru yang disepakati pada COP27 tahun lalu. Perjanjian ini mencakup komitmen bersejarah dari negara-negara kaya untuk memberikan dana kepada negara-negara berkembang guna membantu mereka pulih dari kerusakan dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung.
Namun, ada juga kekecewaan yang diungkapkan oleh beberapa pemimpin dunia karena tidak ada kesepakatan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana tersebut, meskipun tidak mengikat secara hukum, telah memberikan ambisi baru bagi negara-negara di dunia dalam hal perubahan iklim, mengutip BBC.
Untuk kali pertama, negara-negara sepakat membentuk dana "kerugian dan kerusakan". Ini akan menjadi dana untuk membantu negara-negara miskin pulih dari dampak perubahan iklim.
Sebelumnya, negara-negara ini hanya menerima dana untuk mitigasi, upaya untuk beralih dari bahan bakar fosil dan adaptasi. Ini adalah dana untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim di masa depan.
Masalah kerugian dan kerusakan telah menjadi sangat kontroversial. Negara-negara kaya sebelumnya tidak ingin menyetujui dana baru karena mereka berpikir bahwa dana tersebut akan membuat mereka bertanggung jawab untuk menanggung semua kerugian ekonomi akibat perubahan iklim.
Setelah lima kali negosiasi, negara-negara sepakat bahwa dana tersebut akan dikelola oleh Bank Dunia, namun nilai total dana dan jumlah yang akan dikontribusikan oleh negara-negara maju masih belum final. Diharapkan rincian ini akan disepakati di COP28.
Penggunaan bahan bakar fosil
Dua tahun lalu di COP26, di Glasgow, negara-negara sepakat untuk "mengurangi penggunaan batu bara". Langkah selanjutnya adalah negara-negara menyetujui komitmen untuk mengurangi penggunaan minyak dan gas, namun hal ini tidak terwujud pada COP27.
Sebaliknya, negara-negara berkomitmen untuk "meningkatkan bauran energi bersih, termasuk energi rendah emisi dan energi terbarukan".
Namun, frasa "energi rendah emisi" telah menimbulkan kekhawatiran. Frasa ini belum didefinisikan secara formal, dan ada kekhawatiran bahwa frasa ini dapat membuka pintu bagi pengembangan gas, karena pembakaran gas menghasilkan emisi yang lebih sedikit dibandingkan bahan bakar fosil lainnya seperti batu bara.
Badan perubahan iklim independen Inggris, UKCCC, menyimpulkan bahwa telah terjadi "kemajuan yang terbatas dalam ambisi untuk mengurangi emisi".
Presiden COP tahun ini, Sultan Al Jaber mengatakan pengurangan bahan bakar fosil "tidak dapat dihindari" dan bahwa pertemuan tahun ini akan mempercepat perluasan energi terbarukan dan penangkapan karbon untuk mencapainya.
Solusi berbasis alam
Untuk pertama kalinya, perjanjian utama memiliki bagian khusus tentang hutan dan "solusi berbasis alam". Ini adalah langkah-langkah yang bertujuan melindungi atau meningkatkan lingkungan yang juga memiliki manfaat bagi iklim, misalnya merestorasi hutan bakau.
Dengan memasukkan bagian baru ini, para pemimpin negara sepakat bahwa perubahan iklim dan upaya untuk melindungi tanaman dan hewan harus saling melengkapi dan tidak bertentangan.
Kerja sama Sharm el-Sheikh juga sangat relevan tahun ini karena pangan dan pertanian jadi tema utama dalam COP28.
9 Bukti Pemanasan Global itu Nyata (Foto: CNN Indonesia/Agder Maulana)
Soal perdagangan karbon di halaman berikutnya...
Soroti Perdagangan Karbon
Ilustrasi. Kerja sama Sharm el-Sheikh mendapat sorotan khusus pada COP28 tahun ini. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Mentransformasi sistem pangan untuk merespons dampak iklim dan menjaga agar 1,5C tetap berada dalam jangkauan adalah landasan dari agenda COP28 dan fokusnya pada pertumbuhan, mata pencaharian, dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Kepresidenan COP28 telah meminta pemerintah untuk memastikan sistem pangan dan pertanian menjadi pusat dari aksi iklim," ujar Imelda Bacudo, Penasihat Senior untuk Sistem Pangan, Kepresidenan COP 28 UEA.
"Keputusan positif mengenai kerja bersama Sharm el-Sheikh di COP28 akan mengirimkan sinyal penting kepada dunia mengenai peran penting yang dapat dimainkan oleh sistem pertanian dalam memberikan mitigasi dan adaptasi yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan planet ini," tambahnya, mengutip laman resmi FAO.
Membeli lebih sedikit barang
Saat ini, negara-negara menghitung total emisi mereka dan menetapkan target berdasarkan apa yang mereka hasilkan di dalam wilayah mereka, seperti dari produksi listrik atau pembakaran bahan bakar.
Ini berarti mereka tidak menghitung emisi dari barang dan jasa yang diproduksi oleh negara lain untuk mereka. Hal ini terlepas dari fakta bahwa negara-negara maju mengimpor produk manufaktur dalam jumlah besar.
Jika emisi "berbasis konsumsi" ini dihitung, maka jejak karbon Inggris akan meningkat dua kali lipat. Untuk pertama kalinya dalam perjanjian iklim global, negara-negara mengakui "pentingnya transisi ke pola konsumsi yang berkelanjutan".
Perdagangan karbon
Pada tahun 2021 di COP6 di Glasgow, negara-negara sepakat untuk membentuk pasar global untuk perdagangan karbon. Sederhananya, ini berarti bahwa negara atau perusahaan yang menghasilkan emisi lebih sedikit daripada target mereka dapat "menjual" karbon sebagai kredit kepada negara atau perusahaan lain yang telah menghasilkan terlalu banyak emisi.
Meskipun aturan dasar untuk pasar ini telah disepakati sebelum Mesir, masih ada banyak masalah yang belum terselesaikan.
Yang paling utama adalah apa yang dapat dihitung sebagai kredit karbon. Sebagai contoh, jika sebuah negara menanam banyak pohon yang menyerap karbon dioksida, apakah mereka dapat menjualnya?
Sekelompok kecil negara telah membahas masalah ini selama setahun terakhir dan mempresentasikan rekomendasi mereka di Sharm el-Sheikh.
Namun, banyak pengamat dan pemerintah yang tidak senang.
Teresa Anderson, Pemimpin Keadilan Iklim di Action Aid International, mengatakan kepada BBC bahwa ada kekhawatiran bahwa hak-hak masyarakat adat tidak akan terlindungi.
"Anda dapat membuat klaim yang sangat lemah tentang produk Anda - bahwa produk tersebut akan menghilangkan karbon dari atmosfer dengan cara tertentu, namun hal tersebut dapat berupa perkebunan pohon yang mengambil lahan dari masyarakat," kata Teresa.