icon-close
Foto udara kondisi Perumahan Tahap III Sriwulan terisolasi ketika air pasang tinggi merendam akses jalan keluar-masuk perumahan di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (4/6). ANTARA FOTO/Aji Styawan
Foto udara kendaraan bermotor melaju perlahan menembus jalan raya pantura Demak KM Surabaya-Semarang di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (4/6). ANTARA FOTO/Aji Styawan
Kabupaten Demak terancam hilang tenggelam oleh air laut pada 2030 akibat terdampak abrasi, penurunan permukaan tanah disertai banjir limpahan air laut ke daratan (rob) dampak dari krisis iklim. ANTARA FOTO/Aji Styawan
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), hutan mangrove Indonesia seluas 3,44 juta hektare atau 23 persen dari total 14,7 juta hektare mangrove di dunia setiap tahunnya kehilangan mangrove sekitar 19.501 hektare, di antaranya karena ancaman alih fungsi lahan, penebangan liar, polusi limbah, polusi plastik, kenaikan permukaan lautan, perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu akibat krisis iklim. ANTARA FOTO/Aji Styawan
Masyarakat setempat sudah resah dengan kenaikan permukaan lautan, perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu akibat krisis iklim. ANTARA FOTO/Aji Styawan
Perbedaan permukaan laut sudah 'menelan' rumah warga setempat. ANTARA FOTO/Aji Styawan
Foto udara vegetasi pohon mangrove sebagai tameng terakhir pelindung permukiman warga dari hantaman abrasi air laut di Dukuh Bedono, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah Rabu (4/6). ANTARA FOTO/Aji Styawan
Pohon mangrove yang mati meranggas di pesisir Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah karena alih fungsi lahan, penebangan liar, polusi limbah, polusi plastik, kenaikan permukaan lautan, perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu akibat krisis iklim. ANTARA FOTO/Aji Styawan
icon-chevron-left
icon-chevron-right