3 dari 10 Orang RI Curhat ke AI Saat Sedih, Simak Bahayanya

CNN Indonesia
Senin, 05 Jan 2026 18:00 WIB
Survei Kaspersky menunjukkan 31% orang Indonesia menggunakan AI sebagai pendamping emosional. Waspadai bahaya curhat ke AI dan pentingnya privasi data.
Ilustrasi. Survei Kaspersky menunjukkan 31% orang Indonesia menggunakan AI sebagai pendamping emosional. Waspadai bahaya curhat ke AI dan pentingnya privasi data. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil survei terbaru dari Kaspersky menunjukkan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai pendamping emosional. Simak bahayanya.

Dalam survei global Kaspersky yang melibatkan ribuan responden dari sejumlah negara, Indonesia mencatat angka cukup tinggi dalam penggunaan AI sebagai pendamping emosional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei Kaspersky mengungkap sebanyak 31 persen pengguna AI di Indonesia mempertimbangkan berbicara dengan AI ketika sedang sedih, lebih tinggi dibanding rata-rata global sebesar 29 persen.

Menurut Kaspersky tren penggunaan AI sebagai pendamping emosional ini banyak dilakukan oleh Generasi Z dan milenial. Mereka terbiasa menjadikan teknologi AI sebagai kehidupan sehari-hari.

"Generasi Z dan millennial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35 persen responden memilih opsi ini," ujar Kaspersky, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/1).

Sementara, generasi yang lebih tua cenderung menunjukkan minat lebih rendah. Menurut survei Kaspersky, hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI ketika mereka kesal.

Bahaya curhat ke AI

Kemampuan teknologi AI merespons secara personal membuatnya terasa seperti sahabat dekat. Mereka seakan mampu memberikan saran yang tepat bagi pengguna, memberi kalimat-kalimat penyemangat, sebagaimana sosok sahabat dekat.

Meskipun komunikasi dengan AI mungkin tampak personal dan pribadi, tapi penting diingat bahwa sebagian besar chatbot dari perusahaan komersial memiliki kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data mereka sendiri. Oleh karena itu, pengguna harus berhati-hati dalam menyampaikan curhatannya ke AI.

"Penting untuk diingat bahwa mereka belajar memberikan jawaban dari data, yang sebagian besar bersumber dari Internet, artinya mereka rentan untuk mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan. Sangat disarankan untuk merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba untuk menghindari berbagi informasi secara berlebihan," kata Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.

Menurut para pakar di Kaspersky, ada beberapa kiat keamanan yang dapat meningkatkan privasi data pengguna selama bercerita dengan AI.

Pertama, sebelum memulai percakapan apa pun, tinjau kebijakan privasi alat AI yang digunakan. Menurut Kaspersky beberapa penyedia AI menggunakan percakapan emosional untuk menyimpulkan informasi tentang pengguna, yang dapat digunakan untuk iklan bertarget atau bahkan dijual kepada perusahaan pemasaran pihak ketiga.

Kedua, hindari berbagi informasi yang sangat pribadi, identitas, atau keuangan dengan chatbot AI.

Ketiga, gunakan layanan AI dari perusahaan terkemuka dengan rekam jejak privasi keamanan yang kuat. Hindari menggunakan bot anonim atau tidak dikenal yang mungkin dirancang untuk mengumpulkan data. 

(dmi/dmi)


[Gambas:Video CNN]