Remaja 15 Tahun Raih Gelar Doktor Fisika, Mau Bikin Manusia Super

CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 16:30 WIB
Remaja laki-laki berusia 15 tahun asal Belgia berhasil meraih gelar doktor (PhD) di bidang fisika kuantum hingga membuat dirinya dijuluki 'Einstein Kecil'.
Ilustrasi. Remaja laki-laki berusia 15 tahun asal Belgia berhasil meraih gelar doktor (PhD) di bidang fisika kuantum hingga membuat dirinya dijuluki 'Einstein Kecil' (Foto: iStock/nirat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun asal Belgia berhasil meraih gelar doktor (PhD) di bidang fisika kuantum dari University of Antwerp. Pencapaian ini pun membuat dirinya dijuluki 'Einstein Kecil Belgia'.

Remaja bernama Laurent Simons itu menjalani sidang terbuka dan mempertahankan tesisnya pada 17 November 2025. Ia disebut sebagai penerima gelar doktor termuda dalam sejarah negara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian Simons berfokus pada polarons Bose, partikel impuritas yang bergerak dan dipengaruhi oleh partikel di sekitarnya, dalam superfluida dan supersolid. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Physical Review X.

Risetnya membahas perilaku ketidakmurnian dalam supersolid dipolar satu dimensi menggunakan pendekatan variational untuk memetakan energi, ukuran, dan dinamika partikel pada kondisi ultra-dingin.

Supersolid merupakan fase materi unik yang menggabungkan keteraturan kristal dengan kemampuan mengalir tanpa hambatan.

Melansir Science Alert, Laurent mulai bersekolah di sekolah dasar pada usia empat tahun, dan menyelesaikan pendidikannya pada usia enam tahun. Pada usia 12 tahun, ia telah memperoleh gelar Master dalam fisika kuantum dan sedang meneliti boson dan lubang hitam.

Laurent disebut memiliki memori fotografis dan IQ 145, status yang hanya dicapai oleh sekitar 0,1 persen orang.

Dia mengaku setelah pencapaian ini dirinya akan melakukan riset lanjutan mengenai perpanjangan usia sehat manusia.

Ide ini muncul setelah dirinya kehilangan kakek-neneknya pada usia 11 tahun, Laurent mengatakan ia menargetkan tujuan yang lebih mulia daripada gelar PhD.

"Setelah ini, saya akan mulai bekerja mengejar tujuan saya: menciptakan 'manusia super'," kata Laurent, mengutip Earth.

Sebelum meraih gelar doktor, ia sempat menjalani magang di laboratorium Munich untuk mempelajari optik kuantum, dan mulai menautkan fisika dengan aplikasi klinis.

Setelah sidang tesisnya, ia kembali ke Munich untuk memulai program doktoral kedua dalam ilmu kedokteran dengan fokus pada kecerdasan buatan. Bidang ini memanfaatkan Ai untuk membaca sinyal biologis, membuka peluang deteksi dini penyakit hingga personalisasi terapi.

Pengembangan teknologi longevity atau peningkatan harapan hidup memerlukan bukti klinis yang ketat, pemeriksaan keamanan yang cermat, dan langkah-langkah bertahap, bukan janji yang melampaui batas biologi.

Oleh karena itu, rencananya kemungkinan akan melewati tonggak pencapaian yang terukur, mulai dari algoritma skrining yang lebih baik hingga jalur pengujian obat yang lebih cerdas.

Model medis dapat mengalami overfitting, sehingga validasi eksternal, dataset yang bersih, dan pemeriksaan bias akan menentukan keberhasilan atau kegagalan hasil.

Dia akan membutuhkan kolaborator di bidang ilmu klinis yang mampu merumuskan pertanyaan dan menerjemahkan sinyal menjadi perawatan yang teruji.

Pelatihan dalam pengukuran presisi, ketidakpastian, dan pemodelan memberikan alat yang kokoh untuk menangani data biologis yang berisik. Di situlah kebiasaan fisika, seperti kalibrasi dan kontrol, benar-benar mulai berperan dengan baik.

(wpj/dmi)


[Gambas:Video CNN]