Isu Krisis Memori dan Harga Naik, HP Ini Diprediksi Malah Laris 2026
Firma riset IDC memperkirakan terjadi kenaikan signifikan di pasar ponsel lipat pada 2026, mencapai 29,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025, angka pengapalan ponsel lipat sendiri diperkirakan tumbuh 10 persen YoY menjadi 20,6 juta unit.
Di tengah krisis memori yang memicu kenaikan harga, pertumbuhan pasar ponsel lipat malah diperkirakan meningkat. IDC menyebut salah satu pemicunya adalah kehadiran iPhone lipat dari Apple dan model baru Samsung, Galaxy Z Trifold.
"Tahun depan akan menjadi tahun yang menarik bagi kategori perangkat lipat, dengan peluncuran produk baru yang akan mendorong pertumbuhan pasar sebesar 30 persen secara tahunan (YoY) dari hanya 6 persen dalam perkiraan sebelumnya," kata Nabila Popal, Direktur Riset Senior di IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker pada Selasa (9/12), dikutip dari laman IDC.
"Samsung akan memulai tahun 2026 dengan Galaxy Z Trifold, memperkenalkan inovasi lipat tiga kepada konsumen global, memanfaatkan momentum kesuksesan Galaxy Z Fold7 pada tahun 2025. Perangkat lipat Huawei yang menggunakan HarmonyOS Next juga akan mengalami pertumbuhan kuat, dengan pengiriman diperkirakan hampir dua kali lipat pada tahun 2026," tambahnya.
Ia menyebut perubahan besar dalam kategori ponsel lipat akan terjadi pada akhir tahun ketika Apple masuk ke pasar ini. Apple diperkirakan akan menguasai lebih dari 22 persen pangsa pasar unit dan 34 persen nilai pasar lipat pada tahun pertamanya, berkat harga rata-rata yang diperkirakan mencapai US$2.400 atau sekitar Rp40,6 juta.
Wakil Presiden Perangkat Klien di IDC Francisco Jeronimo menyebut peluncuran ponsel lipat Apple akan menjadi titik balik pada segmen tersebut.
"Langkah ini kemungkinan besar akan meningkatkan kesadaran kategori dan mendorong minat konsumen. Apple cenderung menjadi katalisator untuk adopsi massal kategori baru," tuturnya.
"Meskipun perangkat lipat akan tetap menjadi segmen niche dari segi volume, perangkat ini akan menjadi pendorong nilai yang relevan bagi sebagian besar vendor yang menawarkan perangkat lipat, karena harga jual rata-rata akan tiga kali lipat lebih tinggi daripada smartphone standar," imbuhnya.
Krisis memori dan kenaikan harga
Krisis memori dan kenaikan harga menjadi salah satu sorotan dalam industri gadget, tak terkecuali smartphone. Salah satu pabrikan yang telah mengakui bakal menaikkan harga adalah Nothing.
Carl Pei, CEO dan pendiri Nothing, menjelaskan masalah industri teknologi ini dalam sebuah unggahan di X yang diberi judul "Mengapa Ponsel Pintar Anda Berikutnya Akan Lebih Mahal."
Ia menyebut perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) "secara fundamental mengubah permintaan" untuk memori.
"Selama lima belas tahun, industri smartphone bergantung pada satu asumsi yang dapat diandalkan: komponen akan semakin murah seiring waktu. Meskipun ada fluktuasi jangka pendek, tren penurunan jangka panjang dalam biaya memori dan layar memungkinkan peningkatan spesifikasi tahunan tanpa kenaikan harga," katanya di X, Rabu (14/1).
"Pada tahun 2026, model tersebut akhirnya runtuh, didorong oleh lonjakan tajam dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam harga memori," tambahnya.
Dalam beberapa kasus, kata Pei, harga memori telah meningkat hingga tiga kali lipat. Peningkatan harga ini bahkan diperkirakan akan terus berlanjut.
Perkiraan menunjukkan bahwa modul memori yang harganya kurang dari US$20 setahun yang lalu dapat melebihi US$100 pada akhir tahun ini untuk model-model kelas atas.
"Merek kini dihadapkan pada pilihan sederhana: menaikkan harga, hingga 30 persen atau lebih dalam beberapa kasus, atau menurunkan spesifikasi produk," terangnya.
Menurutnya, model yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga murah tidak lagi berkelanjutan pada tahun 2026.
Akibatnya, beberapa pasar, terutama segmen entry dan mid-tier, diperkirakan akan menyusut hingga 20 persen atau lebih, dan merek yang secara historis mendominasi segmen-segmen ini akan mengalami kesulitan.
(lom/fea)