Benarkah OMC Bikin Cuaca Tidak Stabil? Ini Penjelasan BMKG

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 20:21 WIB
Ilustrasi. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan untuk mitigasi bencana. BMKG menegaskan OMC bukan pemicu cuaca tidak stabil, melainkan upaya perlindungan masyarakat. (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menekan curah hujan terus dilakukan di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah pihak pun beranggapan modifikasi cuaca ini justru akan menjadi 'bom waktu' dan membuat cuaca menjadi tidak stabil.

Di media sosial ramai beredar narasi bahwa jika dilakukan terus menerus, OMC memiliki risiko dan seperti 'bom waktu'. Dalam narasi yang beredar, OMC memiliki risiko bencana lain seperti membuat kondisi cuaca tidak stabil serta membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman yang palsu.

Lantas, benarkah anggapan tersebut?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca yang dilakukan merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.

Dalam konteks cold pool, BMKG menegaskan bahwa ini merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami.

"Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan," kata BMKG dalam keterangan resminya, Rabu (28/1).

Menurut BMKG, setiap terjadi hujan secara alami, cold pool pasti terbentuk secara alami. Oleh sebab itu, mengaitkan fenomena ini sebagai efek samping yang berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains.

BMKG menjelaskan modifikasi cuaca dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam.

"BMKG menegaskan bahwa implementasi OMC bertujuan murni untuk mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan, bukan pemicu cuaca tidak stabil," ujarnya.

Lebih lanjut, jika modifikasi cuaca berhasil mempercepat turunnya hujan secara logis akan membentuk cold pool yang identik secara fisik maupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami.

Menurut BMKG, jika ditinjau dari skala energi, teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar. Melalui modifikasi cuaca, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh, seperti yang dilakukan melalui modifikasi cuaca di Indonesia, alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa.

Perlunya penataan lingkungan

Selain isu mengenai cold pool, di media sosial juga ramai narasi bahwa modifikasi cuaca hanya memindahkan hujan ke wilayah lain yang berpotensi membuat banjir. Namun, benarkah demikian?

BMKG menjelaskan dua metode utama yang digunakan untuk melindungi wilayah strategis. Pertama, Jumping Process Method, di mana tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudra Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.

Kedua, Competition Method ialah awan yang tumbuh langsung di atas daratan (in-situ), penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan (tidak menghilangkan) agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif.

"Hal ini dilakukan untuk meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya ke pemukiman lain," ujar BMKG.

Meskipun demikian, BMKG menyepakati bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir. Pun, fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir.

Oleh karenanya, BMKG sepakat bahwa penataan lingkungan sebagai respons terhadap penanganan banjir menjadi hal paling utama yang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat secara keseluruhan.

Namun demikian, menurut BMKG, pada saat bersamaan secara paralel juga diperlukan upaya mengurangi curah hujan seperti OMC agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini.

BMKG menyebut ke depan, penataan lingkungan harus terus dilakukan dan penguatan kapasitas modifikasi cuaca juga harus ditingkatkan. Karena tantangan perubahan iklim bukanlah isapan jempol karena potensi terjadinya hujan ekstrem juga akan terus meningkat.

"Pun, tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi atau membahayakan warga. OMC adalah alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan," tutupnya.

(dmi/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK