Sampai Kapan La Nina Bikin Basah Indonesia? Simak Prediksinya

CNN Indonesia
Jumat, 30 Jan 2026 08:15 WIB
Ilustrasi. Hujan lebat di Indonesia dipicu fenomena La Nina. BMKG prediksi kondisi normal kembali pada April 2026, meski potensi cuaca ekstrem tetap ada. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hujan dengan intensitas lebat bahkan ekstrem, yang dampaknya menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, masih terus mengguyur sejumlah wilayah Indonesia.

Salah satu pemicu hujan lebat di Indonesia ini adalah aktifnya fenomena iklim La Nina. Fenomena ini menyebabkan curah hujan di suatu kawasan turun secara berlebihan.

Lantas, sampai kapan fenomena La Nina pengaruhi cuaca ekstrem di Indonesia?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi iklim di Tanah Air akan kembali normal mulai April. BMKG memperkirakan fenomena La Nina lemah yang terjadi saat ini tak akan berkembang menjadi kuat.

"La Nina lemah itu kan dipantau dari Nino 3.4 ya, yang ada di perairan Pasifik. Nah ini, La Nina ini nanti akan terus melemah hingga sampai bulan Maret. Ini berdasarkan prakiraan iklimnya," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani seusai rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1), melansir Detik.

Ia menjelaskan setelah La Nina melemah, kondisi iklim diprediksi normal pada April hingga akhir tahun. Setelah itu, pengaruh El Nino maupun La Nina akan hilang.

"Pada bulan April hingga akhir tahun itu cenderung dalam kondisi normal, ya tidak ada El Nino, tidak ada La Nina, jadi normal," ujar dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan musim hujan di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat diprediksi berakhir pada akhir Februari hingga Maret. Kemudian, musim kemarau akan dimulai pada April.

"Kalau di daerah yang dimaksud Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, itu berakhir kira-kira nanti di sekitar Februari sampai Maret," jelasnya.

"Nanti bulan April, Mei, Juni, hingga nanti September itu masuk ke musim kemarau. Baru musim hujan kembali dimulai di Oktober," lanjut Faisal.

Berdasarkan hasil pemantauan dinamika laut dan atmosfer global, BMKG menyebut La Nina lemah yang saat ini memengaruhi Indonesia diperkirakan berakhir pada akhir kuartal pertama 2026.

BMKG, dalam Climate Outlook 2026, mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret. Kemudian, mulai Maret-April-Mei, La Nina diprediksi beralih menuju fase netral.

BMKG menegaskan bahwa El Nino, fenomena iklim kebalikannya La Nina, tidak akan mampir di Indonesia, seperti yang terjadi pada 2023-2024. Dampaknya, suhu udara nasional pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibanding 2024 dan berada dalam rentang yang sudah sering terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

BMKG mengingatkan bahwa meski pengaruh La Nina melemah, potensi cuaca ekstrem tetap ada, terutama pada periode Januari-Maret 2026 yang bertepatan dengan puncak musim hujan.

Karena itu, BMKG tengah memperkuat sistem peringatan dini berbasis dampak (impact-based forecasting) agar informasi cuaca tidak hanya menyebutkan intensitas hujan, tetapi juga potensi risikonya.

BMKG menegaskan, tantangan terbesar bukan hanya fenomena El Nino atau La Nina, melainkan perubahan iklim jangka panjang yang ditandai tren kenaikan suhu dan kelembapan udara.

(dmi/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK