Heboh Awan Aneh Muncul di Gunung Ile Lewotolok, Bahaya untuk Pesawat

CNN Indonesia
Jumat, 30 Jan 2026 11:00 WIB
Awan melingkar dan bertumpuk muncul jelas di puncak Gunung Ile Lewotolok pada Kamis (29/01) sore.
Ilustrasi Awan melingkar di atas Gunung Ile Lewotolok. Dok. Petugas Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel
Jakarta, CNN Indonesia --

Awan melingkar dan bertumpuk muncul jelas di puncak Gunung Ile Lewotolok pada Kamis (29/01) sore. Fenomena alam menyita perhatian warga setempat karena sangat jarang terjadi di lokasi tersebut.

Yuliana Elisabet Parera, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kupang, mengklarifikasi bahwa awan yang terlihat adalah jenis awan lentikular (lenticularis) sebuah fenomena atmosfer alami dengan ciri khas bentuk yang sangat khas.

"Awan ini terbentuk ketika massa udara lembap dengan stabilitas tinggi terdorong secara bertahap ke atas oleh bentuk medan pegunungan. Setelah melewati puncak tertinggi gunung, udara tersebut mengalami pendinginan cepat hingga mencapai titik embun, sehingga uap air di dalamnya mengkristal dan membentuk awan," jelas Yuliana saat dihubungi CNNindonesia.com Jumat (30/01).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, proses pembentukan awan lentikular sangat terkait dengan pola aliran angin yang melintasi pegunungan.

Angin yang bertiup dengan kecepatan minimal 30 hingga 40 kilometer per jam akan menciptakan gelombang udara sisi belakang gunung (lee wave) yang bergerak vertikal.

"Ketika udara naik melalui gelombang tersebut, tekanannya menurun dan suhunya turun drastis. Inilah yang memicu kondensasi dan membentuk struktur awan yang tampak seperti berlapis atau berbentuk cakram padat," tambahnya.

Salah satu fakta menarik tentang awan lentikular adalah sifatnya yang statis atau tampak tidak bergerak, meskipun terbentuk akibat aliran angin yang kuat.

"Meskipun udara terus mengalir melalui awan tersebut, bentuk dan posisinya cenderung tetap karena proses pembentukan dan pelarutan terjadi secara bersamaan di tempat yang sama," jelas Yuliana.

Meskipun memiliki penampilan yang memesona dan sering menjadi objek favorit fotografer alam, Yuliana mengingatkan bahwa keberadaan awan lentikular harus diwaspadai untuk beberapa aktivitas seperti pendaki gunung sebab awan ini menjadi indikasi adanya angin kencang dan turbulensi udara di ketinggian, yang berpotensi menyebabkan hipotermia jika tidak dipersiapkan dengan baik.

Selain itu untuk penerbangan, karena area sekitar awan lentikular mengandung turbulensi udara ekstrem yang dapat membahayakan keselamatan pesawat terbang.

Bagi masyarakat setempat, fenomena ini biasanya muncul pada musim panas atau musim peralihan, namun tidak memiliki hubungan apapun dengan aktivitas vulkanik atau potensi gempa bumi di sekitar Gunung Ile Lewotolok.

"Fenomena ini memang jarang terlihat dengan bentuk yang sempurna seperti kali ini. Kami akan terus memantau kondisi atmosfer di wilayah tersebut untuk memberikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat," pungkas Yuliana.

(lou/mik)


[Gambas:Video CNN]