Pakar Buka Suara Soal Fenomena Awan Kontainer Ramai di Medsos
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menyebut ada kesalahan dalam memahami fenomena atmosfer dalam isu awan kontainer yang ramai di media sosial (medsos).
Fenomena yang disebut sebagai "awan kontainer" belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah ini kerap dikaitkan dengan kondisi cuaca ekstrem serta hujan yang memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari gatal-gatal pada kulit, mata perih, hingga munculnya busa pada air hujan yang ditampung warga.
Namun, Sonni menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam ilmu meteorologi. Menurutnya, awan kontainer lebih merupakan kesalahpahaman dalam memahami fenomena atmosfer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut narasi yang beredar di media sosial mengandung kekeliruan, khususnya dalam memahami proses terbentuknya hujan.
"Kesimpulan saya, ada kekeliruan dalam memahami proses presipitasi, terutama pada tahap pengintian atau pembentukan inti kondensasi," ujarnya dalam sebuah keterangan, Rabu (28/1), dikutip dari laman IPB.
Sonni mengatakan hujan yang menimbulkan keluhan kesehatan seperti gatal pada kulit, mata perih, hingga busa pada air hujan bukan disebabkan oleh jenis awan tertentu. Menurutnya, kondisi tersebut lebih berkaitan dengan fenomena hujan asam.
"Hujan asam terjadi akibat gas-gas polutan di udara yang berperan sebagai inti kondensasi, kemudian larut dalam air hujan. Apalagi di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi, potensi terjadinya hujan asam memang lebih besar," terangnya.
Terkait penggunaan istilah "awan kontainer" oleh sejumlah pembuat konten, Sonni menegaskan tidak ada dasar ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
"Sampai saat ini, tidak ada istilah atau konsep dalam meteorologi yang menyebutkan keberadaan 'awan kontainer' seperti yang dimaksud," tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti anggapan bahwa awan tertentu bersifat kaku atau tidak bergerak. Sonni menjelaskan awan secara alami selalu bergerak dan berubah bentuk mengikuti dinamika atmosfer.
Persepsi awan yang tampak diam biasanya muncul dari pengamatan visual dalam waktu singkat.
"Ketika awan disebut tidak bergerak atau tidak berubah bentuk, itu biasanya hanya berdasarkan pengamatan mata telanjang sesaat, padahal secara fisik awan terus mengalami perubahan," tuturnya.
Selain itu, Sonni menanggapi klaim yang mengaitkan fenomena tersebut dengan jejak pesawat di langit. Ia menjelaskan bahwa garis-garis lurus yang kerap terlihat merupakan jejak kondensasi pesawat atau contrail.
"Itu adalah uap air hasil pembakaran bahan bakar pesawat. Ketika berada di lapisan udara yang dingin, uap air tersebut mendingin dan mengondensasi, sehingga tampak sebagai garis lurus di langit," jelasnya.
Meski terlihat jelas, ia menyebut contrail tersebut tidak bersifat permanen.
"Jika diamati dengan cermat, dalam beberapa menit bentuknya akan menyebar dan berubah menjadi tidak teratur. Ini menunjukkan adanya kekeliruan pengamatan yang bisa memicu kesimpulan yang salah," kata Sonni.
Menutup penjelasannya, Sonni mengimbau masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi informasi cuaca yang viral di media sosial dan tidak mudah mengaitkan fenomena atmosfer dengan istilah atau klaim yang tidak memiliki dasar ilmiah.
(lom/mik)[Gambas:Video CNN]

