Siklon Tropis Penha Muncul di Laut Indonesia, Waspada Dampaknya

CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 14:31 WIB
BMKG mengumumkan Siklon Tropis Penha yang berkembang dari Bibit Siklon 94W. Potensi hujan lebat dan gelombang tinggi di beberapa wilayah Indonesia.
BMKG mengumumkan Siklon Tropis Penha yang berkembang dari Bibit Siklon 94W. Potensi hujan lebat dan gelombang tinggi di beberapa wilayah Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Bibit Siklon Tropis 94W telah mengalami peningkatan intensitas dan berubah menjadi Siklon Tropis Penha.

"SIklon Tropis Penha berkembang dari Bibit Siklon Tropis 94W yang mencapai intensitas Siklon Tropis pada 4 Februari 2026 pukul 19.00 WIB. Saat ini, posisi berada di Laut FIlipina utara Maluku Utara," tulis BMKG di Instagram, Kamis (5/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut BMKG, siklon tropis ini dalam 24 jam ke depan akan persisten berada di kategori 1 dengan pergerakan ke arah barat menjauhi wilayah Indonesia.

Meski bergerak menjauhi wilayah Tanah Air, Siklon Tropis Penha berpotensi memberikan dampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.

Kemudian, siklon tropis ini juga berpotensi memicu angin kencang di Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.

Di perairan, Penha diprediksi bakal memicu gelombang laut tinggi 1,25-2,5 meter di Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua, Perairan Kepulauan Sangihe dan Laut Sulawesi bagian timur, serta gelombang laut 2,5-4 meter di Perairan Kepulauan Talaud dan Samudra Pasifik utara Maluku.

Selain Siklon Tropis Penha, Bibit Siklon Tropis 98P juga dilaporkan masih aktif. Bibit siklon yang terbentuk sejak 29 Januari 2026 pukul 13.00 WIB ini tengah berada di sekitar daratan utara Australia bagian Barat Laut.

BMKG mengatakan 98P berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat serta angin kencang di Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, bibit siklon ini juga berpotensi memicu gelombang laut tinggi 1,25-2,5 meter di Laut Sawu, Perairan Kepulauan Leti hingga Kepulauan Sermata, Perairan Kepulauan Babar hingga Tanimbar, Perairan Kepulauan Kai hingga Kepulauan Aru, Samudra Hindia selatan NTT dan Laut Arafuru bagian barat.

"Masyarakat pesisir, nelayan, dan operator pelayaran di wilayah terdampak diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi dan kondisi perairan yang berbahaya," kata BMKG.

[Gambas:Instagram]

(lom/dmi)


[Gambas:Video CNN]