KRISIS IKLIM

Dampak Krisis Iklim, Hujan di Indonesia Makin Ekstrem

CNN Indonesia
Jumat, 06 Feb 2026 09:40 WIB
BMKG mengungkapkan kenaikan suhu akibat krisis iklim menyebabkan hujan ekstrem di Indonesia. Wilayah rawan bencana seperti Jawa dan Sumatera perlu antisipasi. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kenaikan suhu akibat krisis iklim dalam 16 tahun terakhir menyebabkan hujan ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia.

Plt Deputi Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, tren kenaikan suhu itu sesuai dengan sejumlah insiden hujan ekstrem yang menyebabkan banjir dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya dalam beberapa waktu ke depan, sejumlah wilayah di Indonesia terancam hujan ekstrem dengan intensitas di atas 150 milimeter per hari. Oleh karenanya, pemerintah harus segera mengambil langkah antisipatif.

"Mungkin akan sering ada hujan ke depan di atas 200 milimeter per hari, 300 bahkan 400. Nah, ini mungkin menjadi referensi di masing-masing daerah bagaimana kapasitas daya tampung hujan tersebut bisa disimulasikan di suatu wilayah," kata Andri dalam diskusi di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (5/4).

Potensi curah hujan yang makin ekstrem ini meningkatkan risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor. Menurut Andri, sejumlah provinsi di Jawa dan Sumatera masih menjadi daerah paling rentan bencana tersebut, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, dan beberapa wilayah lain di Sumatera.

"Tentu ini adalah Jawa Barat ya, juara pertama di Jawa Barat, kemudian Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Aceh, lalu juga wilayah Sumatera lainnya," ujar Andri.

Dia menjelaskan, dalam taraf normal, intensitas hujan dibagi dalam tiga kategori, yakni ringan dengan 0-5 milimeter, sedang dengan 20-50 milimeter, hujan lebat dengan intensitas 50-100 milimeter, dan hujan sangat lebat 100-150 milimeter.

Sebagai gambaran, menurut dia, banjir hebat yang merendam Jakarta dan beberapa wilayah lain di Jabodetabek pada akhir 2020 di angka 377 milimeter. Sedangkan, banjir akibat siklon Tropis Senyar di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh mencapai 411 milimeter.

"Nah yang terakhir yang di Sumatera, yang Siklon Tropis Senyar di Sumatera Barat 261, Aceh 411, Sumatera Utara 390 milimeter per hari. Bayangkan batas ekstrem itu 150 milimeter per hari," ujar Andri.

Kejadian cuaca ekstrem tak bisa lepas dari krisis iklim yang membuat Bumi semakin panas dalam beberapa tahun terakhir. Iklim Bumi berubah secara dramatis selama 4,5 miliar tahun sejarahnya.

Lingkungan menjadi lebih hangat dan lebih dingin dari sebelumnya. Namun, laju perubahan sekarang ini menjadi lebih membahayakan dan mengkhawatirkan.

Sejumlah pakar dan penelitian mengungkap bahwa suhu Bumi yang terus meningkat dan kian panas bakal berdampak pada kekacauan pola fenomena iklim yang memicu kekeringan dan hujan deras, yakni El Nino dan La Nina, yang artinya cuaca ekstrem makin ngeri.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkap seiring dengan perubahan iklim Bumi, hal ini berdampak pada fenomena cuaca ekstrem di seluruh planet.

"Gelombang panas yang memecahkan rekor di daratan dan lautan, hujan lebat, banjir parah, kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan ekstrem, dan banjir luas selama badai tropis semakin sering terjadi dan semakin intens," kata NASA, dalam situs resminya, dikutip Senin (1/12).

Data terbaru dari NASA juga menunjukkan lonjakan signifikan peristiwa cuaca ekstrem, seperti kekeringan dan banjir selama lima tahun terakhir.

Studi tersebut menunjukkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan lebih parah, dengan angka tahun lalu mencapai dua kali lipat rata-rata periode 2003-2020.

Para peneliti mengaku terkejut dan khawatir dengan angka-angka terbaru dari satelit Grace NASA, yang memantau perubahan lingkungan di planet ini. Menurut mereka perubahan iklim adalah penyebab paling mungkin dari tren yang terlihat, meskipun intensitas peristiwa cuaca ekstrem tampaknya meningkat lebih cepat daripada suhu global.

Menurut laporan The Guardian pada Juni 2025, data tersebut belum melalui proses peer-review. Para peneliti mengaku membutuhkan waktu 10 tahun atau lebih untuk memastikan apakah hal ini dapat disebut sebagai tren.

Sebuah studi dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) pada tahun 2023 menunjukkan pemanasan global membuat frekuensi hujan menjadi lebih sering dengan intensitas yang lebih deras.

"Studi kami menegaskan bahwa intensitas dan frekuensi hujan lebat yang ekstrem meningkat secara eksponensial seiring dengan meningkatnya pemanasan global," kata Max Kotz, penulis utama studi yang terbit di Journal of Climate.

Studi ini sesuai dengan teori fisika hubungan klasik Clausius-Clapeyron pada 1834, yang menyatakan udara yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak uap air.

Model iklim terkini memberikan hasil yang bervariasi dalam hal seberapa kuat skala curah hujan ekstrem dan hubungannya dengan pemanasan global. Namun model-model ini cenderung meremehkan peningkatan curah hujan sebagai dampak pemanasan global.

"Dampak iklim terhadap masyarakat telah dihitung dengan menggunakan model iklim. Sekarang temuan kami menunjukkan bahwa dampak ini bisa jadi jauh lebih buruk yang kita duga. Curah hujan ekstrem akan lebih deras dan lebih sering terjadi. Masyarakat harus bersiap untuk hal ini," kata kepala departemen PIK dan penulis studi Anders Levermann.

(thr/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK