Respons Gentengisasi Prabowo, Ahli Beber Plus-Minus Genteng dan Seng
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM Ashar Saputra menilai proyek gentengisasi Presiden Prabowo Subianto perlu dikaji secara lebih mendalam.
Ashar menjelaskan pemakaian seng juga punya keunggulan apabila dibandingkan dengan genteng yang digaungkan oleh Prabowo sebagai atap rumah di seluruh Indonesia.
Ia berpendapat, ada tiga aspek utama yang jadi pertimbangan untuk menilai penggunaan material atap bangunan, terutama genteng dan seng, yakni, aspek teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan. Menurut dia ketiga aspek ini tidak bisa dipisahkan dalam perencanaan kebijakan pembangunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak langsung mengomentari program gentengisasi itu sendiri, tetapi melihatnya dari tiga pendekatan tersebut. Setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda," ujar Ashar melalui keterangan yang dibagikan UGM, Kamis (5/2).
Pada aspek teknis, Ashar menjelaskan beda karakteristik antara genteng dan seng, baik dari sisi kinerja maupun sifat fisik. Seng punya bentuk lembaran sehingga dapat digunakan pada atap dengan kemiringan rendah, bahkan hingga sekitar 5 persen, tanpa risiko kebocoran. Sedangkan genteng butuh kemiringan atap tertentu supaya bisa berfungsi secara aman.
"Genteng umumnya baru aman digunakan pada kemiringan lebih dari 30 persen. Hal ini sebenarnya sudah menunjukkan adanya perbedaan teknis yang cukup mendasar," terang Ashar.
Selanjutnya beda bobot dari kedua material ini juga menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan. Genteng tanah liat, genteng keramik, maupun genteng beton umumnya lebih berat ketimbang seng. Struktur atap dan bangunan harus dirancang lebih kuat sebagai konsekuensinya.
"Kalau bebannya besar, struktur harus mampu menahan. Saat terjadi gempa, massa yang besar juga meningkatkan risiko jika struktur tidak direncanakan dengan baik," terang dia.
Namun, seng yang bobotnya relatif ringan juga menyimpan risiko, terutama saat rumah diterjang angin kencang. Ia menekankan bahwa tidak ada material yang sepenuhnya tanpa risiko, lantaran masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Aspek teknis lain adalah kemampuan material dalam merespons panas. Genteng yang berat cenderung lebih unggul dalam meredam panas, sehingga suhu di dalam bangunan terasa lebih sejuk. Meski, kondisi itu tidak selalu ideal untuk semua wilayah.
"Di daerah pegunungan yang dingin, justru dibutuhkan rumah yang bisa memanen panas matahari agar bagian dalamnya hangat. Di situ, penggunaan seng bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai," papar Ashar.
Aspek berikutnya adalah sosial budaya. Keragaman suku, budaya, serta kepercayaan bagi Ashar tak bisa diabaikan karena itu memengaruhi bentuk dan material bangunan rumah.
Contoh, beberapa wilayah di Indonesia masih terdapat kepercayaan bahwa orang yang masih hidup tidak boleh tinggal di bawah material yang terbuat dari tanah. Hal macam ini membuat masyarakat setempat memilih material atap selain genteng tanah.
"Itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi soal keyakinan sosial budaya. Hal seperti ini tidak bisa diabaikan atau diseragamkan," sambungnya.
Desain rumah adat juga menjadi pertimbangan penting. Beberapa rumah tradisional, seperti Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, atau rumah adat di Nias dan Papua, punya ciri khasnya dalam bentuk atapnya. Secara historis, bentuk tersebut memungkinkan penggunaan material seperti ijuk atau sirap yang lentur dan mudah dibentuk.
"Jika menggunakan genteng yang berat dan kaku, itu akan menjadi tantangan tersendiri dan berpotensi menghilangkan karakter asli bangunan tradisional," imbuh Ashar.
Aspek ketiga adalah tentang keberlanjutan atau sustainability. Ashar menjabarkan, dalam ilmu bahan bangunan, pemilihan material semestinya mempertimbangkan energi yang dibutuhkan sejak proses produksi hingga penggunaannya.
"Harus dihitung berapa energi yang diperlukan dan emisi yang dihasilkan untuk membuat suatu material. Belum tentu penggunaan genteng selalu lebih hemat energi dibandingkan seng, atau sebaliknya," ujarnya.
Perlu kejelasan di halaman berikutnya...

