Bagaimana Mekanisme Gempa Megathrust? Pakar Jelaskan Pakai Bahasa Bayi
Gempa berkekuatan Magnitudo 6,2 mengguncang Pacitan, Jawa Timur pada Jumat dini hari (6/2) yang getarannya terasa hingga Bantul dan Sleman.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono memastikan gempa di Pacitan merupakan kategori megathrust. Hal tersebut diketahui dari mekanisme gempa yang berupa pergerakan naik atau thrust fault yang identik dengan aktivitas megathrust di selatan Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gempa megathrust merupakan salah satu bencana yang berpotensi memicu bencana besar di wilayah Tanah Air, khususnya di selatan Jawa. Pasalnya, gempa megathrust bisa terjadi dengan magnitudo sangat besar yang memicu terjadinya tsunami.
Bagaimana sebenarnya gempa megathrust terjadi?
Daryono memberikan sebuah video sebagai ilustrasi. Dalam video tersebut terdapat mainan rumah di bidang datar yang terhubung dengan plat abu-abu.
Ujung plat abu-abu tersebut bersandar pada plat putih diagonal yang terus bergerak ke arah bawah, menekan plat ini untuk bergerak ke arahnya.
"Bayangkan Kota Jogja adalah deretan rumah-rumah yang ada di video. Rumah-rumah itu berdiri di atas lempeng besar berwarna abu-abu, itulah Lempeng Eurasia, tempat Pulau Jawa berada," kata Daryono, Sabtu (7/2).
"Di bawahnya, ada lempeng lain berwarna putih, Lempeng Indo-Australia. Lempeng putih ini terus bergerak dan menunjam ke bawah lempeng abu-abu," tambahnya.
Daryono menjelaskan pergerakan plat putih tersebut bukan karena dorongan manusia, tetapi karena arus konveksi magma panas di dalam Bumi, "seperti air mendidih yang membuat sesuatu di atasnya ikut bergerak."
Ia menyebut pemicu gempa megathrust berada tepat di bidang kontak kedua lempeng raksasa tersebut.
Daryono menggambarkannya sebagai dua papan kayu raksasa, yang satu di atas (Eurasia), sementara yang satu di bawah (Indo-Australia), dan keduanya saling menekan dan saling mengunci.
"Awalnya, mereka tidak langsung meluncur. Mereka macet, terkunci, dan menyimpan energi selama puluhan hingga ratusan tahun. Bidang sentuhan yang terkunci inilah yang disebut zona megathrust," jelasnya.
Gempa besar yang terjadi pada gempa megathrust dikarenakan ukuran bidang kontak yang sangat luas mencapai hingga ratusan kilometer, tekanan yang terus bertambah, serta gerak lempeng yang tidak pernah berhenti.
Dengan demikian, kata Daryono, saat tekanan sudah terlalu besar, kuncian akan patah sekaligus. Lempeng bawah tiba-tiba meluncur beberapa meter dan terjadi gempa bumi besar yang bisa mencapai magnitudo lebih dari 8.
"Dan bila terjadi di bawah laut, bisa memicu tsunami," tuturnya.
Gempa ini memakai istilah "mega" dikarenakan yang bergerak bukan batuan kecil atau retakan lokal, tetapi dua lempeng raksasa Bumi dengan panjang ratusan hingga ribuan kilometer.
Beberapa korban gempa megathrust adalah gempa Sumatra pada 2004 dan gempa Jepang pada 2011.
Lebih lanjut, Daryono menggambarkan zona megathrust sebagai "luka besar" di dalam Bumi, tempat dua lempeng raksasa saling mengunci, menyimpan energi sangat lama, lalu suatu saat melepaskannya dalam bentuk gempa bumi raksasa.
INFOGRAFIS: Fakta-fakta Megathrust, Teror dari Lautan RI (Foto: Basith Subastian/CNNIndonesia) |
[Gambas:Video CNN]


INFOGRAFIS: Fakta-fakta Megathrust, Teror dari Lautan RI (Foto: Basith Subastian/CNNIndonesia)