Apa Akibat dari Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026?
Gerhana Matahari Cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026 dan hanya dapat disaksikan secara sempurna dari wilayah terpencil Antarktika.
Pada peristiwa ini, bulan menutupi sekitar 96 persen bagian tengah Matahari, meninggalkan efek visual berupa 'cincin api' yang berlangsung hingga 2 menit 20 detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat utama dari gerhana Matahari cincin ini adalah berkurangnya intensitas cahaya Matahari secara signifikan, meski tidak sepenuhnya gelap seperti pada gerhana total.
Cahaya Matahari yang tersisa membentuk lingkaran terang di sekeliling Bulan, menciptakan pemandangan dramatis yang hanya bisa disaksikan oleh segelintir orang.
Karena jalur annularitas berada di wilayah yang hampir tidak berpenghuni, hanya sedikit manusia yang akan mengalami langsung dampak visual gerhana ini.
Ahli gerhana Jay Anderson menyebutkan bahwa zona annular sangat sulit dijangkau dan hanya mencakup dua stasiun penelitian di Antarktika yang tidak dirancang untuk wisatawan.
"Mungkin hanya sedikit orang yang akan menyaksikan gerhana ini dari dalam zona annular. Zona ini sulit dijangkau, dan hanya ada dua lokasi berpenghuni di dalam bayangan annular, keduanya tidak dilengkapi untuk menyambut wisatawan," tulis ahli gerhana Jay Anderson di situs webnya, melansir Space.com, Rabu (14/1).
Apa dampaknya?
Pengaruh gerhana tidak hanya terbatas pada wilayah cincin api. Di bagian lain Antarktika, Afrika Selatan, serta ujung selatan Amerika Selatan, gerhana matahari sebagian akan terlihat.
Di wilayah-wilayah ini, Matahari tampak seperti 'tergigit', dengan tingkat penutupan yang bervariasi dan umumnya kurang dari 15 persen.
Salah satu dampak alam yang dapat terjadi selama gerhana adalah perubahan suhu sementara. Ketika bayangan Bulan melintas, permukaan Bumi dapat mengalami pendinginan singkat.
Di beberapa kasus, kondisi ini memicu apa yang dikenal sebagai efek gerhana, yakni berkurangnya awan konvektif akibat turunnya suhu daratan.
Namun, peluang langit cerah untuk menyaksikan gerhana cincin pada 17 Februari 2026 tergolong rendah. Tutupan awan di wilayah pesisir Antarktika diperkirakan mencapai 65 persen, sementara di daratan sekitar 35 persen.
Stasiun Penelitian Concordia, yang terletak di pedalaman Antarktika, disebut memiliki peluang terbaik untuk menyaksikan cincin api, meski suhu ekstrem dapat mencapai minus 80 derajat Celsius.
Stasiun Concordia akan menjadi lokasi berpenghuni pertama yang menyaksikan cincin api pada gerhana ini. Stasiun penelitian gabungan Prancis-Italia tersebut hanya menampung sekitar 16 ilmuwan dan merupakan salah satu tempat terdingin di Bumi. Selain itu, Stasiun Mirny di pesisir Queen Mary Land akan menjadi lokasi terakhir yang dilalui jalur annular.
Bayangan antumbral Bulan akan melintasi Bumi selama sekitar 59 menit, dari pukul 11.42 hingga 12.41 UTC. Jalur annularitas memiliki panjang sekitar 4.282 kilometer dan lebar 616 kilometer, dimulai dari daratan Antarktika dan berakhir di lepas pantai Laut Davis, Samudra Selatan.
Meski dampak gerhana Matahari cincin ini tidak menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan maupun kehidupan manusia, fenomena ini tetap menjadi peristiwa astronomi penting.
Selain memberikan kesempatan langka bagi penelitian atmosfer dan pengamatan Matahari, gerhana ini juga menambah daftar panjang fenomena langit langka yang terjadi di wilayah paling ekstrem di Bumi.
[Gambas:Video CNN]
