Sudah Tentukan 1 Ramadhan, Muhammadiyah Pakai Metode Hisab Apa?

CNN Indonesia
Sabtu, 14 Feb 2026 14:40 WIB
Ilustrasi. Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada 18 Februari 2026, menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal untuk penentuan awal bulan. (Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026 yang berpotensi berbeda dengan versi pemerintah. Lantas, metode hisab apa yang dipakai Muhammadiyah?

Muhammadiyah biasanya memakai metode full hisab atau perhitungan astronomis dengan kondisi hilal atau bulan baru yang berada di bawah kriteria Pemerintah dan Nahdlatul Ulama. Hal inilah yang kerap membuat perbedaan awal Ramadhan hingga Idulfitri.

Penetapan awal Ramadhan ini berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Apakah itu?

Melansir situs resminya, Muhammadiyah hisab hakiki berarti mengacu pada gerak faktual Bulan di langit sehingga bermula dan berakhirnya bulan kamariah (berbasis peredaran Bulan) berdasarkan pada kedudukan atau perjalanan Bulan benda langit tersebut.

Metode tersebut digunakan karena perhitungan yang dilakukan terhadap peredaran Bulan dan Matahari menurut hisab ini harus sebenar-benarnya dan setepat-tepatnya berdasarkan kondisi Bulan dan Matahari pada saat itu.

Sementara, kriteria hisab hakiki yang digunakan Muhammadiyah adalah wujudul hilal.

Dalam kriteria tersebut, Matahari terbenam lebih dahulu daripada Bulan meskipun hanya berjarak satu menit atau kurang.

Muhammadiyah mendasarkan ide tersebut berasal dari pakar falak Muhammadiyah Wardan Diponingrat. Dasarnya, QS. Yasin ayat 39-40 dan juga hadis serta konsep fikih lainnya dibantu ilmu astronomi.

Hisab hakiki wujudul hilal sendiri memiliki beberapa syarat. Pedoman Hisab Muhammadiyah menjelaskan bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 berjalan saat Matahari terbenam terpenuhi tiga syarat secara kumulatif yakni:

1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi)

2. Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam

3. Pada saat Matahari terbenam, Bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk

"Apabila salah satu dari kriteria tersebut tidak dipenuhi, maka Bulan berjalan digenapkan tiga puluh hari dan bulan baru dimulai lusa," kata PP Muhammadiyah pada 2024.

Bagi Muhammadiyah, ufuk menjadi garis penentu munculnya Bulan baru. Jika saat terbenam Matahari, Bulan telah mendahului Matahari dalam gerak mereka dari barat ke timur, artinya saat Matahari terbenam Bulan berada di atas ufuk "maka itu menandai dimulainya bulan kamariah baru."

Namun, jika Bulan belum dapat mendahului Matahari saat gurub (Bulan berada di bawah ufuk saat Matahari tenggelam), "maka bulan kamariah baru belum mulai; malam itu dan keesokan harinya masih merupakan hari dari bulan kamariah berjalan."

Kalender global

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Rahmadi Wibowo menyebut penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Penjelasan itu disampaikan dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (28/01).

Rahmadi menjelaskan bahwa KHGT dibangun di atas prinsip utama keselarasan hari dan tanggal di seluruh dunia (one day, one date globally). Prinsip ini hanya dapat terwujud apabila Bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla', tanpa pembagian zona-zona regional, serta tetap mengikuti garis tanggal internasional.

"Kalau Bumi dibagi ke dalam zona-zona penanggalan, maka tidak mungkin terjadi keseragaman hari dan tanggal. Karena bisa terjadi kawasan barat sudah masuk tanggal baru, sementara kawasan timur belum," jelasnya, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

Ia menjelaskan kalender apa pun pada dasarnya hanya bisa disusun dengan metode hisab atau perhitungan astronomi. Sementara itu, Rukyah dinilai hanya mampu memastikan satu bulan ke depan, sehingga tidak mungkin melahirkan sistem kalender jangka panjang.

Oleh karena itu, KHGT menggunakan prinsip ittihadul mathali' (kesatuan matla') dan parameter global, bukan kriteria lokal.

Berdasarkan keputusan Majelis Tarjih, kata Rahmadi, seluruh kawasan dunia dipandang sebagai satu kesatuan.

Bulan baru dimulai secara serentak apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di Bumi yang memenuhi dua syarat astronomi, yaitu:

- Elongasi Bulan-Matahari minimal 8 derajat.
- Ketinggian hilal saat Matahari terbenam minimal 5 derajat.

Apabila kriteria ini belum terpenuhi sebelum pukul 24.00 GMT, masih tersedia parameter lanjutan, yakni:

- Ijtimak harus terjadi di Selandia Baru sebelum fajar, karena wilayah ini merupakan kawasan berpenduduk paling awal menyambut hari baru di bumi.
- Pada saat yang sama, parameter 5 derajat dan 8 derajat harus terpenuhi di daratan benua Amerika, yang menjadi patokan akhir siklus 24 jam global.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK