Bosscha Ungkap Hilal Tak Bisa Diamati pada 17 Februari, Apa Efeknya?

CNN Indonesia
Jumat, 13 Feb 2026 18:49 WIB
Observatorium Bosscha ITB menyatakan hilal tidak terlihat pada 17 Februari 2026, berpotensi menyebabkan perbedaan awal Ramadhan dengan Muhammadiyah.
Observatorium Bosscha ITB menyatakan hilal tidak terlihat pada 17 Februari 2026, berpotensi menyebabkan perbedaan awal Ramadhan dengan Muhammadiyah. (Foto: Arsip Bosscha)
Jakarta, CNN Indonesia --

Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap hasil perhitungan astronomis menunjukkan posisi Bulan pada 17 Februari 2026, telah terbenam lebih dahulu dibanding Matahari. Ini artinya hilal tidak mungkin terlihat saat pelaksanaan sidang Isbat untuk menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

"Dengan demikian, hilal tidak mungkin diamati saat Matahari terbenam," demikian keterangan resmi Observatorium Bosscha ITB, Kamis (12/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara definisi, hilal merupakan Bulan sabit muda yang dapat diamati setelah Matahari terbenam dan setelah terjadinya konjungsi atau ijtimak. Namun, pada 17 Februari 2026, Bulan sudah berada di bawah ufuk ketika Matahari terbenam, sehingga secara astronomis tidak terdapat peluang untuk melakukan pengamatan hilal.

Melansir Detik, peta ketinggian Bulan saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia turut menguatkan temuan ini. Data menunjukkan ketinggian Bulan berada pada kisaran negatif, sekitar minus 1,5 derajat hingga minus 3,0 derajat, yang menandakan Bulan berada di bawah ufuk di seluruh Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut, Observatorium Bosscha memutuskan tidak melakukan pengamatan hilal pada 17 Februari.

"Namun untuk kepentingan dan dokumentasi ilmiah terkait pengamatan Bulan muda, tim Observatorium Bosscha akan melaksanakan kegiatan pengamatan pada tanggal 18 Februari 2026," lanjut keterangan tersebut.

Prediksi hilal

Penentu awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan, versi Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama memakai kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darusalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS).

Patokan utamanya adalah hilal punya ketinggian 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut Bulan-Matahari 6,4 derajat. Di bawah angka-angka itu, belum dianggap masuk bulan hijriah baru.

Jika memenuhi kriteria MABIMS pada saat pengamatan di sore hari, maka esok harinya sudah diperhitungkan sebagai bulan hijriah baru.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan kondisi hilal yang menjadi dasar penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah di Indonesia.

BMKG mencatat ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berkisar antara -2,41 derajat di Jayapura, Papua hingga -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Sementara pada 18 Februari 2026, ketinggian hilal berkisar antara 7,62 derajat di Merauke, Papua hingga 10,03 derajat di Sabang, Aceh.

Kemudian, elongasi hilal pada 17 Februari 2026 berada di kisaran 0,94 derajat di Banda Aceh hingga 1,89 derajat di Jayapura. Pada 18 Februari 2026, elongasi meningkat menjadi antara 10,7 derajat di Jayapura hingga 12,21 derajat di Banda Aceh.

Potensi berbeda

Dengan data tersebut, besar kemungkinan hilal tidak teramati dan awal bulan Puasa tahun ini berpotensi berbeda dengan Muhammadiyah yang sudah lebih dulu menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026.

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin juga memprediksi 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026. Prediksi ini berbeda dengan Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari 2026.

Menurut Thomas, perbedaan tersebut dipicu oleh perbedaan kriteria penentuan hilal. Ia menjelaskan, pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS yang digunakan pemerintah.

"Fakta astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik," kata Thomas.

Dengan kondisi tersebut, BRIN memprediksi 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026. Namun, ia menyebut sebagian ormas Islam menggunakan kriteria Turki, yang memungkinkan awal Ramadhan jatuh pada 18 Februari 2026 karena kriteria tersebut telah terpenuhi di wilayah Amerika dan Alaska.

"Jadi, ada potensi perbedaan awal Ramadhan, ada yang 18 Februari dan ada yang 19 Februari," ujarnya.
Potensi perbedaan awal Ramadhan ini terjadi karena Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026.

Perbedaan metode pengamatan hilal antara Muhammadiyah dan pemerintah merupakan hal yang wajar terjadi setiap tahun.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, sedangkan pemerintah bersama Nahdlatul Ulama lebih mengedepankan metode rukyat atau pengamatan hilal langsung.

Oleh karena itu, tanggal awal Ramadan versi pemerintah bisa sama atau berbeda dengan hasil hisab Muhammadiyah.

(dmi/dmi)


[Gambas:Video CNN]