Schneider Electric Bongkar Peran AI di Smart Factory Batam

CNN Indonesia
Kamis, 26 Feb 2026 20:00 WIB
Schneider Electric ungkap bagaimana AI transformasi pabrik di Batam jadi smart factory. Teknologi ini prediksi kerusakan dan tingkatkan efisiensi operasional.
Schneider Electric membongkar rahasia bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat membantu pabrik mereka yang berada di Batam bertransformasi jadi smart factory. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Schneider Electric membongkar rahasia bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat membantu pabrik mereka yang berada di Batam bertransformasi jadi smart factory.

Schneider Electric Manufacturing Batam (SEMB) merupakan salah satu pabrik terpenting perusahaan teknologi tersebut di Indonesia. Saat ini, SEMB telah beroperasi selama lebih dari 32 tahun dan menjadi salah satu fasilitas manufaktur utama dalam jaringan global Schneider Electric.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pabrik ini ditunjuk sebagai Indonesia National Lighthouse Industry 4.0 pertama oleh Kementerian Perindustrian, yang menandakan bahwa implementasi transformasi industrinya dinilai nyata, terukur, dan dapat menjadi referensi bagi manufaktur lain di Indonesia.

Kodrat Sutahardiyanto, Batam Cluster Plant Director SEMB, mengatakan bahwa proses transformasi menuju smart factory pertama kali dimulai pada 2017. Hal ini merupakan bagian dari program smart factory global Schneider Electric, dengan fokus pada digitalisasi end-to-end di seluruh proses operasional.

Ia menjelaskan sebelum transformasi tersebut, proses pekerjaan masih dilakukan secara konvensional.

"Cuman at certain point kita sadar kalau kita continue kayak gini, ini enggak akan lihat opportunity nih. Itulah kenapa tahun 2017, transformasi yang kita lakukan pertama adalah kita bikin connected product, ya connected equipment kita ke sistem," kata Kodrat saat ditemui di SEMB, Batam, Selasa (24/2).

Fasilitas ini memanfaatkan EcoStruxure, platform digital berbasis IoT milik Schneider Electric, yang menghubungkan perangkat, sistem kontrol, data, analitik, dan manusia dalam satu arsitektur terintegrasi untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara real-time.

"Dari situ kita bisa real-time melihat informasi dari mesin kita, dari consumption energy kita. Sebelum ada saving kan, karena kita cuman informasi dikeluarkan. Tapi buat kita, kita jadi tahu ada weakness di area mana nih, baru dibikin action," jelas dia.

Salah satu bentuk transformasi smart factory ini adalah dengan penggunaan teknologi AI. Namun demikian, Kodrat menekankan bahwa penggunaan AI dalam SEMB bukan asal keren-kerenan semata.

Menurutnya, penggunaan teknologi AI di pabrik harus berangkat dari kebutuhan operasional. Tidak hanya itu, teknologi akal imitasi ini harus bisa menjadi solusi atas masalah yang terjadi di pabrik.

"AI yang kita pakai itu, yang kita implement itu adalah menjawab tantangan kebutuhan operasional. Begitu kita tahu kita ada projek nih improvement, kita tahu oh ini improvement-nya adalah ini kita bisa automate nih, datanya enggak ada, kita bikin nih supaya bisa mengeluarkan data," ujar Kodrat.

"Nah itulah kita lakukan proyek yang tadi smart solution tadi, AI, machine learning dan sebagainya. Jadi kalau karena itu dasarnya kebutuhan, begitu kita deploy, dipakai," kata dia menambahkan.

Suasana lobby Schneider Electric Manufacturing Batam (SEMB) dan Batam Cluster Plant Director SEMB Kodrat Sutahardiyanto.Kodrat Sutahardiyanto, Batam Cluster Plant Director SEMB, mengatakan bahwa proses transformasi menuju smart factory pertama kali dimulai pada 2017. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)

Memprediksi kerusakan

Kodrat menjelaskan salah satu manfaat penggunaan teknologi AI adalah pihaknya kini dapat memprediksi jika salah satu alat di pabrik akan mengalami kerusakan. Menurutnya data-data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh AI mampu menurunkan downtime di pabrik.

Ia mencontohkan, saat sebelum penggunaan AI, kerusakan mesin dalam pabrik tak bisa diprediksi dan perbaikannya memakan waktu lama. Sementara, kombinasi penggunaan teknologi AI yang didukung analisis data, membuat mereka bisa memprediksi kapan mesin tersebut kemungkinan rusak.

"Mesin ini kan kalau dulu karena tidak ada umpan balik, kalau ada isu, breakdown dia bisa terjadi, reaktif sifatnya kan? Breakdown dulu baru kita fix itu. Sekarang dengan AI ini, informasi itu di-publish, data-data dari mesin itu dikeluarkan, misalkan number of stroke sebuah piston gitu, itu bisa kita pasangin sensor nanti dia akan ngirim sinyal," jelas Kodrat.

"Dari situ saya bisa memprediksi nih dengan model AI tadi, ini setelah 1 juta stroke nantinya dia akan mulai fatigue. Jadi buat saya, sebelum 1 juta, begitu pattern-nya sudah ada saya sudah stop mesinnya. Jadi bukan reaktif tadi tapi jadi preventive maintenance. Itu contohnya untuk di maintenance," lanjutnya.

Menurutnya, dengan bertransformasi dari reactive maintenance menuju predictive maintenance, jika ada kerusakan pabrik tetap bisa berjalan dengan baik tanpa harus mengganggu jalannya produksi.

"Jadi saya enggak breakdown yang bisa sejam, dua jam atau berhari-hari karena mesinnya sudah rusak, di sini saya bisa lakukan planning itu, lagi enggak produksi saya stop, saya perbaiki, ganti kalau perlu ganti, jadi tidak mengganggu produksi. Jadi sifatnya dari reactive maintenance berubah menjadi predictive maintenance," tutur Kodrat.

Tak akan gantikan manusia

Sejumlah pihak sempat khawatir bahwa penggunaan teknologi AI besar-besaran dapat menggantikan peran manusia dalam pekerjaan sehari-hari.

Namun, Schneider Electric memastikan bahwa teknologi AI yang mereka terapkan tidak akan menggantikan peran manusia.

"Jadi pergeserannya itu bukan AI menggantikan orang, orang itu akan digantikan orang lain yang mengerti AI. Nah itu kata kuncinya. Jadi bukan orang digantiin AI, orang digantiin orang yang ngerti AI. Nah itu yang challenge-nya. Bagaimana continue bikin orang punya AI savvy, skills-nya," kata Kodrat.

Mustain Mahrus, HR Lead Batam & LAC (Korea, Taiwan, dan Jepang) Schneider Electric, mengatakan bahwa justru kemajuan teknologi seharusnya mendorong karyawan untuk berkembang lebih jauh.

"Walaupun kita punya teknologi bagus tapi kalau people-nya enggak ready, ya mustahil untuk itu. Kan ya sekarang evolusi digital AI kan cepat kan, yang menentukan apa orangnya bisa catch-up enggak," tuturnya.

(dmi/dmi)


[Gambas:Video CNN]