Penyebab Hujan dan Angin Kencang di DKI dan Sekitarnya 5-9 Maret
Wilayah Jakarta dan sekitarnya masih dibayangi potensi hujan lebat dan angin kencang pada hari ini, Jumat (6/3) hingga akhir pekan.
Dalam Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek periode 5-9 Maret, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Kepulauan Seribu, dan Bogor diguyur hujan lebat hingga sangat lebat pada Kamis Jumat (6/3).
Sementara itu, wilayah Jabodetabek lainnya diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat.
BMKG juga memperkirakan potensi angin kencang terjadi di wilayah Tangerang, seluruh wilayah Jakarta, dan Kepulauan Seribu. Potensi angin kencang ini diperkirakan berlanjut hingga hari berikutnya.
Namun, hujan sangat lebat diperkirakan tidak akan terjadi di hari Sabtu (7/3). Potensi hujan sedang hingga lebat juga diprediksi hanya terjadi di wilayah Jakarta dan Kepulauan Seribu.
Dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode 6-12 Maret, BMKG mengatakan sejumlah fenomena atmosfer masih akan mempengaruhi cuaca di Indonesia, di antaranya Monsun Asia dan fenomena seruakan dingin (cold surge).
Selain itu, ada juga Bibit Siklon Tropis 90S yang berada di Samudra Hindia barat daya Selatan Jawa Timur, dengan kecepatan angin maksimum 35 knot, tekanan udara minimum 998 hPa, dan diprediksi bergerak ke arah timur.
Dalam 48-72 jam kedepan, BMKG memperkirakan 90S akan melemah. Bibit siklon ini disebut menginduksi terbentuknya low level jet di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga selatan NTB, serta membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Perairan selatan Banten hingga selatan NTB dan dari Pulau Jawa hingga NTB.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 93S diprediksi berada di Perairan barat Australia Barat, dengan kecepatan angin maksimum 25 knot, tekanan udara minimum 995 hPa, dan bergerak ke arah barat-barat daya.
Dalam 48-72 jam kedepan, intensitas 93S diprakirakan berada dalam kategori sedang.
"Bibit siklon tersebut mengakibatkan pembentukan low level jet, daerah konvergensi, dan konfluensi di Samudra Hindia Barat Australia bagian utara," kata BMKG.
Bibit siklon tropis lain yang masih aktif adalah 92P yang berada di Teluk Carpentaria, dengan kecepatan angin maksimum 15 knot, tekanan udara minimum 1004 hPa, dan diprediksi bergerak ke arah barat-barat daya.
Namun, 92P diprakirakan akan melemah dalam 48-72 jam kedepan. Bibit siklon tersebut menyebabkan terbentuknya low level jet di Teluk Carpentaria, serta membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Laut Timor hingga Laut Arafuru bagian selatan dan Pesisir Utara Australia bagian utara.
Lebih lanjut, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih berada pada fase 5 (Maritime Continent) dalam sepekan ke depan, sehingga berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di Indonesia Timur.
Potensi hujan tersebut diperkuat oleh prediksi aktifnya Gelombang Kelvin di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Barat bagian selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua bagian utara.
"Selain itu, Gelombang Equatorial Rossby juga diprediksi aktif di NTB bagian selatan, NTT bagian selatan, Maluku, dan hampir seluruh wilayah Pulau Papua. Adanya kombinasi fenomena ini berpotensi memicu peningkatan curah hujan di daerah-daerah tersebut," pungkas BMKG.
(lom/mik)