Apa Itu 'Godzilla' El Nino yang akan Muncul di RI? Ini Penjelasan BRIN
Fenomena iklim 'Godzilla' El Nino diprediksi bakal membuat cuaca di Indonesia dan sejumlah negara di dunia semakin panas dalam beberapa bulan ke depan. Lantas, apa itu Godzilla El Nino?
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi potensi terjadinya 'Godzilla' El Nino di Indonesia disertai dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada beberapa bulan mendatang. Kombinasi fenomena ini membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"'Godzilla' El Niño + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya enggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia. Awan pun lebih banyak 'nongkrong' di Pasifik sedangkan kita kebagian panasnya aja," tulis BRIN di Instagramnya, Jumat (20/3).
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena ini berdampak pada musim kemarau di Indonesia yang lebih panjang dan kering.
Sementara, pemberian nama 'Godzilla' merujuk pada El Nino variasi kuat.
BRIN menyebut beberapa model global memprediksi El Nino mulai terjadi pada April 2026 dan diperkuat oleh fenomena IOD positif
"Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan," kata BRIN menjelaskan dampak fenomena tersebut.
Kemudian, fenomena IOD positif di Samudra Hindia diindikasikan dengan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa, sehingga menyebabkan wilayah di Indonesia mengalami pengurangan hujan yang signifikan.
Kedua fenomena ini diperkirakan akan terjadi bersamaan pada periode musim kemarau di Tanah Air, mulai April hingga Oktober 2026.
Menurut model prediksi musim yang dikembangkan BRIN, kemarau yang bersifat kering pada periode April hingga Juli terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.
Sebaliknya, wilayah Sulawesi, Maluku, dan Halmahera sebagian besar masih akan mengalami curah hujan tinggi.
Lebih lanjut, dampak kombinasi El Nino Godzilla dan IOD positif di Indonesia disebut tidak seragam. Fenomena serupa disebut pernah juga terjadi di Indonesia pada 2023.
Oleh karena itu, ada beberapa fokus mitigasi yang dinilai bisa menjadi fokus pemerintah.
BRIN menyebut dampak kekeringan di selatan Indonesia dapat mengancam lumbung padi nasional khususnya di Pantura Jawa.
Sementara dampak banjir berotensi terjadi di wilayah timur laut Indonesia karena curah hujan tinggi selama kemarau.
Lalu, ada potensi dampak Karhutla di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan. Potensi ini tetap ada, meski bagian utara kedua pulau ini tetap akan mengalami hujan yang tinggi.
BRIN juga menyarankan pemerintah mengoptimalkan produksi garam untuk mencapai swasembada garam selama tahun 2026-2027 khususnya di wilayah selatan Indonesia.
"Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah di Pantura Jawa. Selain itu, dampak Karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi," kata Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin.
"Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor," lanjut dia.
Sebelumnya, European Center for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), lembaga meteorologi independen dari Eropa, mengeluarkan pemodelan terbaru mengenai perkembangan El Nino.
Melansir IFL Science, hasil pemodelan mereka menunjukkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik diprediksi melonjak tajam dalam enam bulan ke depan.
Lonjakan suhu di samudra yang berada di sebelah timur wilayah Indonesia itu menjadi dasar prakiraan terbentuknya El Nino pada Agustus mendatang. Model ini menyatakan ada kemungkinan 22 persen potensi terbentuknya El Nino super, 80 persen peristiwa besar (strong), dan 98 persen peristiwa moderat.
Ketika El Nino muncul dengan kekuatan luar biasa, fenomena ini disebut 'Godzilla El Nino'.
Fenomena ini terakhir terjadi pada 2015-2016 akibat suhu sangat tinggi di bagian timur Samudra Pasifik. Saat itu, fenomena ini memicu serangkaian bencana alam di sejumlah penjuru dunia.
(lom/dmi) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

