Momen Langka Persalinan Paus Sperma Terekam Kamera, Begini Prosesnya
Sebuah momen langka persalinan paus sperma berhasil terekam kamera, menggambarkan bagaimana menegangkannya proses kelahiran bayi paus tersebut.
Tim Project CETI mengabadikan momen langka tersebut pada 8 Juli 2023. Ketika itu, tim sedang berada di Laut Karibia, dan menemukan sekelompok paus sperma berkumpul.
Ahli biologi kelautan Shane Gero dan tim ilmuwan dari Project CETI berhasil merekam langsung kelahiran paus di alam liar, sebuah peristiwa yang sangat jarang disaksikan manusia dan menjadi tonggak penting dalam penelitian komunikasi paus oleh organisasi nirlaba tersebut.
Peristiwa itu juga menjadi momen bersosialisasi. Paus-paus lain dalam kelompok tersebut mengelilingi induk yang sedang melahirkan, lalu mengangkat bayi paus ke permukaan air saat ia mengambil napas pertamanya.
Pengamatan luar biasa ini memperkaya pemahaman ilmiah tentang kerja sama di antara paus sperma. Temuan ini juga memberikan pelajaran penting bagi spesies sosial lainnya, termasuk manusia.
"Dalam masyarakat yang saling bekerja sama, jika kita ingin berhasil, kita harus bekerja sama, bukan terus-menerus mencari alasan untuk menonjolkan perbedaan di antara kita," kata Gero, mengutip CNN, Senin (30/3).
"Itu adalah pesan yang sangat bagus untuk dipelajari dari seekor hewan yang pada dasarnya sangat berbeda dari kita," tambahnya.
Para ilmuwan memantau proses persalinan dengan mencatat visibilitas bayi paus, perilaku paus pendamping, serta jumlah darah dan kotoran di air. Persalinan tercatat dimulai pukul 11.12 dan selesai pukul 11.45 waktu setempat.
"Karena protokol yang kami jalankan setiap hari di laut, drone-drone itu sudah terbang dan perekaman sudah berjalan bahkan sebelum kami menyadari bahwa itu adalah proses kelahiran," ungkap Gero.
Rekaman akustik dan visual mengungkap perilaku serta suara yang sebelumnya tidak diketahui, memberikan wawasan baru tentang interaksi paus sperma pascakelahiran.
"Sebelum pengamatan ini, pemahaman kita didasarkan pada sejumlah kecil penampakan yang terpisah-pisah," kata Giovanni Petri, kepala bidang ilmu jaringan di Project CETI.
"Dinamika sebenarnya dari proses kelahiran-siapa yang melakukan apa, dalam urutan apa, bagaimana kelompok tersebut berkoordinasi, dan apakah ada anggota yang bukan kerabat yang ikut serta-pada dasarnya masih belum diketahui," tambahnya.
Temuan ini dipublikasikan dalam dua makalah ilmiah pada 26 Maret, masing-masing di jurnal Science dan Scientific Reports. Studi tersebut menggabungkan rekaman drone, analisis pembelajaran mesin, serta data hubungan sosial paus selama puluhan tahun.
"Tim Project CETI, yang terdiri dari lebih dari 50 ilmuwan dari delapan disiplin ilmu berbeda, bekerja sama untuk menerbitkan penelitian-penelitian ini," kata David Gruber, pendiri dan presiden CETI.
"Pengamatan ini menunjukkan tingkat kompleksitas tertinggi dalam komunikasi paus sperma," ujarnya.
Upaya bersama
Proses persalinan ini merupakan upaya bersama para paus. Para ilmuwan membagi paus-paus tersebut menjadi beberapa kelompok.
Kelompok A terdiri dari 11 paus "delapan dewasa dan tiga anak." Saat pertama kali diamati, bayi paus masih sebagian berada di dalam tubuh induknya. Beberapa menit kemudian, ia muncul di permukaan di samping kepala induknya.
Paus lain langsung menjadi lebih aktif-menggosokkan hidung, memeluk, dan menggulingkan bayi tersebut di antara tubuh mereka. Mereka kemudian bergantian mengangkat bayi ke permukaan, memperlihatkan tali pusar yang masih menempel.
Sekitar tiga menit setelah muncul, bayi itu mulai mencoba berenang, meski perilaku mengangkat tetap berlangsung selama beberapa jam. Empat paus memberikan perhatian paling besar, termasuk "Ariel," paus muda yang tidak memiliki hubungan darah langsung dengan induk.
Selama periode ini, paus-paus tersebut berkomunikasi sangat aktif, menghasilkan lebih dari 31.000 klik dalam waktu lebih dari empat jam. Pola suara (coda) yang terekam menunjukkan fungsi sosial yang kuat dalam kelompok.
"Ini adalah salah satu catatan terperinci dan kuantitatif pertama mengenai kelahiran paus sperma di alam liar," kata Mauricio Cantor, ahli ekologi perilaku yang tidak terlibat dalam penelitian.
"Yang menonjol adalah betapa kolaboratifnya proses tersebut. Pada paus sperma, kini sudah sangat jelas bahwa kelahiran bukan sekadar peristiwa antara induk dan anak-melainkan upaya bersama," jelasnya.
"Beberapa betina, termasuk yang bukan kerabat, secara aktif bekerja sama untuk merawat bayi yang baru lahir, menjaga agar ia tetap mengapung, dan membantunya pada saat-saat awal kehidupannya," lanjutnya.
(wpj/dmi)