Muncul 'Senjata' Canggih Baru di Perang Iran, Daya Hancurnya Dahsyat
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tak hanya pecah di dunia nyata, tapi juga di dunia maya lewat banjir konten kecerdasan buatan (AI) yang mengaburkan batas antara fakta dan reakayasa. Masifnya peredaran deepfake membuat publik kehilangan pegangan terhadap informasi, hingga video asli sekalipun kini sering dituduh sebagai produk AI.
Fenomena ini membuat warganet meragukan segala bentuk bukti visual yang beredar di media sosial. Salah satu contohnya adalah video tentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dianggap sebagai hasil buatan AI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apakah Netanyahu itu nyata atau hasil AI?" Pertanyaan ini mendadak viral di jagat maya, memicu perdebatan sengit mengenai video Perdana Menteri Israel yang terlihat memiliki enam jari.
Faktanya, video tersebut asli. Namun, di tengah panasnya konflik Timur Tengah, kebenaran sering kali menjadi korban pertama. Spekulasi liar menyebut Netanyahu telah tewas atau terluka dalam serangan Iran, dan Israel menggunakan deepfake untuk menutupinya.
Para peneliti forensik digital segera menjelaskan bahwa "jari keenam" tersebut hanyalah tipuan cahaya yang membuat sebagian telapak tangannya tampak seperti digit tambahan. Namun begitu, penjelasan logis ini tenggelam oleh keriuhan netizen.
Teknologi AI masa kini sudah sangat canggih hingga mampu menghilangkan cacat visual seperti jumlah jari yang salah. Hal ini justru memicu fenomena baru yang disebut para ahli sebagai Liar's Dividend atau keuntungan bagi pembohong.
"Masalahnya bukan lagi sekadar orang percaya pada disinformasi, tetapi mereka mulai tidak percaya pada berita yang benar," ujar Constance de Saint Laurent, profesor dari Maynooth University, melansir AFP, Kamis (2/4).
Ketika Netanyahu mengunggah video 'pembuktian diri' di sebuah kafe sambil memamerkan kedua tangannya, teori konspirasi justru makin menggila. Netizen menuduh video itu tetap hasil AI karena volume kopi dalam cangkirnya tidak berkurang setelah diminum.
Sejak konflik pecah, jaringan global AFP telah menyanggah lebih dari 500 informasi palsu. Sekitar 20 persen di antaranya menggunakan teknologi AI.
Invasi Rusia ke Ukraina, perang Israel-Gaza, dan konflik antara India dan Pakistan semuanya memicu gelombang konten yang dihasilkan AI.
Namun, pembeda utama perang kali ini dengan konflik lain adalah volume dan realisme gambar AI yang sangat masif namun murah diproduksi.
Platform teknologi kini jenuh dengan apa yang secara luas dijuluki sebagai 'sampah AI atau AI slop.
Hasilnya adalah krisis kepercayaan yang semakin mendalam karena fabrikasi AI yang hiper-realistis bersaing memperebutkan perhatian dengan-dan sering kali menenggelamkan-gambar serta video autentik.
Platform media sosial seperti X turut memperparah kondisi tersebut. Algoritma yang mengutamakan engagement dan insentif finansial bagi kreator membuat konten sensasional-meski palsu-lebih cepat menyebar.
Salah satu contoh ekstrem adalah video AI yang menunjukkan gedung pencakar langit Burj Khalifa di Dubai runtuh. Video tersebut meraup 12 juta penonton sebelum label verifikasi disematkan.
Jadi senjata
Dewan Pengawas Meta memperingatkan bahwa konten palsu bukan sekadar hiburan, melainkan bisa memicu kekerasan nyata dan memperkeruh konflik.
Celakanya, alat pendeteksi AI pun sering kali tidak akurat. Dalam kasus Netanyahu, satu alat menyebut videonya 96,9 persen buatan AI, sementara alat lain menyatakan sebaliknya.
"Inilah yang diinginkan aktor jahat: membuat orang berpikir bahwa segala sesuatu bisa dipalsukan, sehingga mereka tidak bisa mempercayai apa pun," tegas Hannah Covington dari News Literacy Project.
Kini, batas antara fakta dan fabrikasi kian kabur. Saat serangan udara menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, Februari lalu, akun resmi pemerintah mengunggah foto tas sekolah berlumuran darah yang terindikasi kuat buatan AI.
Meski palsu, banyak netizen tak peduli. Bagi mereka, selama maknanya "terasa nyata", akurasi visual bukan lagi prioritas.
Video meme yang tampak nyata juga telah digunakan untuk menggambarkan kemenangan militer fiktif Iran dan bahkan Selat Hormuz yang strategis digambarkan ulang sebagai gerbang tol bergaya kartun.
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan bahwa AI telah menjadi "senjata disinformasi yang digunakan Iran dengan sangat baik."
"Bangunan dan kapal yang tampak terbakar sebenarnya tidak - Itu BERITA PALSU, yang dihasilkan oleh AI," tulisnya di Truth Social.
Namun, presiden AS tersebut justru sangat merangkul teknologi ini, membagikan gambar dan video yang dihasilkan AI untuk menggambarkan dirinya sebagai raja dan Superman, sementara menggambarkan lawan-lawannya sebagai penjahat atau bahan tertawaan.
Dia juga telah menggunakan meme AI untuk memicu teori konspirasi dan narasi palsu.
Sementara itu, operasi informasi terkoordinasi yang terkait dengan Rusia sedang memanfaatkan kekacauan daring ini, dengan menyamar sebagai media tepercaya seperti BBC untuk menyebarkan kebohongan.
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


