Studi Terbaru Ungkap Anjing Pertama di Dunia, Segini Usianya
Penelitian terbaru mengungkap anjing pertama di dunia muncul sekitar 15.800 tahun lalu. Simak penelitiannya.
Anjing merupakan hasil evolusi dari serigala abu-abu yang dijinakkan ribuan tahun lalu. Namun, para ilmuwan hingga kini belum sepenuhnya sepakat mengenai kapan, di mana, dan mengapa proses domestikasi tersebut terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, penelitian genetika terbaru mengungkap petunjuk penting mengenai asal-usul anjing, termasuk kedekatan antara manusia dan hewan berkaki empat tersebut.
Anjing ini diketahui dari tulang-tulang yang ditemukan di situs gua Pinarbasi di Turki, yang digunakan oleh para pemburu-pengumpul purba. Menurut para peneliti, anjing ini sekitar 5.000 tahun lebih tua daripada anjing tertua yang sebelumnya diketahui dan telah dikonfirmasi secara genetik.
Mereka mengatakan bahwa usia anjing Pinarbasi dan beberapa anjing lain yang usianya hampir sama dan ditemukan di situs-situs lain di Eropa menunjukkan bahwa anjing telah tersebar luas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya manusia ribuan tahun sebelum munculnya pertanian.
Temuan baru ini dipresentasikan dalam dua makalah ilmiah yang diterbitkan pada hari Rabu (25/3), di jurnal Nature.
William Marsh, peneliti pascadoktoral di Laboratorium Genomika Kuno di Francis Crick Institute di London dan salah satu penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa bukti DNA menunjukkan bahwa anjing sudah ada di berbagai lokasi di Eurasia Barat sejak 18.000 tahun yang lalu dan secara genetik sudah cukup berbeda dari serigala.
"Kami memperkirakan bahwa populasi anjing dan serigala telah berpisah jauh lebih awal, kemungkinan sebelum puncak zaman es terakhir (pada Zaman Es), jadi sebelum 24.000 tahun yang lalu. Meskipun demikian, masih ada tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi," kata Marsh, mengutip Reuters, Rabu (25/3).
Anjing merupakan keturunan dari populasi serigala purba yang terpisah dari serigala modern. Anjing adalah hewan pertama yang dijinakkan oleh manusia, disusul kemudian oleh hewan-hewan seperti kambing, domba, sapi, dan kucing.
"Anjing telah mendampingi kita saat manusia mengalami perubahan gaya hidup yang besar dan munculnya masyarakat yang kompleks," kata ahli genetika Anders Bergström dari University of East Anglia di Inggris.
"Menurut saya, hal yang menarik adalah, tidak seperti kebanyakan hewan peliharaan lainnya, anjing tidak selalu memiliki peran atau tujuan yang sangat jelas bagi manusia. Mungkin peran utama mereka sering kali hanya sekadar menemani," kata Bergström.
Bergström dan timnya melakukan penelitian mendalam mengenai anjing-anjing purba di Eropa. Mereka menggunakan pendekatan baru untuk membedakan secara genetik antara serigala dan anjing dari 216 fosil berusia antara 46.000 hingga 2.000 tahun.
Fosil-fosil tersebut dikumpulkan dari Belgia, Denmark, Prancis, Jerman, Belanda, Skotlandia, Swedia, Swiss, dan Turki. Ini merupakan penelitian terbesar dalam bidangnya hingga saat ini.
Para peneliti mengidentifikasi 46 anjing dan 95 serigala. Karena kerangka anjing dan serigala mirip pada tahap awal domestikasi anjing, studi genetik diperlukan untuk membedakan keduanya dalam sisa-sisa purba.
Anjing tertua yang diidentifikasi oleh tim Bergström berasal dari 14.200 tahun yang lalu dan ditemukan di Gua Kesslerloch, Swiss. Anjing-anjing Eropa tertua yang diidentifikasi dalam penelitian ini ternyata memiliki asal-usul yang sama dengan anjing-anjing di Asia dan wilayah lain, yang menunjukkan bahwa populasi anjing-anjing ini tidak berasal dari proses domestikasi yang terpisah.
Anjing Pinarbasi, yang diidentifikasi dalam sebuah studi yang dikerjakan oleh Marsh, menunjukkan betapa para pemburu-pengumpul yang memelihara mereka sangat menghargai anjing.
"Di Pinarbasi, kami menemukan makam manusia dan anjing, dengan anjing-anjing yang dimakamkan bersama manusia," kata Marsh.
Terdapat pula bukti bahwa penduduk Pinarbasi memberi makan ikan kepada anjing-anjing mereka. Penelitian tersebut mengidentifikasi lima ekor anjing yang berusia antara 15.800 hingga 14.300 tahun, termasuk sisa-sisa tulang anjing dari Gua Gough di dekat Cheddar, Inggris.
"Di Gua Gough, kami menemukan praktik pemotongan dan pengolahan jenazah manusia yang mencakup kanibalisme, sebagai bentuk ritual pemakaman yang mirip dengan penguburan. Modifikasi serupa pada jenazah, meskipun belum dapat dipastikan untuk tujuan konsumsi, juga ditemukan pada sisa-sisa anjing," ungkapnya.
Anjing-anjing dari Pinarbasi dan Gua Gough ternyata memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan nenek moyang ras anjing modern Eropa dan Timur Tengah, seperti boxer dan saluki, daripada dengan ras anjing Arktik seperti Siberian husky.
Menurut para peneliti, selain sebagai teman, anjing purba tersebut mungkin telah membantu manusia berburu atau bertindak sebagai anjing penjaga, seperti sistem peringatan pada Zaman Es.
Berbeda dengan ras anjing eksotis saat ini, anjing-anjing purba ini kemungkinan besar sangat mirip dengan serigala yang menjadi nenek moyang mereka.
"Pertanyaan mengenai kapan, di mana, dan mengapa manusia mulai memelihara anjing masih belum terjawab sepenuhnya," ujar Bergström.
"Kami menduga hal itu kemungkinan besar terjadi di suatu tempat di Asia, tetapi lokasi pastinya masih perlu diteliti lebih lanjut," tutupnya.
(wpj/dmi) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

