Artemis II Cuma Pemulaan, NASA ungkap Misi Besar Eksplorasi Antariksa

CNN Indonesia
Rabu, 15 Apr 2026 16:30 WIB
Kepala NASA Jared Isaacman menyebut Artemis II baru merupakan permulaan dan mengungkap misi sesungguhnya Amerika Serikat dalam eksplorasi luar angkasa.
Ilustrasi. Kepala NASA Jared Isaacman menyebut Artemis II baru merupakan permulaan dan mengungkap misi sesungguhnya Amerika Serikat dalam eksplorasi luar angkasa. (Foto: REUTERS/Joe Skipper)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala NASA Jared Isaacman menyebut Artemis II baru merupakan permulaan dan mengungkap misi sesungguhnya Amerika Serikat dalam eksplorasi luar angkasa.

Ia menyebut Artemis II sebagai awal dari 'estafet' baru dalam penjelajahan Bulan, yang akan membuka jalan bagi kehadiran manusia kembali di satelit alami Bumi setelah lebih dari 50 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misi Artemis II yang mengirimkan astronaut untuk mengelilingi Bulan, menjadi langkah penting menuju fase berikutnya dalam program eksplorasi, termasuk pendaratan berawak dan rencana pembangunan pangkalan di permukaan Bulan dalam beberapa tahun ke depan.

Isaacman memaparkan rencana NASA pasca-misi Artemis II, yang berakhir dengan pendaratan di laut pada Jumat 10 April.

"Ini adalah langkah awal dalam kembalinya Amerika ke Bulan, dan misi ini berhasil," kata Isaacman dalam pidatonya, mengutip Space, Rabu (15/4).

"Misi ini akan dikenang sebagai momen ketika orang-orang mulai percaya kembali, percaya bahwa Amerika masih mampu menghadapi hal yang nyaris mustahil dan menghasilkan hasil yang luar biasa," tambah Isaacman.

Perubahan besar

Semenjak ditunjuk menjadi orang nomor satu di NASA, Isaacman mulai melakukan perubahan besar di lembaga antariksa tersebut.

Isaacman merupakan miliarder dan mantan astronaut yang dua kali terbang ke luar angkasa dan memimpin misi SpaceX-nya sendiri, secara resmi ditunjuk sebagai administrator pada akhir tahun 2025.

Sejak dilantik, pemerintahan Isaacman telah berupaya untuk menunjukkan prestasinya. Hanya dalam beberapa minggu, mereka merombak jadwal program Artemis, sehingga pendaratan ditunda hingga misi Artemis VI pada tahun 2028.

Misi yang sebelumnya dijadwalkan sebagai Artemis III kini akan menjadi uji coba sistem pendaratan manusia pada tahun 2027.

NASA juga menunda proyek stasiun luar angkasa Gateway, sehingga negosiasi dengan konsorsium internasional tetap terbuka. Beberapa mitra sebelumnya telah setuju untuk memproduksi komponen stasiun tersebut di bawah Artemis Accords, sebuah inisiatif eksplorasi luar angkasa yang dipimpin NASA.

Sebagai gantinya, mereka akan mendapatkan kuota awak astronaut dan kesempatan penelitian ilmiah.

Namun, Isaacman mengatakan bahwa struktur baru ini akan mempertahankan kepemimpinan AS sekaligus mendukung tujuan kebijakan luar angkasa pemerintahan Trump.

Isaacman menekankan bahwa pangkalan tersebut akan dibangun secara bertahap untuk mendukung tujuan badan antariksa tersebut dalam membangun kehadiran jangka panjang di permukaan Bulan.

"Pada tahap awal, tempat itu akan lebih mirip lokasi konstruksi, atau bahkan tempat pembuangan barang bekas, dan itu tidak masalah," kata Isaacman mengenai pangkalan bulan tersebut.

Visi tersebut juga mencakup pekerjaan persiapan, melalui pendaratan robot di wilayah sekitar kutub selatan Bulan, yang direncanakan akan dilakukan setidaknya sekali sebulan mulai tahun 2027.

Tantangan ke depan

Isaacman mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi NASA adalah ritme. Dengan Artemis II yang baru saja kembali ke Bumi, komponen-komponen untuk Artemis III harus dirakit dengan cepat.

Jarak waktu antara misi Artemis I dan II sekitar 3,5 tahun. Namun, Artemis III akan diluncurkan lebih cepat jika semua berjalan sesuai rencana. Para astronot akan menguji sistem pendaratan manusia di orbit Bumi paling cepat pada tahun 2027.

Dengan kemungkinan pendarat robotik mencapai permukaan Bulan dan rencana pembangunan pangkalan Bulan bertenaga nuklir, Isaacman mengatakan bahwa pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan misi untuk inisiatif jangka panjang pemerintah dalam menjelajahi Bulan hingga Mars.

"Bagaimana cara kita membawa mereka [para astronaut] kembali dengan selamat, agar mereka bisa menceritakan kepada kita tentang pemandangan luar biasa atau perjalanan luar biasa itu? Anda akan membutuhkan tenaga nuklir dan sistem propulsi untuk dapat melakukannya," katanya mengenai perjalanan ke Mars.

"Saya akan mengatakan bahwa teknologi tersebut akan tersedia bagi kita dalam waktu yang tidak terlalu lama, hampir pasti, ketika Anda melihat para astronaut kembali mendarat di bulan," Isaacman mencatat di bagian lain pembicaraan bahwa tujuan sementara sudah jelas.

Ia juga mengatakan bahwa tidak semua misi robotik kemungkinan akan berhasil, dengan laju seperti ini "Kami ingin mendaratkan banyak hal, dan tidak apa-apa jika sebagian di antaranya rusak. Kami akan belajar darinya."

Perlombaan antariksa dengan China turut memantik daya juang NASA dalam beberapa waktu ke depan. Dengan China berniat mengirim astronautnya sendiri ke permukaan Bulan, Isaacman mengatakan kesuksesan NASA akan diukung dalam hitungan bulan, bukan tahun.

"Kami jelas tidak ingin kalah," tutupnya.

(wpj/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]