Waspada Modus Penipuan Silent Call, Rekening Bisa Terkuras

CNN Indonesia
Minggu, 19 Apr 2026 07:00 WIB
Fenomena silent call atau panggilan hening belakangan marak terjadi. Bukan hanya panggilan iseng, ternyata ini merupakan modus penipuan siber terbaru. (Foto: iStock/dramalens)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena silent call atau panggilan hening belakangan marak terjadi. Bukan hanya panggilan iseng, ternyata ini merupakan modus penipuan siber terbaru.

Dosen Program Studi Ilmu Komputer IPB University Heru Sukoco mengingatkan masyarakat untuk tidak merespons panggilan semacam ini.

Ia mengatakan prinsip utama yang harus dipegang adalah abaikan panggilan dan jangan telepon balik.

"Jangan angkat, jangan telepon balik, blokir dan abaikan karena panggilan tersebut merupakan tahapan awal dari penipuan berbasis telepon," katanya pada Kamis (16/4), dikutip dari laman resmi IPB University.

Fenomena silent call merupakan bagian dari social engineering atau rekayasa sosial yang tengah meningkat. Panggilan ini biasanya tidak bersuara atau terputus setelah beberapa detik.

Tujuan dari panggilan ini dinilai beragam, mulai dari mengecek apakah nomor aktif, memancing korban untuk melakukan call back, hingga mengumpulkan data untuk serangan lanjutan.

Menurutnya, risiko dari panggilan ini tidak bisa dianggap sepele. Nomor korban berpotensi masuk dalam daftar target penipuan, diarahkan ke skema lanjutan seperti one time password (OTP) dan phishing, hingga terhubung ke nomor premium berbiaya tinggi jika melakukan panggilan balik.

Untuk menghindari hal tersebut, Heru menyarankan masyarakat agar tidak mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal, terutama nomor luar negeri yang mencurigakan.

Jika memang penting, biasanya penelepon akan menghubungi kembali atau mengirim pesan singkat. Ia juga menekankan agar tidak pernah melakukan call back.

"Tindakan ini adalah yang paling sering menjebak, karena banyak scam menggunakan teknik 'missed call bait'," tuturnya.

Selain itu, Heru menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi untuk perlindungan tambahan. Misalnya, menggunakan aplikasi pihak ketiga yang dapat membantu mengidentifikasi nomor spam, memblokir otomatis, serta memberi label panggilan mencurigakan.

Ia juga menyarankan untuk mengaktifkan fitur bawaan ponsel seperti silence unknown callers atau block unknown numbers.

"Apabila panggilan terlanjur terangkat, hindari menjawab 'ya' karena suara tersebut dapat direkam dan disalahgunakan untuk manipulasi data pribadi seperti OTP, NIK, atau informasi perbankan," katanya.

Lebih lanjut, Heru menekankan pentingnya edukasi keluarga, terutama orang tua dan anak-anak yang rentan menjadi sasaran penipuan. Mereka diimbau untuk tidak panik dan tidak mudah percaya terhadap ancaman melalui telepon.

Secara umum, ia menekankan pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat, peran operator dalam memfilter pola panggilan mencurigakan, serta kolaborasi lintas pihak untuk membangun basis data spam nasional.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK