Kisah 'Dukun AI' Ramal Nasib Warga yang Melintas di Pusat Kota Seoul

CNN Indonesia
Sabtu, 18 Apr 2026 20:30 WIB
'Dukun alias Shaman' AI di Seoul menawarkan ramalan nasib dengan teknologi canggih. Pengunjung dapat berinteraksi dengan dukun virtual dan terima jimat digital.
Ilustrasi shaman atau dukun di Korea Selatan. (REUTERS/Soo-hyeon Kim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Suara gemerincing lonceng kecil terdengar dari sebuah gang di pusat kota Seoul, Korea Selatan (Korsel).

Gemerincing lonceng kecil yang menandai keberadaan seorang dukun atau shaman berada di lokasi tersebut. Tapi, ketika dihampiri, shaman itu ternyata adalah sebuah robot yang digerakkan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).

Lokasi dukun AI itu di sebuah toko produk budaya yang berada di pusat ibu kota Korsel tersebut. Sosok-sosok shaman itu hadir sebagai avatar di layar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pengunjung, Kim Da-ae (36), mengaku merasakan pengalaman yang unik. Menurutnya apabila berkunjung ke dukun atau shaman sungguhan terasa menakutkan.

"Tapi [di sini], saya hanya lewat, dan membaca papan AI ini... Jadi saya masuk dengan santai," katanya, dikutip dari AFP

Avatar shaman AI itu memiliki karakter yang menyerupai sosok dalam animasi populer global saat ini 'KPop Demon Hunters'.

Saju empat pilar takdir

Teknologi ini menggabungkan pengenalan suara dengan asisten virtual atau chatbot AI generatif, sehingga 'shaman' dan pelanggan dapat berinteraksi.

Sistem tersebut kemudian merujuk pada kepercayaan berusia ratusan tahun yang disebut 'saju' atau 'empat pilar takdir'. Saju itu digunakan untuk menafsirkan nasib pengunjung berdasarkan tahun, bulan, dan hari kelahiran.

Pengalaman ramalan shaman AI

Kim Da-ae masuk ke bilik shaman AI.

Di dalam bilik itu dia mengetik nama, jenis kelamin, dan tanggal lahirnya ke komputer.

Beberapa saat kemudian, seorang "dukun"-topeng melayang dengan proyeksi wajah manusia-memintanya menjelaskan kekhawatirannya melalui perangkat jemala alias headset. Beberapa detik kemudian, Kim menerima 'jimat' plastik dengan kode batang untuk dipindai ponselnya.

Kim memindainya untuk membaca ramalan secara rinci.

"Keberuntungan yang cerah dan seimbang. Tangguh menghadapi perubahan, dengan hubungan yang membawa keberuntungan," demikian isi cetakan kertas lamaran yang dibaca Kim dengan nada terkesan.

"Saya merasa ada kesamaan dengan takdir saya karena sesuai dengan kepribadian saya, seperti menghargai hubungan sekaligus bersikap praktis," sambungnya.

Tak jauh dari posisi Kim, seorang wisatawan asal Singapura, Amos Chun, pun menjadi 'korban' shaman AI tersebut.

Chun mudah saja berinteraksi dengan dukun itu, karena shaman AI yang dihadapinya bisa beroperasi dalam empat bahasa--Korea, Inggris, Mandarin, dan Jepang.

Lantas, apa nasihat ramalan dari shaman AI untuk Chun? 'Hindari Pengeluaran Impulsif!'

"Ramalannya cukup bagus, apalagi berasal dari AI," kata Chun sambil tertawa. "Karena itu memang sesuatu yang sering saya lakukan," sambungnya berseloroh.

(afp/kid) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]