NASA Mau Kembalikan Status Pluto sebagai Planet, Beneran?

CNN Indonesia
Senin, 04 Mei 2026 09:46 WIB
Administrator NASA Jared Isaacman mendorong agar status Pluto sebagai planet dalam Tata Surya dikembalikan.
Ilustrasi. Administrator NASA Jared Isaacman mendorong agar status Pluto sebagai planet dalam Tata Surya dikembalikan. (Foto: Dok. Gettymages/NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Administrator NASA Jared Isaacman mendorong agar status Pluto sebagai planet dalam Tata Surya dikembalikan. Ia berniat mengajak para ilmuwan untuk membahas masalah ini.

Pernyataan itu ia sampaikan ketika menjawab pertanyaan Senator Jerry Moran dalam sidang anggaran NASA untuk tahun fiskal 2027 di hadapan Subkomite Apropriasi DPR Amerika Serikat, Selasa (28/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sangat berada di kubu 'jadikan Pluto planet lagi.' Kami sedang mengerjakan sejumlah makalah tentang posisi yang ingin kami eskalasikan melalui komunitas ilmiah untuk membuka kembali diskusi ini," kata Isaacman, melansir Forbes, Kamis (30/4).

Isaacman juga menegaskan keinginannya agar astronom Clyde Tombaugh mendapat kembali pengakuan yang selayaknya ia terima. Tombaugh adalah orang Amerika pertama yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930 di Observatorium Lowell, Flagstaff, Arizona.

Selama lebih dari 76 tahun sejak penemuannya, Pluto dikenal sebagai planet kesembilan dalam Tata Surya. Benda langit ini berada sekitar 8 miliar kilometer dari Bumi.

Namun pada 24 Agustus 2006, International Astronomical Union (IAU) mengeluarkan Resolusi B5 yang mendefinisikan ulang syarat sebuah benda langit bisa disebut planet.

IAU merupakan kelompok yang terdiri dari para astronom, bukan ilmuwan planet.

Sejak saat itu, Pluto resmi diturunkan statusnya menjadi planet kerdil, dan Tata Surya kita hanya diakui memiliki delapan planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Berdasarkan definisi baru IAU tersebut, sebuah benda langit harus memenuhi tiga syarat untuk disebut planet: mengorbit Matahari, memiliki massa yang cukup sehingga berbentuk hampir bulat, serta telah "membersihkan lingkungan" di sekitar orbitnya dari benda-benda lain.

Pluto memenuhi dua syarat pertama, tetapi gagal di syarat ketiga. Sejumlah ilmuwan planet berargumen bahwa definisi itu cacat dan perlu direvisi.

Keputusan IAU itu dipicu oleh serangkaian penemuan benda langit besar di Tata Surya. Pada 2003, astronom Amerika Michael Brown menemukan Sedna, yang saat itu menjadi benda terjauh yang pernah ditemukan di Tata Surya.

Setelah itu menyusul Haumea, Makemake, dan Eris, benda-benda langit yang ukurannya hampir menyamai Pluto. Bila semua benda itu turut disebut planet, setidaknya ada sekitar 20 objek yang harus masuk dalam daftar. IAU pun memilih mengecilkan daftar, bukan memperbesarnya, sehingga Pluto menjadi korbannya.

Pluto kini mengorbit di sabuk Kuiper, kawasan berisi benda-benda es di luar orbit Neptunus. Meski statusnya sudah berubah, Pluto tetap menjadi objek terbesar kesembilan yang mengorbit Matahari.

Hingga saat ini, hanya misi New Horizons NASA yang pernah mendekati Pluto, yakni saat melakukan terbang lintas pada 2015. Misi itu menghasilkan foto pertama dan satu-satunya dari permukaan benda langit tersebut.

(dmi/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]