Privasi Terancam, Instagram Hapus Enkripsi Pesan DM Mulai 8 Mei

CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2026 10:38 WIB
Instagram akan hentikan enkripsi DM mulai 8 Mei 2026. Meta menyatakan rendahnya adopsi sebagai alasan, meski mendapat kritik terkait keamanan anak.
Instagram akan hentikan enkripsi DM mulai 8 Mei 2026. Meta menyatakan rendahnya adopsi sebagai alasan, meski mendapat kritik terkait keamanan anak. (Foto: AFP/YASIN AKGUL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Instagram akan mulai menghentikan enkripsi pesan langsung atau direct messages (DM) mulai 8 Mei mendatang.

Pada Maret, Meta secara diam-diam mengumumkan di halaman bantuan Instagram dan dalam unggahan berita tahun 2022 yang telah diperbarui bahwa enkripsi end-to-end tidak lagi tersedia untuk DM antar pengguna di Instagram mulai 8 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

CEO Meta Mark Zuckerberg pertama kali mengumumkan rencana untuk meluncurkan enkripsi end-to-end di seluruh rangkaian platform Meta pada 2019, tetapi baru mulai menerapkannya pada 2023.

Artinya, Meta akan dapat melihat isi pesan antara pengguna, yang sejauh ini hanya dapat dilakukan terhadap pengguna yang tidak mengaktifkan enkripsi.Fitur tersebut sudah tampak dinonaktifkan bagi pengguna di Australia.

Seorang juru bicara Meta mengatakan keputusan untuk menghentikan enkripsi disebabkan oleh rendahnya tingkat adopsi.

"Sangat sedikit pengguna yang memilih untuk menggunakan pesan terenkripsi end-to-end di DM, jadi kami akan menghapus opsi ini dari Instagram dalam beberapa bulan ke depan," kata juru bicara tersebut, dikutip dari The Guardian pada Selasa (5/5).

"Siapa pun yang ingin tetap berkirim pesan dengan enkripsi end-to-end dapat melakukannya dengan mudah di WhatsApp," tambahnya.

Meta telah menerima kritik dari kelompok-kelompok perlindungan anak dan aliansi penegak hukum, termasuk FBI, Interpol, Badan Kejahatan Nasional Inggris, dan kepolisian federal Australia. Mereka berpendapat fitur tersebut akan melemahkan kemampuan untuk menjaga keamanan anak-anak di dunia maya.

Seorang juru bicara kantor komisaris eSafety Australia mengatakan bahwa enkripsi yang kuat memainkan peran penting dalam melindungi privasi dan keamanan, tetapi ketika diterapkan, platform juga harus mencegah, mendeteksi, dan menanggapi bahaya.

"Jika enkripsi end-to-end diterapkan tanpa langkah-langkah keamanan yang memadai, hal itu dapat meningkatkan risiko keamanan dan menghalangi identifikasi potensi bahaya seperti eksploitasi seksual anak, terorisme, dan ekstremisme kekerasan," kata juru bicara tersebut.

"Pada akhirnya, keputusan untuk menerapkan enkripsi end-to-end merupakan pilihan bisnis dan desain bagi platform, namun hal itu tidak menghilangkan tanggung jawab platform untuk mencegah potensi bahaya," lanjutnya.

Tom Sulston, kepala kebijakan di Digital Rights Watch, mengatakan langkah tersebut kemungkinan disebabkan oleh keputusan Meta untuk tidak memindahkan layanan pesan di WhatsApp, Facebook, dan Instagram ke satu platform tunggal, daripada menuruti tuntutan penegak hukum.

"Fakta bahwa WhatsApp tetap terenkripsi menunjukkan bahwa Meta mungkin sedang beralih untuk memisahkan media sosial dari chat sedikit lebih jauh. Perbedaan utamanya adalah pengguna media sosial dapat menemukan satu sama lain, sedangkan pengguna chat harus saling mengenal terlebih dahulu," katanya.

Menurut Sulston, uang kemungkinan juga menjadi faktor, karena Meta berpotensi menggunakan isi pesan untuk menentukan iklan dan melatih chatbot.

"Mungkin mereka belum melakukannya sekarang, tapi tekanan komersial untuk melakukannya sangat besar, jadi rasanya tak terhindarkan bahwa mereka akan melakukannya jika belum melakukannya," tuturnya.

Sulston mengatakan bahwa lebih banyak perusahaan teknologi seharusnya beralih ke enkripsi end-to-end, bukan lebih sedikit.

"Mengapa tidak memperbaiki produk, daripada terus merusaknya?" katanya.

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]