Gara-gara Monsun Australia, Indonesia Berpotensi Makin 'Terpanggang'
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan penguatan Monsun Australia dalam beberapa hari ke depan akan membawa udara lebih kering sekaligus membuat cuaca semakin panas di sejumlah wilayah.
"Kondisi ini berpotensi membawa massa udara yang lebih kering dari Australia ke wilayah Indonesia, sekaligus mengindikasikan bahwa beberapa daerah mulai memasuki masa peralihan secara bertahap dari musim hujan menuju musim kemarau," kata BMKG dalam laman resminya, dikutip Selasa (5/5).
Monsun Australia sering disebut juga angin muson timur. Angin ini rata-rata berhembus dari arah timur hingga tenggara, berasal dari Benua Australia menuju Benua Asia.
Angin ini melewati wilayah Indonesia setiap tahunnya pada periode April hingga Oktober.
Dampak monsun Australia adalah indikator terjadinya musim kemarau di wilayah Indonesia. Pasalnya, pada periode ini, intensitas Matahari cenderung berada di belahan Bumi bagian utara, pada Benua Asia yang banyak menerima pemanasan Matahari.
BMKG mencatat, cuaca panas terik dengan suhu tinggi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Menurut data BMKG, beberapa wilayah mencatatkan suhu maksimum harian mencapai lebih dari 35 derajat Celsius.
Suhu maksimum harian tertinggi hingga Senin (4/5) tercatat di Berau, Kalimantan Timur (37,1 derajat Celsius) dan Bulungan, Kalimantan Utara (35,9 derajat Celsius).
Tingginya suhu tersebut dipengaruhi intensitas radiasi Matahari pada siang hari yang masih cukup kuat, serta mulai menguatnya Monsun Australia. Monsun ini biasa ditandai dengan dominasi angin timuran, yang membawa massa udara relatif lebih kering.
"Dampaknya, tutupan awan pada pagi hingga siang hari cenderung berkurang sehingga radiasi matahari dapat diterima lebih optimal di permukaan dan mendorong peningkatan suhu udara," tulis BMKG.
Kondisi ini sekaligus menjadi indikasi bahwa sejumlah daerah mulai beralih secara bertahap dari musim hujan menuju musim kemarau.
(dmi/dmi)