Ilmuwan Duga Badai Matahari Bisa Picu Gempa Bumi, Benarkah?

CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 11:57 WIB
Ilustrasi. Ilmuwan Kyoto University mengajukan hipotesis bahwa badai Matahari dapat memicu gempa bumi melalui gangguan ionosfer. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ilmuwan dari Kyoto University mengajukan hipotesis baru yang mengejutkan, yakni peran badai Matahari berpotensi memicu gempa bumi.

Riset terbaru ini dipublikasikan dalam International Journal of Plasma Environmental Science and Technology pada Februari 2026.

Dalam model teoritis yang mereka kembangkan, para peneliti menjelaskan bagaimana gangguan pada ionosfer dapat menghasilkan medan listrik yang menembus jauh ke dalam kerak Bumi. Ionosfer merupakan lapisan atmosfer atas Bumi yang terbentang di ketinggian 60 hingga 1.000 kilometer.

Jika sebuah patahan geologi sudah berada dalam kondisi kritis, tekanan elektrostatik tambahan ini berpotensi menjadi faktor pemicu gempa.

Para peneliti menyebut mekanismenya dimulai dari aktivitas suar Matahari yang intens. Saat terjadi badai Matahari besar, kepadatan elektron di ionosfer meningkat drastis, menciptakan lapisan bermuatan negatif di ionosfer bagian bawah.

Melalui proses yang disebut capacitive coupling, muatan ini dapat menghasilkan medan listrik kuat di dalam rongga mikroskopis pada batuan yang sudah retak.

Tekanan elektrostatik yang dihasilkan, menurut perhitungan tim peneliti, bisa mencapai beberapa megapascal. Angka tersebut mendekati skala tekanan pasang surut dan gravitasi yang memang sudah diketahui dapat memengaruhi kestabilan patahan.

Dikutip dari Sciencedaily, para peneliti menggambarkan zona patahan di kerak Bumi sebagai sistem yang mengandung air pada suhu dan tekanan ekstrem, kemungkinan dalam kondisi superkritis.

Secara elektrik, kawasan ini berperilaku seperti kapasitor raksasa yang menghubungkan permukaan Bumi dengan ionosfer, lalu membentuk sistem elektrostatik skala besar yang menghubungkan tanah dengan atmosfer atas.

Studi ini tidak mengklaim bahwa badai Matahari secara langsung menyebabkan gempa bumi. Sebaliknya, penelitian ini menawarkan kerangka baru tentang bagaimana cuaca luar angkasa dan aktivitas seismik bisa saling berinteraksi.

Model ini juga membuka kemungkinan hubungan dua arah, yakni proses di dalam Bumi dapat memengaruhi ionosfer, dan gangguan ionosfer bisa mengirimkan gaya balik ke kerak Bumi.

Para peneliti menyebut gempa bumi Semenanjung Noto di Jepang pada 2024 sebagai salah satu kasus yang terjadi tak lama setelah periode aktivitas suar Matahari yang intens.

Meski begitu, mereka menekankan bahwa kesamaan waktu ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

Lebih lanjut, temuan ini sejalan dengan observasi yang sudah ada sebelumnya tentang anomali ionosfer yang sering terdeteksi sebelum gempa bumi besar, termasuk lonjakan kepadatan elektron dan perubahan ketinggian ionosfer.

Selama ini, fenomena tersebut dianggap sebagai efek dari tekanan yang membangun di dalam kerak. Model baru ini menawarkan perspektif tambahan yang membalik arah pandang tersebut.

Ke depan, tim peneliti berencana menggabungkan data tomografi ionosfer berbasis GNSS resolusi tinggi dengan data cuaca luar angkasa terperinci.

Tujuannya adalah menentukan kapan dan bagaimana gangguan ionosfer dapat memberikan efek elektrostatik yang bermakna pada kerak Bumi, yang pada akhirnya bisa berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang risiko seismik.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK