Awan Cumulonimbus Potensi Muncul Sepekan ke Depan, Awas Cuaca Ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap potensi pembentukan awan-awan Cumulonimbus (CB) di beberapa wilayah Indonesia pada periode 21 hingga 27 Mei 2026.
Awan Cumulonimbus merupakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan lebat, kilat atau petir, angin kencang (downburst), hingga puting beliung.
Awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial lebih dari 75 persen atau kategori Frequent pada periode tersebut diprediksi terjadi di Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Papua, serta Selat Malaka bagian utara.
Sementara itu, daftar panjang mengisi wilayah berpotensi awan cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75 persen atau bersifat occasional, mulai dari Aceh hingga Papua.
Beberapa wilayah yang berpotensi diselimuti awan cumulonimbus dengan cakupan hingga 75 persen di antaranya Aceh, Banten, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Maluku Utara, hingga Papua Barat
Berikut daftar lengkap wilayah yang masuk berpotensi diselimuti awan cumulonimbus dengan cakupan 50-75 persen:
- Aceh
- Banten
- DKI Jakarta
- Gorontalo
- Jambi
- Jawa Barat
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Selatan
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara
- Kepulauan Riau
- Lampung
- Laut Arafuru bagian Utara
- Laut Arafuru bagian tengah
- Laut Banda
- Laut Jawa bagian barat
- Laut Jawa bagian tengah
- Laut Jawa bagian timur
- Laut Maluku
- Laut Natuna Utara
- Laut Seram
- Laut Sulawesi bagian barat
- Laut Sulawesi bagian tengah
- Laut Sulawesi bagian timur
- Laut Sumbawa
- Maluku
- Maluku Utara
- Papua
- Papua Barat
- Papua Barat Daya
- Papua Pegunungan
- Papua Tengah
- Riau
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kep. Mentawai
- Samudra Hindia barat Kep. Nias
- Samudra Hindia barat Lampung
- Samudra Hindia selatan Banten
- Samudra Hindia selatan Jawa Barat
- Samudra Pasifik utara Maluku
- Samudra Pasifik utara Papua
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
- Selat Karimata bagian selatan
- Selat Karimata bagian utara
- Selat Makassar bagian selatan
- Selat Makassar bagian tengah
- Selat Makassar bagian utara
- Selat Malaka bagian utara
- Sulawesi Barat
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Tenggara
- Sulawesi Utara
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
- Teluk Bone
Pembentukan Awan CB melibatkan mekanisme yang kompleks, salah satunya adalah pergerakan vertikal serta kemungkinan proses pembentukan es.
"Perbedaan muatan listrik di dalam sistem pembentukan Awan Cumulonimbus pun dapat menyebabkan terjadinya kilatan petir," kata Prakirawan cuaca BMKG Muhammad Hakiki beberapa waktu lalu.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terkait potensi bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi pada saat memasuki musim hujan.
"Awan Cumulonimbus kerap kali diasosiasikan dengan terjadinya hujan intensitas sedang hingga lebat dan dapat disertai kilatan petir dan angin kencang, bahkan puting beliung dan hujan es," tuturnya.
"Namun, fenomena awan CB adalah sesuatu yang normal, warga tidak perlu takut dan khawatir namun tetap waspada," jelasnya.
(lom/dmi)