Survei: Pengguna Internet Indonesia Tumbuh 6 Juta di 2026

CNN Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026 14:00 WIB
Ilustrasi. Survei terbaru dari APJII menyebut pengguna penetrasi internet Indonesia pada 2026 menjadi 81,72 persen, atau naik 6 juta jiwa dibandingkan tahun sebelumnya. (Foto: iStockphoto/Khanchit Khirisutchalual)
Jakarta, CNN Indonesia --

Survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut pengguna penetrasi internet Indonesia pada 2026 menjadi 81,72 persen, atau naik 6 juta jiwa dibandingkan tahun sebelumnya. Durasi akses internet rata-rata berkisar antara 4-6 jam per hari.

Hal tersebut diungkap dalam Survei Profil Internet Indonesia Tahun 2026, survei tahunan yang memberikan gambaran mengenai tingkat penetrasi internet, perilaku pengguna internet, pola akses digital, tingkat keamanan siber, hingga perkembangan layanan internet tetap (fixed broadband) di Indonesia.

Berdasarkan hasil survei, tingkat penetrasi internet Indonesia pada 2026 menjangkau 235 juta jiwa dari total populasi Indonesia sebanyak 287 juta jiwa.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 80,66 persen atau sekitar 229 juta jiwa. Peningkatan ini memperlihatkan bahwa internet telah menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia di berbagai sektor kehidupan.

"Internet saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik masyarakat Indonesia," kata Ketua Umum APJII Muhammad Arif dalam keterangannya, Selasa (19/5).

Secara wilayah, Pulau Jawa masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pengguna internet nasional tertinggi dengan tingkat penetrasi mencapai 85,95 persen dan kontribusi pengguna sebesar 58,24 persen.

Sementara itu, wilayah Kalimantan mencatat penetrasi sebesar 80,40 persen dan kontribusi pengguna sebesar 6,20 persen, Sumatra sebesar 78,24 persen dan kontribusi pengguna sebesar 20,74 persen, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 78,14 persen dan kontribusi pengguna sebesar 5,26 persen, Sulawesi sebesar 72,58 persen dan kontribusi pengguna sebesar 6,62 persen, serta Maluku dan Papua sebesar 69,74 persen dan kontribusi pengguna sebesar 2,94 persen.

Hasil survei ini menunjukkan pemerataan akses internet mengalami perkembangan, meski masih terdapat kesenjangan digital antar wilayah yang perlu menjadi perhatian bersama.

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, masyarakat urban memiliki tingkat penetrasi sebesar 84,75 persen dengan tingkat kontribusi sebesar 60,59 persen, sementara wilayah rural mencapai 78,18 persen dengan tingkat kontribusi sebesar 39,41 persen.

Berdasarkan kelompok generasi, penetrasi internet tertinggi berada pada kelompok Gen Z sebesar 89,02 persen dan Milenial sebesar 90,34 persen, yang menunjukkan dominasi generasi muda dalam pemanfaatan teknologi digital.

Lebih lanjut, aktivitas komunikasi dan jejaring sosial menjadi alasan terbesar penggunaan internet dengan persentase 19,9 persen. Alasan tersebut diikuti hiburan digital seperti streaming dan game sebesar 19,7 persen, pencarian informasi dan berita sebesar 19,6 persen, serta transaksi e-commerce dan layanan digital sebesar 18,7 persen.

Alasan-alasan tersebut menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, bagi masyarakat yang belum terkoneksi internet, alasan utama yang paling banyak ditemukan adalah tidak memiliki perangkat yang dapat terkoneksi internet sebesar 34,0 persen, tidak mengetahui cara menggunakan perangkat digital sebesar 31,5 persen, dan harga kuota internet yang masih dianggap mahal sebesar 17,2 persen.

Hasil survei tahunan ini juga memperlihatkan bahwa perangkat utama yang digunakan masyarakat untuk mengakses internet masih didominasi oleh smartphone/handphone sebesar 84,31 persen.

Dari sisi durasi penggunaan, mayoritas masyarakat mengakses internet selama 4-6 jam per hari.

Dalam aspek keamanan digital, masyarakat menilai fitur keamanan paling penting adalah fitur anti penipuan online (24,0%), diikuti fitur anti judi online sebesar 21,7 persen, dan fitur anti pornografi sebesar 20,6 persen.

Survei ini juga menemukan kasus keamanan digital yang paling banyak dialami masyarakat pada 2026, yakni penipuan online sebesar 13,6 persen dan pencurian data pribadi/hack/phishing sebesar 7,8 persen.

Di sisi fixed broadband, jumlah pelanggan secara nasional tumbuh menjadi 99,5 juta atau tumbuh 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK