Super El Nino 2026 Bisa Lebih Ganas dari 1997, Dunia Wajib Waspada

CNN Indonesia
Minggu, 24 Mei 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. El Nino berpotensi menjadi super El Nino, memengaruhi kehidupan global dan ekosistem. Dampaknya bisa berlangsung dekade, dengan risiko ekonomi dan bencana. (Foto: ANTARA FOTO/ARNAS PADDA)
Jakarta, CNN Indonesia --

El Nino yang sedang berkembang berpotensi menjadi super El Nino tahun ini dan memberikan dampak secara global, mulai dari memengaruhi kehidupan ratusan juta orang di seluruh dunia hingga mengubah ekosistem bumi untuk beberapa dekade ke depan.

El Nino adalah siklus cuaca alami di Samudra Pasifik yang ditandai oleh suhu permukaan laut yang lebih panas dari biasanya di dekat garis khatulistiwa.

Kondisi ini mengubah sirkulasi udara di atmosfer dan dampaknya tidak terbatas pada kawasan Pasifik saja, melainkan memengaruhi pola cuaca dan iklim di seluruh dunia. Dalam skenario Super El Nino, efek-efek tersebut menguat secara signifikan.

Beberapa model komputer menunjukkan El Nino yang sedang berkembang saat ini berpotensi melampaui intensitas seluruh kejadian sebelumnya sejak 1950, termasuk El Nino besar tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.

Namun tingkat kepastiannya dinilai masih rendah, dan kekuatan puncaknya baru bisa diketahui saat peristiwa itu benar-benar terjadi.

Dikutip dari CNN pada Jumat (22/5), ada empat pelajaran besar dari peristiwa-peristiwa El Nino sebelumnya yang layak menjadi acuan dalam memahami apa yang mungkin datang.

Dampak ekonomi

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2023 menemukan bahwa El Nino dapat memangkas pertumbuhan ekonomi suatu negara selama beberapa tahun setelah perairan Pasifik kembali mendingin.

Para peneliti menghitung kerugian pendapatan global akibat El Nino 1982-1983 mencapai US$4,1 triliun, sementara El Nino 1997-98 yang dijuluki "El Nino Abad Ini" menyebabkan kerugian US$5,7 triliun.

Kerugian tersebut berlangsung dalam rentang lima tahun selama dan setelah kejadian.

El Nino yang sedang berkembang saat ini dianggap memiliki kemiripan intensitas dengan kejadian 1997-1998.

El Nino bukan satu-satunya faktor

Saat Super El Nino terjadi, ada kecenderungan untuk mengaitkan setiap bencana cuaca dengan fenomena tersebut.

Namun El Nino tidak secara langsung memicu sistem cuaca individual. Fenomena lebih berperan sebagai pengubah probabilitas, menaikkan atau menurunkan peluang kondisi tertentu terjadi pada waktu tertentu dalam setahun.

Banyak kejadian cuaca ekstrem yang tidak memiliki kaitan langsung dengan El Nino tetap akan terjadi secara acak. Misalnya, El Nino cenderung menekan aktivitas badai di Atlantik sambil meningkatkan aktivitas topan di Pasifik Barat dan timur, pergeseran yang memiliki dampak besar bagi negara-negara di kawasan tersebut.

Prakiraan yang lebih akurat

Kemampuan memprakirakan El Nino jauh sebelum dampak terburuknya tiba telah menjadi salah satu keunggulan era modern dibanding dekade-dekade sebelumnya.

Sejak awal 1980-an, akurasi prakiraan El Nino terus meningkat, memungkinkan pemerintah, kelompok kemanusiaan, perusahaan, dan petani mempersiapkan respons lebih awal.

Lembaga seperti Palang Merah dan Bulan Sabit Merah kini sudah mulai memposisikan cadangan pangan di wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan terkait El Nino.

Namun komunitas yang paling rentan di negara berkembang kerap belum memiliki akses memadai terhadap informasi tersebut.

Bersiap untuk kejutan

El Nino tahun ini akan terjadi di dunia yang jauh lebih hangat dibanding saat El Nino besar sebelumnya terjadi. Perubahan iklim menjadikan El Nino kali ini sebagai kartu liar yang tidak bisa diprediksi hanya berdasarkan pengalaman masa lalu.

"Perubahan iklim telah membuat El Nino di masa lalu menjadi kurang informatif untuk kejadian hari ini," kata Nathan Lenssen, ilmuwan dari NSF National Center for Atmospheric Research.

Satu faktor yang juga memperburuk proyeksi kesiapsiagaan adalah pemangkasan drastis bantuan luar negeri Amerika Serikat dan pembubaran USAID di bawah pemerintahan Trump.

"El Nino secara historis menyebabkan kekeringan dan kelaparan di seluruh belahan dunia selatan, dan USAID secara historis menjadi kunci dalam mendukung populasi-populasi ini sebelum, selama, dan setelah kelaparan yang dipicu iklim," kata Lenssen.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK