Fakta Sains di Balik Kedekatan Masha and The Bear di Dunia Nyata

CNN Indonesia
Minggu, 31 Mei 2026 11:15 WIB
Sains buktikan persahabatan manis Masha and the Bear mustahil di dunia nyata. Simak penjelasan ahli ekologi soal risiko fatal insting beruang.
Sains buktikan persahabatan manis Masha and the Bear mustahil di dunia nyata. Simak penjelasan ahli ekologi soal risiko fatal insting beruang. (Foto: dok. Animaccord Animation Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serial animasi asal Rusia, Masha and the Bear, sukses menggambarkan kedekatan emosional yang menggemaskan antara seorang anak perempuan dan seekor beruang cokelat Kamchatka.

Namun, di balik kehangatan layar kaca tersebut, dunia sains menyimpan fakta yang jauh lebih dingin dan berbahaya mengenai interaksi manusia dengan salah satu predator puncak di muka Bumi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para ahli ekologi dan perilaku satwa liar menegaskan bahwa konsep 'pertemanan' lintas spesies seperti itu mustahil terjadi di alam liar. Beruang tidak memiliki kapasitas emosional untuk menjalin persahabatan dengan manusia berdasarkan kasih sayang.

"Beruang adalah hewan liar, dan konsep persahabatan adalah konstruksi manusia," ujar Oded Berger-Tal, profesor ekologi di Ben-Gurion University of The Negev, melansir artikel Gizmodo.

Menurut Berger-Tal, jika seekor beruang terlihat jinak atau mendekati manusia, hal itu murni karena proses asosiasi makanan. Beruang menganggap manusia sebagai penyedia makanan mudah, bukan sebagai teman. Insting liar mereka tetap tidak bisa diprediksi.

"Beruang yang sama yang tadi makan dari tangan Anda, bisa dengan mudah mencabik Anda hingga mati keesokan harinya," katanya.

Sains mencatat banyak kasus fatal akibat kekeliruan manusia dalam membaca perilaku beruang. Salah satu yang paling terkenal adalah kisah tragis Timothy Treadwell, aktivis yang menghabiskan waktu bertahun-tahun hidup di dekat beruang grizzly di Alaska karena merasa telah 'bersahabat' dengan mereka.

Realitasnya, Timothy dan kekasihnya justru berakhir tewas dimangsa oleh hewan yang mereka lindungi.

Shannon Donahue, Direktur Eksekutif Great Bear Foundation, menambahkan bahwa kesalahan persepsi ini juga merugikan satwa itu sendiri. Ketika manusia melakukan habituasi-membiarkan beruang mendekati area perkemahan atau menjadikannya konten foto-manusia sedang memberi kesan palsu yang berbahaya.

Ujung-ujungnya, beruang-beruang tersebut terpaksa ditembak mati oleh otoritas keamanan karena dinilai mulai mengancam keselamatan publik.

Meski demikian, sains tidak menutup mata pada adanya pengecualian kecil. Gordon M. Burghardt, profesor psikologi dan biologi ekologi dari University of Tennessee, menyebutkan bahwa ikatan yang erat tetap bisa terbentuk secara psikologis, asalkan beruang tersebut dibesarkan oleh manusia sejak bayi di dalam penangkaran.

"Bonding yang erat memang mungkin terjadi, dan ikatan ini bisa bertahan hingga beruang dewasa," jelas Gordon.

Guna memberi konteks pada persepsi bahaya satwa, Gordon memberikan sudut pandang unik bahwa anjing peliharaan sekalipun, secara statistik global, membunuh jauh lebih banyak orang per tahun karena intensitas interaksinya yang masif dengan manusia, sementara beruang penangkaran jarang tercatat menyerang jika dirawat dengan benar.

Namun, Gordon tetap memperingatkan bahwa risiko keamanan dari insting liar hewan berbobot ratusan kilogram ini tidak pernah hilang sepenuhnya. Bagaimanapun, menjinakkan insting predator alami yang sudah tertanam selama ribuan tahun evolusi bukanlah perkara mudah, bahkan di bawah pengawasan ketat manusia.

(dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]