BMKG: Suhu Dingin di Pulau Bali Berakhir Agustus 2026

CNN Indonesia
Senin, 01 Jun 2026 15:30 WIB
Fenomena suhu dingin di Bali memang sering terjadi secara periodikal atau musim tahunan dan dimulai saat memasuki awal musim kemarau dan biasanya untuk di Bali terjadi di Bulan Juni. iStock/Cheryl Ramalho
Denpasar, CNN Indonesia --

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, memprediksi suhu yang terasa dingin di sejumlah wilayah di Pulau Bali, akan berakhir pada Agustus 2026.

Seperti diketahui, suhu udara dingin mulai terasa di sejumlah wilayah Bali saat malam hingga pagi hari dalam beberapa hari terakhir. Fenomena tersebut, merupakan kondisi yang normal dan rutin terjadi saat puncak musim kemarau.

"Jadi di suhu dingin ini, biasanya periodenya itu memang terjadi pada awal musim kemarau hingga puncaknya. Yaitu, dari Bulan Juni, Juli hingga Agustus. Puncak musim kemarau itu di Agustus, suhu dingin ini akan terjadi hingga bulan Agustus dan berakhir," kata Brian Eko Permadi selaku Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah lll Denpasar, saat dikonfirmasi Senin (1/6).

Ia menerangkan, kalau dari data BBMKG yang tercatat dari stasiun klimatologi Negara, di Kabupaten Jembrana, suhu dingin tersebut mencapai 19 derajat celcius. Tetapi untuk di dataran tinggi di wilayah Bali tentu suhu dingin lebih terasa.

"Paling dingin 19 derajat. Nah itu lokasi stasiunnya di wilayah perkotaan di Negara.Nah untuk di dataran tinggi di Bali, kan ada dataran tingginya untuk dataran tinggi ini kami tidak ada stasiun pencatatannya. Jadi kemungkinan di dataran tinggi lebih rendah lagi dari 19 derajat," imbuhnya.

Ia menyebutnya, bahwa suhu dingin 19 derajat itu bisa turun lagi atau bisa lebih dingin. Tetapi, hal itu tergantung kondisi di lapangan atau wilayah tersebut.

"Masih bisa turun, tergantung dengan kondisi di lapangan. Jadi, misalnya sama sekali tidak ada awan, dalam satu hari itu, kemungkinan besar nanti di malamnya bisa lebih dingin lagi. Tapi untuk saat ini yang tercatat masih di 19 derajat celcius," sebutnya.

Ia menerangkan, selama fenomena suhu dingin di Bali, dulunya pernah tercatat hingga 16 derajat celcius yang diambil dari data Stasiun Kahang-Kahang Klimatologi, di Kabupaten Karangasem, Bali. Tapi belum bisa hal itu disebut ekstrem karena hanya terjadi di satu titik saja.

"Kalau dari data-data sebelumnya itu untuk suhu minimum absolutnya itu tercatat pernah di 16 derajat. Nggak (ekstrem), suhu dibilang ekstrem jika ada selisih kurang lebih 3 derajat dari suhu normalnya. Jadi untuk suhu absolutnya segitu, belum ekstrim dan masih normal. Sejauh ini belum (ekstrem)," jelasnya.

Ia menerangkan, fenomena suhu dingin ini memang sering terjadi secara periodikal atau musim tahunan dan dimulai saat memasuki awal musim kemarau dan biasanya untuk di Bali terjadi di Bulan Juni.

"Biasanya sih Bulan Juni. Cuma datang lebih cepat di akhir Bulan Mei, dari tanggal 28-29 sudah mulai dingin," ungkapnya.

Kemudian, untuk pemicu suhu dingin di Pulau Bali. Pertama karena tutupan awan pada musim kemarau ini sangat sedikit sehingga saat ini langit terlihat sangat biru sekali dan itu yang menyebabkan radiasi matahari itu yang jatuh ke bumi langsung dipantulkan lagi ke atmosfer.

"Jadi panas yang menyerap ke bumi itu hanya sedikit. Sehingga, saat malam hari suhu akan lebih dingin dari biasanya. Karena tidak ada awan juga dari pagi, siang, sore dan malam," ujarnya.

Kedua, juga disebabkan oleh gerak semu tahunan matahari dan matahari saat ini sedang berada di belahan bumi utara (BBU). Sedangkan Pulau Bali ini posisinya di belahan bumi selatan (BBS). Sehingga, mataharinya menjauh ke utara, maka suhu pasti akan menurun.

"Ketiga itu penyebabnya, Monsun Australia (atau angin muson timur) yang aktif. Jadi dari sana, dari Australia ada di bawah masa udara dingin, masa udara dingin dan kering sampai ke Bali," jelasnya.

Ia juga menyampaikan, suhu dingin di Pulau Bali biasanya terjadi pada dini hari mulai dari pukul 1 dan 2 hingga puncaknya pada subuh atau pukul 5 hingga 6 pagi.

"Himbauan untuk masyarakat Bali terkait fenomena suhu udara yang lebih dingin ini. Khususnya untuk pelaku pariwisata dan juga nelayan agar selalu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, juga vitamin. Hindari, aktivitas berlebih yang dapat membuat lelah, serta menggunakan pakaian yang cukup hangat pada malam hari," ujarnya.

(kdf/mik)


Saksikan Video di Bawah Ini:

Pemerintah Bali Bakal Tutup TPA Suwung

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK