Sampai Kapan Fenomena Bediding Bikin Menggigil? Ini Prediksi Pakar
Fenomena bediding tengah terjadi di sejumlah wilayah Tanah Air. Sampai kapan fenomena ini akan membuat wilayah-wilayah tersebut menggigil?
Bali menjadi salah satu wilayah yang tengah mengalami cuaca dingin saat musim kemarau atau yang dikenal juga dengan istilah bediding ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhu udara dingin mulai terasa di sejumlah wilayah Bali saat malam hingga pagi hari dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini merupakan kondisi yang normal dan rutin terjadi saat puncak musim kemarau.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, memprediksi suhu dingin ini akan berakhir pada Agustus mendatang.
"Jadi di suhu dingin ini, biasanya periodenya itu memang terjadi pada awal musim kemarau hingga puncaknya. Yaitu, dari Bulan Juni, Juli hingga Agustus. Puncak musim kemarau itu di Agustus, suhu dingin ini akan terjadi hingga bulan Agustus dan berakhir," kata Brian Eko Permadi selaku Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah lll Denpasar, saat dikonfirmasi Senin (1/6).
Menurut Brian, data BBMKG yang tercatat dari stasiun klimatologi Negara, di Kabupaten Jembrana menunjukkan suhu dingin tersebut mencapai 19 derajat Celsius. Namun, untuk di dataran tinggi di wilayah Bali tentu suhu dingin lebih terasa.
"Paling dingin 19 derajat. Nah itu lokasi stasiunnya di wilayah perkotaan di Negara. Nah untuk di dataran tinggi di Bali, kan ada dataran tingginya untuk dataran tinggi ini kami tidak ada stasiun pencatatannya. Jadi kemungkinan di dataran tinggi lebih rendah lagi dari 19 derajat," tuturnya.
Ia menyebutnya, bahwa suhu dingin 19 derajat itu bisa turun lagi atau bisa lebih dingin. Tetapi, hal itu tergantung kondisi di lapangan atau wilayah tersebut.
Fenomena bediding juga dirasakan di Malang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang memprediksi fenomena kali ini bakal terasa jauh lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya
Kepala BPBD Kota Malang Prayitno menyebut suhu dingin yang lebih menggigit ini merupakan kombinasi musim kemarau dan pengaruh El Nino yang terjadi secara bersamaan.
Alhasil, masyarakat akan merasakan kontras cuaca yang kentara, yakni terik menyengat di siang hari, namun suhu bakal anjlok drastis saat malam hingga pagi buta.
"Mengapa suhu anjlok drastis, karena minimnya tutupan awan, panas bumi siang hari terlepas bebas ke angkasa saat malam, dan suhu permukaan menjadi anjlok," ujar Prayitno kepada wartawan, Selasa (2/6), dikutip dari Detik.
Fenomena serupa juga dirasakan warga Kota Surabaya dan sekitarnya.
BMKG Juanda menyatakan kondisi ini dipicu oleh wilayah Surabaya yang telah resmi memasuki musim kemarau, yang ditandai dengan minimnya tutupan awan di langit.
Prakirawan BMKG Juanda Restina Wardhani menjelaskan ketiadaan awan inilah yang membuat pelepasan panas bumi ke atmosfer pada malam hari terjadi tanpa hambatan, sehingga suhu udara turun.
"Suhu udara terasa dingin terutama di wilayah Surabaya dan sekitarnya dikarenakan telah memasuki musim kemarau," kata Restina saat dikonfirmasi, Selasa (2/6).
"Pada malam hari tutupan awan lebih sedikit yang mengakibatkan suhu terasa dingin. Pada siang hari suhu akan terasa panas," tambahnya.
Berdasarkan data BMKG, suhu terendah di Kota Pahlawan saat fenomena bediding ini berlangsung diperkirakan bisa menyentuh angka 26 derajat Celsius. Kondisi ini diprediksi masih akan bertahan dalam kurun waktu beberapa hari ke depan.
"Diprakirakan Surabaya dan sekitarnya suhu terdingin pada hari ini mencapai 26 derajat celcius. Dalam beberapa hari ke depan diprakirakan fenomena ini masih akan terjadi," jelasnya.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh. Warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari juga diminta waspada terhadap paparan terik matahari yang menyengat.
"Masyarakat diimbau selalu menggunakan pelindung kulit dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan dan menghindari paparan matahari langsung," ujar dia.
Penyebab bediding
BMKG menjelaskan salah satu faktor yang menyebabkan cuaca dingin saat musim kemarau adalah Angin Monsun Australia. Angin ini bertiup menuju Benua Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih rendah, sehingga menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin.
Angin tersebut bersifat kering dan sedikit membawa uap air, sehingga pada malam hari suhu mencapai titik minimumnya dan udara terasa lebih dingin.
Fenomena bediding dalam konteks klimatologi merupakan hal normal karena memang proses fisisnya berkaitan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau.
Dengan langit yang bersih dari awan, panas bumi langsung dilepaskan ke atmosfer luar, membuat udara di permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.
(lom/lom) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


