Puncak Hujan Meteor Arietid Besok Pagi, Ini Cara Menyaksikannya
Hujan meteor Arietid bakal mencapai puncaknya pada Rabu (10/6) pagi dan bisa diintip dalam waktu singkat sebelum fajar menyingsing.
Hujan meteor Aries kerap disebut sebagai hujan meteor siang hari paling aktif. Berbeda dari kebanyakan hujan meteor yang ramai dinikmati pada malam hari, Arietid justru memuncak ketika Matahari sudah terbit.
Sebagian besar meteornya melintas di langit siang yang terang, sehingga tidak kasatmata. Itu sebabnya hujan meteor ini jarang menjadi tontonan populer meski tergolong sangat aktif.
Arietid merupakan fenomena berskala global yang dapat disaksikan dari Belahan Bumi Utara maupun Selatan, termasuk Indonesia.
Dikutip dari EarthSky, hujan meteor ini berlangsung sejak 22 Mei hingga 3 Juli, dengan prediksi puncak pada 10 Juni.
Perkiraan waktu puncak mengacu pada data American Meteor Society, yang juga mengingatkan bahwa waktu puncak hujan meteor dapat bergeser.
Titik radian meteor ini berada di rasi Aries yang posisinya hanya sekitar 30 derajat dari Matahari. Dikarenakan titik radian berada dekat arah Matahari terbit, mengamati rasi Aries secara langsung hampir mustahil.
Pemandangan yang bisa dikejar adalah meteor yang memancar naik dari ufuk timur.
Soal jumlah meteor, EarthSky menyebut ekspektasi yang realistis sulit dipatok untuk hujan meteor siang hari.
Saat radian berada di puncak langit, hari sudah siang sehingga meteor tak terlihat. Sementara saat langit gelap dan bintang redup mulai tampak, radian justru sudah berada di bawah ufuk.
Kendati begitu, intensitas meteor ini tergolong tinggi. Penghitungan dengan gema radar dan radio mengindikasikan laju 60 meteor per jam, bahkan berpotensi mencapai 200 meteor per jam.
Namun, angka tersebut adalah laju teoretis, dan jumlah yang benar-benar terlihat mata telanjang akan jauh lebih sedikit karena keterbatasan tadi.
Arietid memiliki sejarah penemuan yang khas. Para astronom di Teleskop Radio Jodrell Bank di Inggris pertama kali mendeteksinya pada 1947 melalui gema radar, yang sebagian dikonfirmasi dengan fotografi.
Selama bertahun-tahun komet induknya tak diketahui hingga pada Mei 1986 Don Machholz menemukan komet yang kemudian dikenal sebagai 96P/Machholz.
Komet itu diduga berkaitan langsung dengan hujan meteor Arietid, atau setidaknya menjadi bagian dari Kompleks Machholz.
Kompleks Machholz merupakan gugusan yang menggabungkan dua kelompok komet, delapan hujan meteor, dan sedikitnya satu asteroid yang terkait dengan 96P/Machholz.
Cara menyaksikan
Waktu terbaik
Amati pada satu jam tergelap menjelang fajar, sepanjang pekan pertama dan kedua Juni.
Arah pandang
Hadapkan pandangan ke timur, ke arah Matahari terbit, dan amati meteor yang bergerak naik dari garis ufuk.
Patokan langit
Radian terbit tepat sebelum dimulainya senja astronomis, atau tahap senja paling gelap, saat pusat Matahari berada 12 hingga 18 derajat di bawah ufuk. Pada fase ini langit umumnya masih terlihat gelap pekat.
Hindari cahaya Bulan
Cahaya bulan sabit pada pagi-pagi sekitar 10 Juni akan mengganggu pengamatan. Cari lokasi yang terlindung dari sinar bulan, atau gunakan objek jauh untuk menutupinya.