Perubahan Iklim Picu Ledakan Kasus Malaria di Afrika Selatan

CNN Indonesia
Minggu, 14 Jun 2026 15:40 WIB
Kasus malaria melonjak di Afrika Selatan dan sekitarnya akibat perubahan iklim. (Foto: AFP/EMMANUEL CROSET)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus malaria melonjak drastis di Afrika Selatan dan negara-negara tetangganya. Kondisi ini terjadi di tengah perubahan iklim yang menciptakan kondisi semakin ideal bagi perkembangbiakan nyamuk pembawa parasit mematikan tersebut.

Menurut National Institute for Communicable Diseases (NICD), jumlah kasus pada Januari 2026 melonjak empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di Provinsi Mpumalanga. Mpumalanga merupakan salah satu dari tiga provinsi di sabuk malaria Afrika Selatan.

Lonjakan ini mengancam target Afrika Selatan untuk mengeliminasi malaria pada 2029.

NICD menyebut kondisi serupa terjadi di Gauteng, provinsi yang menjadi rumah bagi Johannesburg dan Pretoria dan selama ini bukan daerah endemis. Di provinsi tersebut, NICD mencatat lebih dari 400 kasus dan 11 kematian dalam tiga bulan pertama 2026.

Di tingkat regional, angkanya lebih mengkhawatirkan. Namibia mencatat 8.760 kasus dalam empat pekan pertama 2026, naik 68 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, Mozambik yang dilanda banjir mencatat lebih dari 1,35 juta kasus dalam enam pekan pertama tahun ini, meningkat 55 persen.

Para ilmuwan menunjuk dua faktor utama dari kondisi tersebut, yakni perubahan iklim akibat aktivitas manusia dan fenomena La Niña yang membawa curah hujan di atas rata-rata ke sebagian Afrika bagian selatan pada awal 2026, menyebabkan banjir yang menciptakan lebih banyak genangan untuk tempat bertelur nyamuk.

Suhu yang lebih panas turut mempercepat siklus hidup nyamuk sekaligus mempersingkat masa inkubasi parasit malaria di dalam tubuh nyamuk.

Professor Jantjie Taljaard, kepala divisi penyakit menular di Universitas Stellenbosch, menegaskan bahwa malaria tidak sedang berpindah wilayah.

Perubahan iklim justru memperparah kawasan yang sudah menjadi hotspot sekaligus memperpanjang musim penularan, sehingga memicu wabah yang jauh lebih hebat.

"Lingkungan pedesaan dan kawasan di pinggiran zona risiko malaria yang sudah ada adalah yang paling rentan," kata Taljaard, dikutip dari AFP.

Pola cuaca yang bergeser juga memaksa petugas kesehatan merombak strategi pencegahan.

Sharon Lindiwe Nyoni, manajer program malaria di Dinas Kesehatan Mpumalanga, mengatakan asumsi lama bahwa malaria hanya terjadi di musim panas tidak lagi berlaku.

"Bahkan di musim dingin, penularan terus terjadi," kata Nyoni.

Banjir turut mempersulit distribusi langkah-langkah pengendalian karena petugas kerap tidak bisa menjangkau komunitas terpencil.

Virolog Edina Amponsah-Dacosta mengatakan panas ekstrem juga mengancam kondisi dingin yang dibutuhkan untuk menjaga vaksin tetap layak sebelum sampai ke klinik-klinik terpencil.

Di lapangan, sebagian warga masih menolak membiarkan petugas menyemprot rumah mereka karena khawatir terhadap keamanan insektisida. Hambatan ini membuat tenaga kesehatan frustrasi di tengah lonjakan kasus yang sebetulnya bisa dicegah.

"Sungguh menyedihkan melihat seseorang meninggal karena sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah dan juga disembuhkan," kata Nyoni.

(lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK