Roket SpaceX Diprediksi Tabrak Bulan Sepekan Jelang Gerhana Matahari

CNN Indonesia
Senin, 15 Jun 2026 11:12 WIB
Salah satu tahapan roket Falcon 9 SpaceX diprediksi akan menghantam Bulan pada 5 Agustus 2026, menjelang Gerhana Matahari Total.
Salah satu tahapan roket Falcon 9 SpaceX diprediksi akan menghantam Bulan pada 5 Agustus 2026, menjelang Gerhana Matahari Total. (Foto: REUTERS/Steve Nesius)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu tahapan roket Falcon 9 milik SpaceX diprediksi akan menghantam permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026. Kejadian ini tepat tujuh hari sebelum Gerhana Matahari Total menghiasi langit pada 12 Agustus.

Prediksi ini datang dari astronom independen Bill Gray, pengembang perangkat lunak Project Pluto yang digunakan untuk melacak objek-objek di dekat Bumi.

Menurut analisisnya, tahap atas Falcon 9 tersebut akan menabrak Bulan sekitar pukul 06.44 UTC (13.44 WIB).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gray memperkirakan titik tumbukan berada di kawasan sekitar kawah Einstein, area dengan banyak bekas benturan di batas antara sisi dekat dan sisi jauh Bulan.

Roket yang dimaksud adalah tahap atas dari misi bernama 2025-010D yang diluncurkan pada Januari 2025. Wahana itu membawa dua pendarat Bulan sekaligus, yakni Blue Ghost Mission 1 dan Hakuto-R Mission 2.

Tidak seperti tahap pertama Falcon 9 yang mendarat kembali di Bumi dan dapat digunakan ulang, tahap atas roket ini tidak dirancang untuk kembali. Benda setinggi gedung 5 lantai tersebut kini melayang bebas dalam orbit yang membuatnya secara bertahap mendekati Bulan.

Saat ini tahap atas tersebut mengorbit Bumi setiap 26 hari sekali, dengan jarak terdekat sekitar 220.000 kilometer dari Bumi dan jarak terjauh mencapai sekitar 510.000 kilometer.

Dikarenakan orbit ini berpotongan dengan lintasan gravitasi Bulan, yang berada di rata-rata sekitar 400.000 kilometer dari Bumi, tabrakan disebut tinggal masalah waktu.

"Orbit Bulan dan objek ini, kasarnya, saling berpotongan. Biasanya, salah satunya sudah lewat titik perpotongan sementara yang lain masih di tempat lain," jelas Gray, dikutip dari Science Alert.

"Pada 5 Agustus, keduanya akan mencapai titik itu pada waktu yang sama," tambahnya.

Tumbukan diperkirakan terjadi dengan kecepatan sekitar tujuh kali kecepatan suara. Gray mencatat bahwa perhitungan lintasan benda ruang angkasa seperti ini pada dasarnya cukup dapat diprediksi karena hanya bergantung pada gravitasi Bumi, Bulan, Matahari, dan planet-planet.

Namun ada faktor ketidakpastian kecil, seperti tekanan radiasi surya, yaitu dorongan halus yang ditimbulkan oleh cahaya Matahari. Karena benda ini berputar bebas dan terus berganti posisi terhadap Matahari, akumulasi gaya kecil itu sulit diperhitungkan secara persis dalam jangka panjang.

Tumbukan ini diperkirakan meninggalkan kawah baru di permukaan Bulan. Kilatan benturannya kemungkinan tidak terlihat dari Bumi, namun wahana NASA Lunar Reconnaissance Orbiter mungkin dapat mengabadikan bekas tabrakan dari orbit.

Tidak ada bahaya dari kejadian ini. Bulan tidak dihuni manusia, dan tidak ada infrastruktur yang terancam.

Namun para ilmuwan mengingatkan bahwa masalah sampah antariksa di sekitar Bulan semakin mengkhawatirkan. Terlebih, program Artemis NASA berencana membawa astronaut ke Bulan pada 2028, dan China menargetkan hal serupa sekitar 2030.

Tujuh hari setelah tumbukan, tepatnya pada 12 Agustus, Bulan akan memainkan perannya dalam Gerhana Matahari Total. Satelit alami Bumi ini akan menutup sepenuhnya cahaya Matahari di atas Greenland, Islandia, serta sebagian Spanyol dan Portugal.

(lom/lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]