Fakta-fakta Larangan Medsos di Inggris buat Anak di Bawah 16 Tahun

CNN Indonesia
Selasa, 16 Jun 2026 13:54 WIB
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan larangan media sosial (medsos) untuk anak di bawah usia 16 tahun. Ilustrasi. (Foto: REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan larangan media sosial (medsos) untuk anak di bawah usia 16 tahun.

Starmer mengatakan larangan diberlakukan untuk melindungi anak-anak dari bahaya daring.

"Perubahan ini akan mendukung orang tua yang bergulat dengan risiko dunia daring bagi anak-anak, serta membantu memberdayakan mereka dengan memberikan keputusan yang jelas tentang apa yang aman dan sesuai usia anak-anak," kata Starmer.

Dilansir dari CNN, larangan ini mencakup seluruh platform antar pengguna, terutama yang memungkinkan adanya interaksi sosial dan yang memungkinkan pengguna mengunggah konten, bersama dengan algoritma.

Artinya, Snapchat, TikTok, YouTube, Instagram, Facebook, dan X termasuk platform-platform yang terdampak.

Layanan berbagi pesan seperti WhastApp dan Signal sementara itu tidak akan terpengaruh, demikian menurut pernyataan pemerintah pada Senin (15/6).

Rancangan undang-undang (RUU) ini rencananya diajukan ke parlemen sebelum hari Natal. Harapannya, larangan bisa dimulai pada Musim Semi 2027.

Susul Australia-Indonesia

Inggris menjadi negara terbaru yang menerapkan larangan medsos bagi anak-anak. Sebelumnya, sejumlah negara sudah memberlakukannya lebih dulu, termasuk Australia dan Indonesia.

Pada Desember, Australia jadi negara pertama di dunia yang menerapkan larangan medsos bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Pada Februari, Spanyol melarang hal serupa dan memperkenalkan aturan yang mewajibkan platform menggunakan alat verifikasi usia ketat. Malaysia awal bulan ini juga memberlakukan aturan serupa.

Indonesia melalui PP Tunas juga sudah menerapkan. Prancis, Denmark, dan Norwegia juga telah mengumumkan rencana pembatasan ini.

Efektif?

Hasil survei yang dilakukan komisioner eSafety Australia menunjukkan banyak anak-anak yang menemukan cara untuk menghindari larangan tersebut.

Menurut survei terhadap 898 orang tua dan pengasuh anak berusia 8-15 tahun, sekitar tujuh dari 10 anak masih memiliki akun media sosial yang dibuat sebelum larangan berlaku.

Penerapan larangan ini belum berjalan efektif karena pada faktanya pihak berwenang Australia masih longgar, yakni belum menjatuhkan denda terhadap perusahaan teknologi mana pun.

Beda larangan di Inggris dan Australia

Pemerintah Inggris berniat menerapkan larangan yang lebih ketat dari pemerintah Australia.

Fitur-futur riskan seperti siaran langsung dan layanan komunikasi dengan orang asing akan diblokir. Pemblokiran juga disebut akan berlaku pada layanan daring lain seperti situs gim.

Menteri Teknologi Inggris Liz Kendall mengatakan pemerintah berencana belajar dari pengalaman Australia dengan "membuat jauh lebih sulit bagi anak-anak untuk menghindari pengamanan."

Pemerintah juga akan bekerja sama dengan regulator layanan komunikasi Inggris, Ofcom, dalam strategi penegakan hukum.

Respons lembaga anak

Menurut pemerintah, sembilan dari 10 orang tua di Inggris mendukung larangan ini. Lembaga-lembaga anak juga menyambut baik langkah ini.

CEO National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), Chris Sherwood, mengatakan ini merupakan momen penting bagi perlindungan anak, sambil menekankan pentingnya penegakkan hukum yang efektif.

"Kami ingin melihat Pemerintah melangkah lebih jauh, lebih berani, dan memastikan adanya akuntabilitas nyata di semua platform online, layanan game, dan chatbot AI sehingga perubahan transformatif yang dibutuhkan dan layak diterima anak-anak dan orang tua menjadi kenyataan," ujarnya.

Reaksi medsos

Seorang juru bicara Meta, perusahaan induk medsos Facebook dan Instagram, mengatakan kepada CNN bahwa pihaknya sudah berupaya menjaga keamanan anak-anak di dunia maya dengan menerapkan fitur yang membatasi siapa yang bisa menghubungi mereka. Konten-konten yang ditampilkan di akun anak juga disaring lebih dulu.

Menurutnya, larangan medsos di Inggris cuma akan berakhir sama dengan Australia.

"Seperti yang kita lihat di Australia, larangan berisiko mengisolasi remaja dari komunitas dan informasi daring, dan mendorong mereka ke alternatif yang tidak diatur yang tidak memiliki perlindungan bawaan dan kontrol orang tua," ucapnya.

Seorang juru bicara dari Snap Company, pemilik Snapchat, sementara itu mengatakan mendukung upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat di dunia maya.

"Namun, karena sebagian besar waktu yang dihabiskan di Snapchat adalah untuk pesan pribadi antara teman dan keluarga, larangan total yang memutuskan hubungan remaja dengan mereka tidak membuat mereka lebih aman. Hal itu justru dapat mendorong mereka ke platform yang kurang aman," ujar dia.

"Sangat penting bagi Pemerintah untuk mempertimbangkan dengan cermat cakupan larangan tersebut, dan bagaimana pemerintah akan mendefinisikan dan menerapkan pengecualiannya," tambah juru bicara tersebut.

CNN telah menghubungi X, Google, dan TikTok mengenai larangan ini namun belum mendapatkan komentar.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK