Ahli Ungkap Bahaya Geologis Tersembunyi Pasca Gempa Sulteng M6,7

CNN Indonesia
Senin, 22 Jun 2026 13:00 WIB
Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah menunjukkan ancaman bencana tak hanya dari sesar utama, tetapi juga jaringan sesar kompleks di sekitarnya.
Pakar kebencanaan Daryono sebut gempa M6,7 di Sulawesi Tengah menunjukkan ancaman bencana tak hanya dari sesar utama, tetapi juga jaringan sesar kompleks di sekitarnya. (Foto: ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyebut gempa M6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) memberikan pelajaran soal paradigma mitigasi bencana kebumian ini.

Menurut Daryono, kita tak bisa lagi hanya fokus pada sesar utama, tetapi harus segera mengakselerasi pemetaan seismik hingga ke tingkat yang lebih detail.

"Pemerintah daerah perlu menjadikan data kerawanan ini sebagai acuan utama dalam penataan ruang, termasuk membatasi pembangunan di atas zona sesar aktif. Mengingat kompleksitas ini, kesiapsiagaan bukan lagi sebuah opsi, melainkan sebuah kebutuhan mutlak bagi kelangsungan hidup di zona seismik aktif seperti Sulawesi Tengah," katanya dalam sebuah keterangan, Rabu (17/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daryono menjelaskan gempa berkekuatan M6,7 yang mengguncang wilayah tersebut menyingkap kerentanan geologis yang mendalam di wilayah ini.

Sebagai gempa kerak dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif, katanya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tidak hanya bersumber dari jalur sesar utama Palu-Koro, melainkan juga dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya.

Secara tektonik, kawasan Palolo dan Sausu merupakan zona tarikan atau pull-apart yang terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro.

Ia menjelaskan ketidaksempurnaan pada jalur sesar geser utama menciptakan peregangan kerak bumi yang melahirkan sesar-sesar turun, yang kemudian membentuk cekungan atau basin yang kini terisi oleh endapan sedimen.

"Inilah yang menjadi kunci mengapa guncangan gempa ini menjadi sangat destruktif," tuturnya.

Menurut Daryono, endapan sedimen yang lunak di wilayah cekungan cenderung mengamplifikasi atau memperkuat gelombang seismik, dan menyebabkan bangunan di atasnya menerima guncangan jauh lebih kuat dibandingkan area dengan batuan dasar yang keras.

Kerusakan infrastruktur yang massif disebut sebagai bukti nyata bahwa kerentanan fisik kita masih sangat tinggi.

Ia menyebut mayoritas bangunan yang terdampak adalah struktur non-rekayasa yang belum memenuhi standar ketahanan gempa.

Selain itu, amblasnya jalur logistik utama juga menggarisbawahi urgensi pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan perlunya jalur evakuasi alternatif yang tidak bergantung pada satu akses saja.

Daryono lantas merujuk pada catatan sejarah gempa, mulai dari tahun 1983, 1995, 2005, hingga 2017, yang menunjukkan wilayah ini memang memiliki persistensi aktivitas seismik yang tinggi.

Ia mengatakan rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa kita hidup di atas kawasan yang sangat dinamis.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga Sabtu (20/6) mencatat jumlah rumah rusak akibat bencana gempa bumi di daerah itu mencapai 2.319 unit.

BPBD juga menyebut total korban terdampak berjumlah 8.586 jiwa dengan 2.762 kepala keluarga pada bencana gempa bumi di Kabupaten Sigi.

Pemerintah setempat saat ini tengah menetapkan status darurat. Status tanggap darurat tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 300 2.1/195/BPBD-C-ST/2026 yang efektif berlaku selama tujuh hari dari 17 hingga 23 Juni mendatang.

(lom/mik) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]