HARI ANTINARKOTIKA DUNIA

Sisi Gelap Kripto, Jadi Alat Transaksi Bandar Narkoba Dunia

CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 09:59 WIB
Ilustrasi. Transaksi narkoba modern kini bergantung pada kripto, memudahkan perdagangan di darknet. (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)
Jakarta, CNN Indonesia --

Transaksi narkoba senilai jutaan dolar kini bisa berlangsung tanpa satu lembar uang kertas pun berpindah tangan. Uang bergerak lewat jaringan komputer, tersimpan dalam dompet digital, dan berakhir di jalur tak kasat mata bernama blockchain.

Hal ini merupakan wajah perdagangan narkoba modern, dan mata uang kripto telah menjelma jadi tulang punggung finansialnya.

Kripto memiliki daya tarik kuat bagi pelaku kriminal karena transaksi pseudonim yang sulit dilacak, tidak ada perantara bank, tidak ada batas negara.

Pengguna hanya perlu alamat dompet dan koneksi internet, lalu uang hasil penjualan heroin, fentanil, atau amfetamin bisa mengalir dari satu benua ke benua lain dalam hitungan menit.

Sistem ini memastikan tidak ada akun yang bisa dibekukan, serta tidak ada teller yang bisa mempertanyakan asal dana.

Berdasarkan laporan EU Serious and Organised Crime Threat Assessment (EU-SOCTA) 2025, pasar gelap di darknet kini menghasilkan pendapatan harian antara US$5 juta hingga US$7,5 juta. Hampir seluruhnya bertumpu pada kripto sebagai medium pembayaran.

Sepanjang 2024, transaksi narkoba berbasis kripto di pasar darknet mencapai lebih dari US$1,7 miliar, tumbuh lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2025, angka tersebut meningkat lagi. Chainalysis mencatat total aliran kripto ke vendor narkoba dan darknet markets (DNM) melampaui US$2,5 miliar.

Saat ini tercatat sekitar 30.000 situs web aktif di dark web, dengan 56 hingga 60 persen di antaranya terlibat dalam kegiatan kriminal.

Pasar-pasar ini beroperasi seperti toko daring resmi, lengkap dengan deskripsi produk, foto, dan sistem rating penjual. Bedanya, platform ini menggunakan enkripsi canggih dan kripto demi memastikan anonimitas semua pihak.

Namun kripto tidak hanya berputar di tingkat transaksi eceran. Ia sudah menjangkau jauh ke hulu rantai pasok industri narkoba sintetis.

Dalam laporan bertajuk "Beyond Fentanyl," tim riset TRM Labs meneliti 120 produsen prekursor narkoba asal China. Hasilnya, 97 persen dari produsen yang tersebar di 26 kota dan 16 provinsi itu menawarkan pembayaran dalam bentuk kripto.

Nilai kripto yang masuk ke kantong mereka melonjak drastis. Jumlah kripto yang didepositkan ke dompet yang terhubung dengan produsen prekursor China meningkat lebih dari 600 persen dari 2022 ke 2023, dengan total melebihi US$26 juta sepanjang 2023.

Dalam empat bulan pertama 2024, angkanya sudah lebih dari dua kali lipat periode yang sama tahun sebelumnya.

Bitcoin menjadi pilihan utama dengan sekitar 60 persen volume pembayaran, diikuti blockchain TRON sekitar 30 persen, dan Ethereum sekitar 6 persen.

TRM Labs juga mengidentifikasi setidaknya 20 produsen prekursor China yang memiliki hubungan langsung dengan vendor narkoba online dan pasar darknet, baik yang beroperasi di Rusia maupun di negara-negara Barat.

Lebih jauh, enam dari produsen dalam studi TRM terus memasang iklan prekursor bahkan setelah masuk daftar sanksi atau sedang menghadapi dakwaan.

Di pasar tersebut, hampir 60 persen produsen yang sama diketahui mengiklankan nitazene, kelas opioid sintetis baru yang bisa sepuluh kali lebih kuat dari fentanil, serta xylazine, sedatif veteriner yang kerap dicampur ke dalam fentanil.

Pasar-pasar digital narkotika menunjukkan ketahanan luar biasa terhadap tindakan hukum. Ketika satu situs ditutup paksa, vendor dan pembeli cukup berpindah ke platform lain.

Bongkar dengan Mengikuti Jejak Uang


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :