Riset Temukan Laba-laba Paling Ngebut di Dunia, Larinya Pace 4

CNN Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026 13:20 WIB
Laba-laba pemburu dari Queensland, Australia, tercatat sebagai laba-laba tercepat yang mampu berlari hingga 3,6 meter per detik.
Laba-laba pemburu dari Queensland, Australia, tercatat sebagai laba-laba tercepat yang mampu berlari hingga 3,6 meter per detik. (Foto: Dok. Barnyard Betty's Rescue/Facebook)
Jakarta, CNN Indonesia --

Laba-laba pemburu (huntsman spider) dari genus Heteropoda asal Queensland, Australia, tercatat sebagai spesies laba-laba paling cepat berlari di dunia.

Hewan ini mampu melesat hingga 3,6 meter per detik, atau sekitar 12,96 kilometer per jam. Jika mengikuti lomba lari marathon, laba-laba ini bisa berlari dengan pace 4:37 per kilometer.

Kecepatan itu membuatnya lebih ngebut dari rata-rata kecepatan jogging manusia yang berkisar 6,4-9,6 kilometer per jam (pace 6 hingga pace 9). Dengan kata lain, laba-laba ini bisa dengan mudah menyusul orang yang tengah joging santai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan tersebut merupakan bagian dari riset yang menganalisis kecepatan lari 258 spesies laba-laba. Para peneliti menggunakan kamera dan kertas berpetak yang dipasang di atas nampan plastik atau lempengan logam untuk mengukur seberapa cepat setiap spesies berlari di antara dua titik.

Riset ini belum melalui proses peer review dan masih berstatus pracetak.

Studi ini tidak sekadar mengukur kecepatan semata. Tim peneliti juga ingin mengetahui bagaimana evolusi dan anatomi laba-laba memengaruhi kemampuan berlarinya, termasuk bentuk tubuh dan sifat apa yang membuat laba-laba berlari lebih kencang.

"Performa lari yang kuat, setelah memperhitungkan ukuran tubuh dan garis keturunan yang sama, berkaitan dengan kaki yang relatif lebih panjang dan, pada tingkat lebih kecil, dengan kelompok ekologis. Namun performa itu tidak berkaitan dengan kerampingan kaki atau preferensi bergerak dalam posisi terbalik maupun tegak," tulis para peneliti dalam naskah pracetak mereka, dikutip dari ScienceAlert.

Rekor resmi laba-laba tercepat di dunia sebenarnya masih dipegang laba-laba flic-flac asal Maroko (Cebrennus rechenbergi). Namun gerakan salto ala roda yang dilakukan C. rechenbergi saat terkejut secara teknis berbeda dengan gerakan berlari yang diukur dalam studi ini.

Kecepatan rata-rata tertinggi laba-laba flic-flac tercatat mencapai 1,7 meter per detik.

Riset ini juga menemukan bahwa laba-laba berukuran lebih besar cenderung berlari lebih cepat, meski ada pengecualian pada beberapa spesies. Laba-laba goblin oranye (Oonops pulcher) yang bertubuh mungil disebut hanya 18 kali lebih lambat dibanding si laba-laba pemburu pemegang rekor, meski bobotnya jauh lebih ringan.

Temuan ini menguatkan riset-riset sebelumnya yang menunjukkan hewan tercepat tidak selalu berasal dari yang bertubuh paling kecil atau paling besar. Batasan yang diberikan ukuran tubuh dan anatomi terhadap energi otot disebut menjadi faktor yang lebih menentukan.

"Seekor citah, misalnya, dengan mudah mengalahkan kecepatan lari anjing berukuran serupa," kata David Labonte, ahli biomekanik hewan dariImperial College London.

"Ini tentu karena gaya hidupnya membuat kecepatan menjadi keuntungan, tapi tetap saja dibatasi oleh hukum fisika," tambahnya.

Selain ukuran tubuh, panjang kaki turut menjadi faktor penting penentu kecepatan, bahkan pengaruhnya lebih besar dibanding kerampingan kaki.

Setelah mengukur atau menghimpun data terpublikasi soal kecepatan lari 258 spesies arakhnida, para peneliti kemudian membandingkan kecepatan tersebut dengan pohon keluarga arakhnida untuk melihat bagaimana performa masing-masing garis keturunan laba-laba.

Laba-laba pemburu darat atau ground-hunting spiders tercatat berlari paling cepat dibanding ukuran tubuhnya, yang diduga karena mereka lebih sering aktif mengejar mangsa. Spesies yang secara evolusi lebih baru juga menunjukkan variasi kecepatan paling besar.

"Pola makroevolusi performa lari dengan demikian mencerminkan bukan hanya variasi ukuran tubuh, tetapi juga morfologi kaki yang spesifik terhadap ukuran, diferensiasi ekologis, dan sejarah filogenetik," tulis para peneliti.

(lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]