HP Murah Bakal Makin Langka Imbas Gempuran Teknologi AI

CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 15:30 WIB
Ketersediaan ponsel murah diperkirakan menurun akibat lonjakan biaya memori yang dipicu pengembangan AI
Ketersediaan ponsel murah diperkirakan menurun akibat lonjakan biaya memori yang dipicu pengembangan AI. (Foto: CNN Indonesia/ Loamy Noprizal)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketersediaan ponsel murah di pasar global diperkirakan makin terbatas akibat lonjakan biaya memori yang dipicu pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara besar-besaran.

Menurut laporan terbaru lembaga riset dan konsultasi teknologi Omdia, jumlah ponsel dengan harga di bawah US$400 (sekitar Rp7,24 juta) berpotensi berkurang hingga 22 persen di pasar sepanjang sisa tahun ini hingga 2027.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analis Omdia, Zaker Li, menyebut biaya produksi memori untuk ponsel di kisaran harga tersebut nyaris berlipat ganda antara kuartal ketiga 2025 dan kuartal pertama 2026.

Sementara untuk ponsel di atas US$400, biaya memori meningkat lebih dari 100 persen, menurut laporan Quarterly Smartphone Technology Trends milik Omdia.

Li menyebut sejumlah produsen mencoba menyiasati kenaikan biaya memori dengan memangkas biaya komponen lain, seperti layar, sensor, dan modul frekuensi radio, yang menurutnya belum mengalami kelangkaan pasokan.

Namun, Li menegaskan ruang gerak produsen untuk terus mempertahankan harga ponsel semurah sebelumnya kian menyempit seiring lonjakan cepat biaya memori.

Alhasil, produsen ponsel asal China seperti Oppo, Vivo, Honor, Xiaomi, dan Transsion diperkirakan akan terpaksa menaikkan harga jual produknya.

Menurut Li, langkah ini berpotensi membuat konsumen yang sensitif terhadap harga berhenti membeli ponsel-ponsel tersebut.

Jika permintaan terus menurun akibat kenaikan harga, Li memperkirakan produsen bisa saja menghentikan produksi ponsel kelas bawah sepenuhnya.

Dikutip dari CNET, pembangunan infrastruktur AI yang berlangsung cepat disebut menyerap banyak modul RAM untuk menopang sistem AI, memicu kelangkaan RAM secara global yang berujung pada kenaikan harga ponsel. Hal ini bahkan berpotensi membuat produsen enggan memproduksi ponsel murah karena dinilai tidak lagi menguntungkan.

Wakil Presiden Worldwide Client Devices di IDC, Francisco Jeronimo menyebut sejumlah vendor tengah mempertimbangkan keluar sepenuhnya dari segmen ponsel murah.

"Sejumlah vendor mengatakan kepada kami bahwa mereka mempertimbangkan untuk keluar sepenuhnya dari segmen [ponsel murah] itu, karena jika kamu menjual ponsel seharga US$150 (sekitar Rp2,71 juta) dan setengah dari biayanya adalah memori, di mana keuntungannya? Tidak ada gunanya menjual produk semacam itu, bukan?" kata Jeronimo.

Dalam jangka pendek, Omdia memperkirakan pasar ponsel global akan menyusut 12 persen tahun ini dibanding 2025, seiring proyeksi penurunan angka pengapalan ponsel di bawah US$400 sebesar 22 persen.

Meski begitu, prospek jangka panjang dinilai lebih cerah.

Pada Maret, Jeronimo mengatakan bahwa krisis pasokan RAM diperkirakan mereda pada musim gugur 2027 atau awal 2028, seiring melambatnya pembangunan infrastruktur AI dan meningkatnya produksi RAM.

Sementara itu, Wakil Presiden sekaligus analis utama Forrester, Dipanjan Chatterjee, menyebut konsumen kemungkinan akan bertahan dengan ponsel yang sudah dimiliki dan menghindari membayar lebih mahal untuk upgrade perangkat.

Untuk mengatasi hal ini, Chatterjee menyebut produsen perlu menarik minat konsumen lewat produk non-ponsel lain atau menambah fitur baru pada ponsel guna menggaet minat konsumen untuk membeli.

(lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]