Asteroid Raksasa Melintas Dekat Bumi, Bisa Dilihat 7,6 Miliar Orang
Asteroid raksasa berukuran sebesar gedung pencakar langit bernama Apophis bakal melintas sangat dekat dari Bumi. Objek luar angkasa ini disebut dapat disaksikan oleh miliaran orang.
Pensiunan kartografer Michael Zeiler dan Astronom Rick Fienberg, dalam lokakarya bertajuk 'Apophis T-3 Years' yang diadakan awal bulan ini di University of Padua, Italia, membagikan peta visibilitas mendetail yang melacak jalur lintasan asteroid tersebut di langit Bumi.
Berdasarkan perhitungan mereka, sekitar 90 persen populasi dunia, atau sekitar 7,6 miliar orang, tinggal di wilayah yang secara teori bisa melihat Apophis dengan mata telanjang pada 13 April 2029. Kendati begitu, keberhasilan untuk melihatnya sangat bergantung pada faktor cuaca, seperti ketebalan awan dan tingkat polusi cahaya di masing-masing lokasi.
Asteroid ini tidak akan tampak seperti meteor yang menyala terang saat membelah langit. Para ilmuwan menjelaskan bahwa asteroid ini hanya akan terlihat seperti titik cahaya kecil yang bergerak konstan.
Pada titik terdekatnya, pergerakannya diperkirakan setara dengan lebar Bulan Purnama setiap menitnya.
"Pergerakannya pasti akan menyita perhatian. Kecepatannya lebih lambat dari satelit, ia akan melintasi langit dalam hitungan jam, bukan menit, dan bentuknya hanya akan terlihat seperti satu titik cahaya," kata Fienberg, melansir Space, Senin (6/7).
Jadwal penampakan Apophis
Total Durasi Penampakan: Diperkirakan dapat dilihat langsung dengan mata telanjang selama sekitar 7 jam.
- Pukul 11.00 EDT: Fenomena dimulai, asteroid mulai terlihat di atas langit Australia.
- Pukul 16.35 EDT (Puncak Kecerahan):
- Apophis mencapai titik pendaran cahaya paling terang di atas Kamerun.
- Menjadi momen pemandangan terbaik bagi sekitar 3,9 miliar orang di wilayah Afrika, Asia, Amerika Selatan bagian timur, dan sebagian Eropa.
- Pukul 17.45 EDT (Jarak Terdekat):
- Asteroid mencapai titik terdekatnya dengan Bumi, melintas di ketinggian sekitar 31.600 kilometer di atas Atlantik Utara.
- Posisinya tergolong sangat dekat, bahkan lebih rendah daripada orbit satelit geostasioner Bumi.
- Momen langka ini dapat disaksikan oleh sekitar 2 miliar orang di sebagian besar wilayah Amerika Selatan, Amerika Serikat, Afrika, dan sebagian Eropa.
- Pukul 18.00 EDT: Fenomena berakhir di atas Samudra Atlantik Utara.
Richard Binzel, profesor sains planet di Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam sejarah manusia dapat memprediksi kemunculan asteroid yang bisa dilihat langsung saat melintasi Bumi.
"Ini akan menjadi momen pengalaman kolektif bagi umat manusia" kata Binzel.
Apakah asteroid ini mengancam Bumi?
Binzel memastikan bahwa asteroid raksasa ini akan melintas dengan aman. Kepastian ini diperoleh berkat pengamatan super akurat yang dilakukan selama lebih dari dua dekade.
Saat pertama kali ditemukan pada 2004, kalkulasi awal menunjukkan peluang tabrakan sebesar 1 banding 37 pada tahun 2029. Ini menjadikannya sebagai salah satu asteroid paling berbahaya yang pernah terdeteksi saat itu.
Namun, menurut NASA, berdasarkan pengamatan lanjutan yang terus dilakukan berhasil memperjelas jalur orbitnya, sekaligus memastikan tidak ada ancaman tabrakan pada tahun 2029 maupun selama satu abad ke depan.
Para ilmuwan kini melihat fenomena ini sebagai kesempatan langka untuk mengamati bagaimana gaya gravitasi Bumi memengaruhi struktur asteroid dari jarak yang sangat dekat.
Gaya gravitasi Bumi diperkirakan akan menarik asteroid tersebut ke jalur orbit baru mengelilingi Matahari tanpa menimbulkan bahaya di masa depan. Namun, selama proses transisi tersebut, gaya gravitasi yang sama berpotensi meregangkan atau menekan asteroid hingga memicu tanah longsor di permukaannya, atau bahkan menyingkap material asli yang selama ini tersembunyi di balik lapisan luarnya.
Kemungkinan lainnya, fenomena ini tidak memberikan dampak apa pun pada fisik asteroid.
"Kami belum tahu pasti apa yang akan terjadi. Bisa jadi Apophis melintas begitu saja tanpa terpengaruh, atau mungkin kita akan melihat perubahan yang signifikan," jelas Binzel.
"Justru karena itulah kita harus mengamatinya. Apa pun hasilnya, kita akan belajar banyak dari fenomena ini," tambah dia.
Para ilmuwan berencana memantau pergerakan asteroid ini di observatorium di Kepulauan Canary, Spanyol. Lokasinya yang berada di Samudra Atlantik dinilai sangat strategis untuk mengamati titik terdekat asteroid, dan didukung oleh peluang kondisi langit yang sangat cerah.
(dmi)