Cetak Rekor Baru, 'Matahari Buatan' China Siap Hasilkan Listrik 2030

CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 14:08 WIB
Proyek 'Matahari buatan' China ditargetkan menghasilkan listrik fusi pertama pada 2030, dengan kemajuan signifikan dalam teknologi superkonduktor.
Proyek 'Matahari buatan' China ditargetkan menghasilkan listrik fusi pertama pada 2030, dengan kemajuan signifikan dalam teknologi superkonduktor. (Foto: AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Proyek reaktor fusi Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) atau 'Matahari buatan' yang dikerjakan China, mencetak rekor baru lagi. Proyek ini ditargetkan dapat menghasilkan listrik pada 2030.

Dua magnet superkonduktor buatan dalam negeri yang dirancang untuk reaktor fusi dilaporkan sudah lolos uji teknis dan pengujian beban penuh. Alat eksperimen fusi ini dijadwalkan rampung pada akhir tahun 2027, dengan target demonstrasi listrik berbasis fusi nuklir pertama di negara tersebut sekitar tahun 2030.

Menurut laporan China Central Television (CCTV), yang dikutip Global Times pada Minggu (5/7), mengungkap bahwa dua magnet superkondutor utama untuk Matahari buatan ini telah mencapai tahap akhir pengembangan dan pengujian parameter penuh. Pencapaian ini menandai lokalisasi menyeluruh atas semua teknologi inti dalam proyek tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Qin Jinggang, Wakil Direktur Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (ASIPP), menyampaikan bahwa saat timnya ditunjuk untuk proyek ini enam tahun lalu, mereka diberi dua target, yakni meningkatkan performa dan menekan biaya.

Setelah enam tahun riset dan pengembangan, tim tidak hanya berhasil meningkatkan performa alat secara signifikan dan stabil, tapi juga mampu mendirikan seluruh rantai pasok serta peralatan produksi.

Biaya bahan superkondutor itu kini juga turun drastis. Menurut Qin, bahan yang dulunya berharga sekitar 400 yuan atau sekitar Rp1 juta per meter, kini harganya turun menjadi sekitar 100 yuan Rp267 ribu.

Kumparan yang baru diuji ini menunjukkan lompatan skala yang signifikan. Dibanding dengan desain sebelumnya, ukurannya jauh lebih besar dari segi berat, dimensi, maupun kapasitas penyimpanan energi. Berat satu kumparan melonjak dari 350 ton menjadi 580 ton.

Qin menjelaskan, hal ini membuka jalan bagi perangkat fusi yang mampu beroperasi pada tingkat energi yang jauh lebih tinggi.

Meski demikian, Qin mengingatkan bahwa keberhasilan lolos uji coba terbaru ini baru mencakup 80 persen dari seluruh perjalanan. Tantangan berikutnya adalah memasang kumparan tersebut ke dalam perangkat dan menguji stabilitas jangka panjang serta masa pakainya di bawah kondisi operasional yang sangat berat.

"Baru setelah lolos pengujian tersebut, kita bisa benar-benar mengeklaim telah sepenuhnya menguasai teknologi superkonduktor suhu tinggi," ujar dia.

Proyek Matahari buatan ini sudah mencatatkan sejumlah rekor dalam perjalanannya. Pada Januari 2025, proyek ini berasil mempertahankan suhu plasma sebesar 100 juta derajat Celsius selama 1.066 detik, yang sekaligus memecahkan rekor dunia baru.

Terobosan terbaru pada magnet superkonduktor ini juga berhasil mengatasi salah satu hambatan paling menantang dalam jalur menuju pembangkit listrik fusi praktis, yang merupakan buah kerja keras lintas generasi para ilmuwan China sejak tahun 1980-an.

"Fusi nuklir tidak diragukan lagi adalah salah satu teknologi yang paling sulit untuk dikuasai. Namun, setelah puluhan tahun berproses, kami akhirnya mulai melihat titik terang. Target kami tetap tidak berubah: mendemonstrasikan produksi listrik pertama dari fusi nuklir sekitar tahun 2030," ujar Qin.

(dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]