Jelang Puncak Kemarau, Wilayah Ini Tak Dapat Hujan Lebih dari 2 Bulan

CNN Indonesia
Selasa, 21 Jul 2026 07:34 WIB
Sejumlah wilayah Indonesia dilanda kekeringan, dengan beberapa di antaranya mengalami hari tanpa hujan hingga 60 hari.
Sejumlah wilayah Indonesia dilanda kekeringan, dengan beberapa di antaranya mengalami hari tanpa hujan hingga 60 hari. (Foto: CNN Indonesia/Febria Adha L)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sejumlah wilayah mengalami kondisi kering dengan beberapa di antaranya mengalami hari tanpa hujan bahkan lebih dari 60 hari.

Menurut analisis iklim BMKG, sebagian wilayah Indonesia mengalami hari tanpa hujan (HTH) bervariasi, dari kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

HTH dengan kategori sangat panjang atau durasi 31-60 hari terdapat di 331 titik pengamatan yang didominasi di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta di sebagian kecil wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.

Sementara itu, HTH dengan kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari terdapat di 6 titik pengamatan, dengan rincian 1 titik di Jawa Tengah, 2 titik di DI Yogyakarta, dan 3 titik di Jawa Timur.

BMGK mendefinisikan hari tanpa hujan sebagai periode berturut-turut di mana suatu wilayah tidak mengalami hujan atau hanya menerima curah hujan yang sangat rendah atau kurang dari 1 mm.

Dominasi HTH kategori sangat panjang yang belakangan terjadi dikarenakan musim kemarau mulai memasuki puncaknya.

Sebanyak 83 ZOM, atau 12.26 persen wilayah Indonesia, diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada bulan Juli ini; dan sebanyak 369 ZOM, atau 48.84 persen wilayah Indonesia, diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus.

Sementara itu, 169 ZOM, atau 25.41 persen, pada bulan September 2026.

Selain itu, pemantauan kondisi iklim global menunjukkan El Niño event masih aktif dengan nilai anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 sebesar +1.47.

"Keberadaan El Niño tersebut semakin memperkuat dampak atmosfer kering yang biasa terjadi selama periode musim kemarau di wilayah Indonesia," tulis BMKG dalam Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 21-27 Juli 2026.

Meski puncak musim kemarau semakin dekat, pengaruh dinamika atmosfer skala regional masih memicu pertumbuhan awan hujan signifikan di wilayah Indonesia.

Pada periode 15-19 Juli, hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem masih tercatat di sebagian wilayah, seperti di Sumatera Barat (152.0 mm/hari), Sumatera Utara (137.0 mm/hari), Jawa Barat (91.0 mm/hari), Aceh (90.5 mm/hari), Kalimantan Utara (75.0 mm/hari), dan Riau (73.0 mm/hari).

BMKG mengatakan kondisi tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang melintasi Sumatra bagian utara hingga tengah serta Kalimantan.

Aktivitas gelombang atmosfer tersebut meningkatkan aliran uap air yang masuk ke wilayah Indonesia, khususnya bagian utara dan barat.

Kondisi serupa diperkirakan masih akan berlangsung hingga sepekan ke depan.

"Meskipun pola cuaca kering diprakirakan lebih dominan, hujan dengan intensitas bervariasi masih berpeluang terjadi secara lokal di sejumlah wilayah Indonesia," jelas BMKG.

(lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]