Kenapa Raksasa Teknologi AS Dukung Model AI Open Source ala China?
Sejumlah raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), termasuk Nvidia, Microsoft, Meta, dan IBM, menyatakan dukungan terhadap model kecerdasan buatan (AI) terbuka atau open source.
Dukungan itu disampaikan melalui sebuah surat kepada anggota parlemen AS di tengah perdebatan mengenai model AI terbuka yang lebih sulit diatur, seperti yang dirilis sejumlah perusahaan China, dan model tertutup yang dikendalikan perusahaan tertentu, seperti OpenAI dan Anthropic.
Surat tersebut diunggah di platform X dan ditandatangani sekitar dua lusin perusahaan serta kelompok.
CEO Nvidia Jensen Huang yang baru membuat akun X dan menjadikan surat tersebut unggahan pertamanya meminta pembuat kebijakan tidak terburu-buru membatasi model terbuka.
"AI akan mentransformasi setiap industri, menjadi pendorong bagi setiap perusahaan, dan dikembangkan oleh setiap negara. Model terbuka memperkuat keamanan dan siberkeamanan, mempercepat inovasi dan penyebarannya, serta mendukung kedaulatan," tulis Huang di X, Jumat (24/7).
"Dunia membutuhkan baik model tertutup terdepan maupun model terbuka terdepan," tambahnya.
Menurutnya, pembatasan dini berpotensi menghambat persaingan atau mendorong inovasi berkembang di luar AS.
"Pembuat kebijakan harus menghindari pembatasan dini terhadap model terbuka yang menghambat persaingan atau mendorong inovasi ke luar negeri," demikian isi surat tersebut, dikutip dari Reuters, Minggu (26/7).
Salah satu alasan para perusahaan teknologi ini mendukung model terbuka adalah biaya penggunaan AI.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pemimpin bisnis Silicon Valley menyuarakan keberatan terhadap biaya model tertutup.
CEO Microsoft dan perusahaan kontraktor pertahanan Palantir Technologies sebelumnya mengatakan model terbuka yang dapat dijalankan pelanggan di pusat data mereka bisa membantu mengendalikan biaya penggunaan AI.
Perusahaan teknologi juga menyoroti pembatasan penggunaan yang diterapkan OpenAI dan Anthropic pada model mereka.
Sementara itu, Hugging Face, platform kolaborasi pengembangan AI yang diretas oleh model OpenAI yang menyimpang, mengatakan harus menggunakan model terbuka asal China untuk mempertahankan sistemnya.
Menurut Hugging Face, model tertutup memiliki pembatasan untuk digunakan dalam pekerjaan keamanan siber.
Di sisi lain, anggota parlemen AS mulai menyoroti risiko model AI yang sulit dikendalikan.
Setelah serangan siber yang melibatkan model OpenAI tersebut, sejumlah anggota parlemen mengusulkan aturan yang mewajibkan tombol pemutus atau kill switch pada model AI.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga dilaporkan mempertimbangkan sanksi terhadap pembuat model terbuka China terkait dugaan pencurian teknologi model tertutup milik AS.
Lebih lanjut, surat tersebut mengakui kekhawatiran mengenai pencurian teknologi. Namun, mereka menilai masalah tersebut sebaiknya ditangani melalui kerangka hukum dan komersial yang terarah, bukan pembatasan luas.
"Model tertutup tidak secara inheren aman. Model tersebut dapat ditembus, disalahgunakan, atau gagal dengan cara yang tidak dapat dideteksi pihak luar," kata para penandatangan surat.
Menurut mereka, model dengan bobot terbuka memungkinkan komunitas peneliti dan pengembang memeriksa perilakunya, menemukan kerentanan, membangun perlindungan, serta memperbaikinya dari waktu ke waktu.
(lom)