El Nino Masuk Level Kuat, Kenapa Sejumlah Wilayah Masih Hujan?

CNN Indonesia
Sabtu, 01 Agu 2026 07:40 WIB
El Nino kuat mempengaruhi musim kemarau dan cuaca Indonesia, tetapi hujan lebat masih terjadi di beberapa daerah. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena El Nino sudah memasuki level kuat, tetapi sejumlah daerah masih mengalami hujan dengan intensitas yang bervariasi. Hal ini disebabkan oleh sejumlah fenomena atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan dalam skala lokal.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi secara lokal di sejumlah wilayah pada 27-29 Juli 2026.

Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatera Barat dengan 126 milimeter per hari. Hujan juga tercatat di Kepulauan Riau sebesar 97 milimeter per hari dan Aceh 83,5 milimeter per hari.

Sementara itu, Jawa Barat mencatat curah hujan 53,4 milimeter per hari dan Sumatera Utara 52,6 milimeter per hari.

Hujan tersebut didukung aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang memengaruhi sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.

Anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif pada periode yang sama juga mengindikasikan peningkatan tutupan awan yang mendukung pembentukan awan hujan.

Dengan demikian, musim kemarau dan penguatan El Nino tidak serta-merta membuat hujan berhenti sepenuhnya di seluruh wilayah Indonesia.

Hujan masih dapat terjadi secara lokal ketika dinamika atmosfer mendukung pertemuan massa udara dan pertumbuhan awan.

BMKG menyebut perkembangan iklim global masih mendukung berlanjutnya cuaca kering di Indonesia.

Indeks Niño 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26, sedangkan Southern Oscillation Index (SOI) berada pada -28,2. Kedua indikator tersebut menandakan El Nino kuat yang diprakirakan masih dapat mengalami penguatan.

El Nino berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut terlihat dalam prakiraan Dasarian I Agustus 2026. Curah hujan kategori rendah diprediksi mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia.

Sementara itu, sekitar 8,57 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah.

BMKG tidak memprakirakan adanya wilayah dengan curah hujan kategori tinggi maupun sangat tinggi pada periode tersebut.

"Meskipun demikian, peluang hujan tetap terdapat di sejumlah wilayah Indonesia," kata BMKG dalam prakiraan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 31 Juli-6 Agustus 2026.

Aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin yang melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan diprakirakan mendukung pertumbuhan awan hujan.

Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial juga berpotensi memengaruhi wilayah Indonesia bagian timur.

Selain itu, Bibit Siklon Tropis 94W terpantau berada di Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat.

Keberadaan bibit siklon tersebut dapat membentuk pola konvergensi dan konfluensi di sekitar Laut Filipina serta wilayah di sekitar sirkulasinya.

Kondisi itu mendorong pertemuan dan penumpukan massa udara sehingga hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpeluang terjadi secara lokal.

Peluang tersebut terutama terdapat di wilayah yang dipengaruhi gelombang atmosfer, bibit siklon tropis, serta daerah konvergensi dan konfluensi.

Selain hujan, peningkatan kecepatan angin permukaan diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah perairan dalam beberapa hari ke depan.

Wilayah tersebut meliputi sebagian Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, serta Samudra Hindia selatan Jawa hingga selatan Nusa Tenggara Timur.

Peningkatan angin juga berpotensi terjadi di Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafura.

Bibit Siklon Tropis 94W turut berpotensi meningkatkan kecepatan angin dan tinggi gelombang di perairan utara Indonesia.

Oleh karena itu, masyarakat dan pelaku aktivitas kelautan diminta mewaspadai potensi gelombang tinggi serta angin kencang di wilayah perairan yang terdampak.

(lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK