Dua Mumi Alami di Chili Simpan Jejak Virus Cacar Kuno

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 06:01 WIB
An ancient Inca mummy is displayed at a museum in Cusco, Peru, July 15, 2025. Scientists have recovered smallpox viral DNA from two ancient Inca mummies found in northern Chile, according to a new study. Picture taken with a mobile phone. REUTERS/Wil
Ilmuwan menemukan DNA virus cacar dari mumi alami dua orang zaman kolonial Spanyol di Chili, bukti molekuler langsung pertama di Amerika. (REUTERS/Will Dunham)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dua orang yang meninggal pada awal masa kolonial Spanyol di sebuah komunitas Inca di Chili utara ditemukan sebagai mumi alami yang menyimpan DNA virus cacar, bukti molekuler langsung pertama soal penyakit yang ikut menghancurkan populasi penduduk asli Amerika. Studi ini dipublikasikan Kamis (30/7) di jurnal Science.

Kedua individu itu hidup di wilayah selatan bekas Kekaisaran Inca, di lokasi dekat pesisir Pasifik tak jauh dari Teluk Camarones, Chili. Satu di antaranya perempuan berusia 30-35 tahun, satu lagi laki-laki berusia 18-20 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mumi alami, bukan dibalsem

"Kedua individu ini dimumikan secara alami dan dikubur dalam bungkusan, dibalut selimut wol unta, disertai berbagai barang kubur," kata Constanza de la Fuente Castro, antropolog biologi Universidad de Chile yang mendalami DNA kuno dan menjadi salah satu penulis studi, dikutip CNN.

"Penting untuk membedakan mumifikasi buatan dan alami. Meski tubuh mereka dibalut kain, mereka tidak diawetkan secara kimiawi atau fisik seperti mumi Mesir," ujarnya.

Peneliti tak bisa memastikan kapan persis keduanya terinfeksi, tapi mempersempitnya ke rentang yang berpusat di abad ke-16. Spanyol di bawah Francisco Pizarro menumbangkan kaisar Inca pada 1530-an.

Genom virus dari kedua individu itu hampir identik, menunjukkan keduanya terinfeksi pada wabah yang sama atau oleh galur virus yang sama-sama beredar saat itu.

Selain menewaskan jutaan orang, cacar juga memukul psikologis penduduk asli. Penyebarannya yang cepat dan mematikan, demam tinggi, luka berair berdarah, cacat parah, membuat banyak dari mereka merasa dewa-dewa tradisional telah meninggalkan mereka atau tak berdaya melawan kekuatan yang menyertai penjajah Spanyol.

Wabah dari Dunia Lama

Bruno Romero Gonzalez, mahasiswa doktoral Trinity College Dublin dan penulis utama studi mengatakan wabah cacar pertama yang tercatat di Amerika terjadi di Pulau Hispaniola pada 1518, saat itu tengah diduduki Spanyol. Hispaniola kini terbagi antara Haiti dan Republik Dominika.

Di Amerika, cacar dan penyakit virus lain menewaskan, menurut sejumlah estimasi, sekitar 90 persen penduduk asli, yang disebut ikut membantu Spanyol menaklukkan Kekaisaran Aztek, kota-kota Maya, dan Kekaisaran Inca yang membentang dari Ekuador hingga Chili.

Shigeki Nakagome, geneticist Trinity College Dublin yang juga penulis studi, menyebut cacar sebagai salah satu penyakit menular paling mematikan dalam sejarah manusia, diperkirakan menewaskan ratusan juta orang di seluruh dunia sebelum akhirnya diberantas lewat kampanye vaksinasi global pada 1980.

Peneliti menemukan patogen ini mengalami evolusi genetik dalam periode panjang hingga abad ke-16, namun laju itu melambat selama epidemi cacar besar yang menyertai kolonisasi Spanyol, dan baru kembali cepat setelah vaksin pertama diperkenalkan pada 1796.

Kasus cacar alami terakhir tercatat di Somalia pada 1977. Tiga tahun kemudian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan cacar sebagai penyakit menular manusia pertama -- dan satu-satunya hingga kini -- yang berhasil diberantas di seluruh dunia.

"Praktik penguburan dalam bungkusan seperti ini sudah ada sebelum era Inca dan lazim ditemukan pada periode-periode sebelumnya," kata de la Fuente Castro.

(fea)


[Gambas:Video CNN]